Mesin Waktu: Alien Mengenal Suku Analog

1
[Sajid Algar]

Bagi manusia-manusia Suku Analog, realitas bukanlah digital, bukan “1” atau “0”, tapi analog. Sesuatu yang bertahap. Butuh waktu dan telaten.

Ada yang menarik pada beberapa tahun belakangan di pulau Bali. Umat pencinta analog bukan hanya muncul dari industri musik, seperti Suara Disko atau Kaset Kulcha. Tapi juga dari industri pemanja mata, ialah fotografi. Entah memang terikat oleh benang merah – saling menginspirasi satu sama lain, atau memang sudah hukum alam.

Baca juga: Mesin Waktu – Alien Mengenal Kaset Kulcha

Masyarakat analog memang anomali di antara arus digital yang deras. Suku Analog adalah salah satu dari anomali tersebut. Sekelompok manusia pencinta rekam gambar kasar, bukan halus bening seperti cetak foto kamera digital. Para penggila kamera analog, juga pencinta kerumitan dan kompleksitas yang mengikutinya.

Brutal memang kalau kami menyebut hasil-hasil foto dari kamera analog sebagai gambar kasar. Tapi “kasar” justru merupakan nilai yang mendekatkan fotografer-fotografer Suku Analog dengan realitas. Lewat roll film mereka mendapat hasil yang lebih autentik.

Brutal memang kalau kami menyebut tangkapan lensa kamera analog sebagai gambar yang kasar. Tapi “kasar” justru nilai yang mendekatkan fotografer-fotografer Suku Analog dengan realitas. Mereka lebih bermain terampil ketika mengambil gambar, bukan lihai memanipulasi potret dari balik layar komputer.

“Kita nyimpen gambar tuh di roll film, bukan pake memory card – kalau waktu ngambil gambar aja udah gagal, ya gagal, nggak bisa dihapus, udah direkam. Filmnya rugi, duit juga rugi. Kalau pake film, kesempatan shoot tuh ­cuma sekali aja. Beda sama digital, bisa ngambil banyak – kalau salah ngambil, bisa langsung dihapus juga. Belum lagi nanti bisa di-edit lagi di Lightroom atau Photoshop,” cerita Ayik, salah seorang anggota Suku Analog.

Merekam visual dengan kamera analog memang perlu sentuhan khusus. Ayik – yang sebenarnya juga seorang fotografer kamera digital – pun merasakan nyata perbedaan tersebut. “Kita, ya, mau nggak mau, untungnya juga jadi terlatih lebih teliti lagi. Pelan-pelan banget kalau mau ngambil gambar. Roll film sama obat cucinya tuh susah nyari. Mahal pula,” lanjutnya sambil tertawa. “Kita memang suka menyiksa diri.”

[Surya Atmaja]

Sejalan dengan personalitas fotografer analog, eksistensi komunitas Suku Analog juga memerlukan waktu yang lama untuk sampai pada posisi seperti sekarang. Bermula dari segelintir manusia saja di tahun 2012, kini mereka telah dipadati lebih dari 60 manusia pencinta foto dari roll film.

“Saling ketemu sebenernya udah jauh lebih awal sebelum tahun 2012, tahun 2011 atau 2010 mungkin. Sempet pake nama-nama yang lain juga, tapi di tahun 2012 akhirnya kita resmi pilih nama Suku Analog,” jelas Popo menimpali. Seperti Ayik, Popo juga sudah lama bergulat dengan dunia fotografi, bersama Suku Analog.

“Dulu, kira-kira cuma ber-20-an aja. Kita coba bikin pameran, gathering rutin, hunting bareng, workshop. Pelan-pelan, yang antusias semakin nambah. Udah nambah, kita yang vakum kegiatan,” ujar Popo melantur, sebelum tertawa kecil. Ayik pun ikut tertawa. Kami ikut tertawa sopan. Memang susah terjebak di antara dua manusia yang sedang bernostalgia. Apalagi kami memang bukan seorang manusia. Kami alien.

Meski hobi mereka sudah berbalas antusias, aktivitas Suku Analog memang sempat terhenti di tahun 2014, hingga pertengahan tahun 2015. Bukan akibat ditinggal anggota, tapi memang rutinitas di luar komunitas memaksa setiap anggota menomorduakan sementara Suku Analog.

“Dari awal mulai, kita sepakat Suku Analog bukan organisasi, tapi komunitas. Setiap aktivitas, setiap kegiatannya memang pake asas kekeluargaan dan liburan. Namanya juga hobi. Buat kita, ngumpul sama Suku Analog tuh liburan. Mungkin dua tahun lalu kita vakum ya gara-gara lagi sibuk kerja, terus lupa liburan,” Popo kembali mencoba memutar waktu ke belakang. Entah kisah dari bibirnya bercanda atau tidak.

[Surya Atmaja]

Bercanda atau tidak, nyatanya apapun aktivitas Suku Analog benar berdasar kepada kedua kata – keluarga dan liburan. Mereka bahkan tidak memiliki satu pun aturan yang mengaburkan semangat keakraban di dalam komunitas. Semua berjalan sebagaimana mestinya di lingkaran pertemanan.

Hunting pake kamera analog ‘kan perlu hati-hati ya, perlu teliti. Belum lagi waktu nyuci negatif-nya. Banyak tahap, dan semuanya perlu telaten, perlu hati-hati. Kalau atmosfer di tengah komunitasnya udah menekan, memaksa, pasti susah ya. Hobi tuh buat liburan,” ujar Ayik sambil tertawa.

Kamera analog dan roll film memang unik. Pelaku-pelakunya bukan sekadar terjebak gairah nostalgia dan estetika seni. Realita yang ditawarkan kamera analog bukan hanya mesin waktu, tapi juga hangat. Berbanding terbalik dengan budaya digital, kombinasi “1” dan “0” yang katanya menjauhkan antara satu manusia dengan manusia lainnya.