Alien Pergi ke Paserba Tumpah Ruah #13

0

Kami baru saja terjebak di tengah keramaian yang eksotis di muka Bumi. Mereka, para manusia, menyebutnya Paserba Tumpah Ruah.

Kami sedang kelimpungan mencari album ‘Rumours’ dan ‘The Four Trees’ di gelaran Record Store Day Bandung 2017 ketika mendengar nama Pasar Serba Ada Tumpah Ruah untuk pertama kalinya. Seorang penjaga lapak sempat menyarankan agar kami turut mencoba salah satu kegiatan rutin di Gudang Sarinah Ekosistem tersebut.

“Di sana semuanya ada, Yen! Pasar serba ada, banyak yang jualan di sana, rame! Coba aja, siapa tahu bisa ­nemu barang-barang keren di sana!” suruh si penjaga lapak kebingungan – kenapa ada alien memburu album dari Fleetwood Mac dan Caspian.

Baca juga: Alien Pergi ke Record Store Day Bandung

Maka bergegaslah kami mencari tahu seluk beluk Paserba Tumpah Ruah. Beruntung kami ingat, kami kenal seorang humanoid yang pernah menemukan kami di saat pertama kali terdampar di planet Bumi. Dia pernah membantu kami untuk mendesain ulang UFO kami yang hancur akibat pendaratan darurat.

Bekerja di salah satu kantor pemerintahan ibukota Indonesia, Jakarta, humonoid satu ini juga mempunyai bakat melukis berbagai jenis kendaraan. Pesawat piring kami pun didesain olehnya, silakan kalian lihat sendiri di halaman Instagram, dia menggunakan nama @sketchrideproject sebagai nama samaran. “Nama asli saya kurang menjual, Yen,” jelasnya pada kami dengan gemetar.

Sketch Ride Project ternyata sudah beberapa kali singgah di gelaran Paserba Tumpah Ruah. Pernah hanya menjadi pengunjung saja, pernah juga terlibat sebagai pemilik tenant. Benar, dengan bakat seni melukisnya dia juga mencoba menjadi manusia materialistis yang utuh.

“Ayo, ikut jualan aja! Kalian pasti bisa lihat lebih dekat kalo ikut jualan. Sekalian cari uang untuk upgrade UFO kalian, supaya bisa terbang pulang ke gugus Centauri,” goda Sketch Ride Project berpura-pura baik, di saat kami bertanya-tanya tentang Paserba Tumpah Ruah. Kami tahu dia cuma takut menjaga tenant sendirian.

Hari Minggu pagi, 4 Februari 2017 kemarin, kami pun bersiap-siap pergi ke Gudang Sarinah Ekosistem bersama Sketch Ride Project.

Sesampainya di lokasi, kami diarahkan untuk menempati booth bernomor 256, setelah sebelumnya lebih dulu mendaftar pada pihak penyelenggara. Bukan posisi terbaik untuk berjualan, tapi sudah cukup menyadarkan kami bahwa akan ada ratusan manusia dan ratusan lapak lainnya di bangunan tua Gudang Sarinah Ekosistem pada siang nanti.

Bersama Sketch Ride Project, kami lantas menyiapkan tenant, memamerkan barang-barang yang akan kami jual. Sejumlah karya seni berupa lukisan, kolase, pin, sticker, dan lainnya.

Sesekali kami mengintip tenant lainnya juga, ada banyak juga yang sama-sama menjajakan berbagai macam artwork, kemudian juga ada yang menjual pakaian bekas, peralatan rumah tangga, tote bag, pernak-pernik alat tulis kantor, aksesoris pakaian, bahkan sampai makanan dan minuman.

Benar-benar semuanya ada. Nama “Tumpah Ruah” bukan cuma ide fiksi.

Yang menarik, adalah antusias pengunjung. Mereka yang datang, bukan sekadar mampir atau liat-liat saja. Sambil memburu item-item yang memang mereka incar, mereka juga menyempatkan waktu untuk memahami setiap benda unik yang berjejeran di meja-meja tenant.

Kami, yang berjualan di sudut gelap saja berhasil menarik perhatian sejumlah pengunjung. Ada yang berusaha mengerti kolase Freddie Mercury dan Madchester, ada yang terkesima oleh desain-desain kendaraan milik Sketch Ride Project, dan ada juga yang termakan bujuk rayu pin-pin kapal selam berwarna kuning – representasi track “Yellow Submarine” dari The Beatles.

Untung saja penyamaran kami pada hari Minggu itu bekerja dengan baik, mereka tidak menyadari kalau kami berwujud asli alien. Bisa-bisa mereka mengira kami adalah salah satu item yang dijual.

Menuju malam, durasi Paserba Tumpah Ruah semakin mendekati akhirnya. Tapi ramai di Gudang Sarinah Ekosistem belum tampak hilang sedikit pun. Justru semakin eksotis dan indah.

Kami ingat ucapan Didi dari unit post-rock UTBBYS dahulu, “[..] rilisan fisik adalah penyambung nyawa bagi setiap musisi.” Seperti Record Store Day, Paserba Tumpah Ruah juga bisa menjadi “penyambung nyawa” bagi industri-industri kreatif kelas rintisan.

Angkat topi.