Sensitif, Insan Kreatif di Planet Kami Takut Berkarya

1
[Sajid Algar]

Ofensif bukan sesuatu yang kami terima, tapi sesuatu yang kami ambil. Sering kami ambil terlalu banyak, lantas kekenyangan, sampai susah bergerak. Membatu, otak pun buntu.

Salah satu alasan kami senang menumpang hidup di planet Bumi adalah kreatifitas. Akal dan pikiran umat manusia Bumi begitu lancar memuntahkan ide. Kegiatan kreatif mereka selalu berlalu lalang tanpa henti, entah bagaimana bisa. Berbeda jauh dari planet kami, Sigur, yang sudah mati karya.

Baca juga: Mesin Waktu – Alien Mengenal Suku Analog

Sebenarnya planet kami tidak benar-benar mati karya. Bukan mati karya secara harfiah. Umat Sigurian (penduduk planet Sigur) masih senantiasa berkarya seni. Hanya saja hasil karya mereka tidak lagi pernah diperkenalkan pada khalayak. Cuma disimpan dalam lemari, hingga pagi besok hari, lalu berulang sampai dicium bakteri.

Bukan tanpa alasan para seniman dan pelaku kreatif di planet Sigur berlaku seperti penakut. Sebelumnya, planet kami ramai oleh seni dan kegiatan kreatif. Ramai sekali. Sampai-sampai Perserikatan Bangsa-Bangsa di planet Sigur harus kehabisan akal bagaimana caranya menampung laju kreatif umat Sigurian.

Tapi kondisi berubah cepat ketika kami mengenal kata ofensif. Ibarat hipster, kami seketika jatuh hati pada kata tersebut. Menggunakannya hampir pada setiap kesempatan. Bahkan sampai di luar kendali, sampai menggunakannya benar-benar untuk menyerang. Menyerang para seniman dan insan kreatif di planet Sigur.

Sejak kata “ofensif” menjadi populer, pelaku-pelaku seni di planet Sigur sering menjadi sasaran empuk suara-suara miring Sigurian konservatif. Kontroversi bukan lagi fantasi, justru memanaskan televisi. Satu per satu karya seni dinilai sebagai senjata perang terhadap komunitas-komunitas tertentu.

Mulai dari ilustrator, komikus, animator, sutradara film, musisi, novelis, hingga pendongeng picisan, tidak ada satu pun yang luput dari cap “ofensif”, juga menyerang tajam.

Serangan terbesar terjadi ketika seorang penyair di planet kami menulis puisi tentang cinta segitiga di antara Sigurian, vampir, dan serigala jadi-jadian. Mereka adalah Edward Gluten, Bella Cuanki, dan Jacob Plek, tiga tokoh utama dari cerita fiksi ‘Sigur-Sigur Serigala’ yang melegenda di planet kami. Saking melegendanya, sampai-sampai dipercaya sebagai kisah nyata. Dipercaya menjadi pedoman hidup.

Puisi yang ditulis oleh si penyair begitu indah. Setidaknya begitu menurut kami, sesama Sigurian. Ia menulis syair elok, tentang pusing di kepalanya, bingung tentang Sigurian yang obsesif mendewakan ‘Sigur-Sigur Serigala’.

Sayang, si penyair sedang lupa. Umat Sigurian juga sedang rajin-rajinnya menggunakan kata “ofensif” hingga sering merasa sensitif. Para pemuja Edward, Bella, dan Jacob pun lantas meradang, merasa idolanya diserang. Gelombang kritik, protes keras, dan caci maki segera menjadi santapan si penyair. Pagi, siang, malam, hingga akhirnya dipolisikan, duduk mencium lutut di bilik penjara.

Bagai dibelai angin musim dingin, aktivitas seni dan budaya kreatif di planet kami langsung berlagu lesu setelah si penyair dinilai provokatif. Seketika muncul awan gelap dan atmosfer ketakutan di atas kepala para pelaku seni. Waspada bila kreativitas mereka menjadi bumerang, disangka menyerang.

“Kami cuma berkarya. Menyampaikan rasa, pendapat, isi kepala kami, apa yang kami lihat, dengar, dan pahami. Berkeluh kesah, bercerita, dan bukan menyerang,” keluh Jar Jar Blink-182, komikus yang dulu populer di planet kami. Tentu Jar Jar mengeluh dalam bahasa Sigur. “Yang berpikir kami menyerang, ya Sigurian sendiri. Mereka sendiri yang pilih menerima seni kami sebagai serangan. Lah kami cuma berekspresi.”

“Kalau hampir setiap karya seni kami dinilai menyerang, lebih baik kami simpan karya kami di dalam laci saja. Nanti kami ditangkap. Kalau ditangkap, nanti kami tidak bisa buka Fesbuk,” ujar si penyair menimpali, setelah didesak meminta maaf agar terbebas dari hakiman massa Sigurian.

Seminggu setelah tragedi si penyair, planet Sigur benar-benar hampa. Tidak ada karya seni, tidak ada kreativitas yang berkeliaran di planet kami. Semua membatu, pikiran kami bertemu jalan buntu. Hari-hari kami jadi tanpa inspirasi.

Beruntung kami singgah di planet Bumi. Seniman, budayawan, dan insan-insan kreatif lainnya di planet Bumi punya kebebasan berekspresi. Bebas berkarya. Mau berkesenian macam apapun, melukis atau menulis tentang apa saja, masih dapat diterima dengan asyik, dengan akal terbuka.