Berkenalan dengan Alien Yargusec di Ngaostik Bojonegoro

0

Alien datang ke Bumi, dan dimediasi oleh sebuah acara bernama Ngaostik. Sosoknya memang asing, awalnya. Namun semakin dekat kalian berkenalan, semakin paham kalian bahwa bisa jadi, dia tak benar-benar asing.

ALIEN itu bernama Yargusec. Ia datang saat gelar Ngaostik kelima pekan lalu, Sabtu malam, 14 April 2018, di Gedung Pepeika Jalan Veteran Bojonegoro. Ngaostik adalah gelar acara seputar baca buku dan musik, atau akustikan. “Ngaos,” berarti membaca dan “stik,” mewakili kata tongkat, yang identik dengan alat pukul untuk musik.

Ngaostik digelar sekali dalam tiga bulan oleh para pegiat literasi di kota Bojonegoro, salah satu daerah di Jawa bagian timur. Akhir pekan lalu adalah gelar Ngaostik yang kelima kali, dan bertepatan dengan pendak satu tahun sejak festival mini tersebut pertama kali digelar pada April 2017 lalu. Dengan kata lain, yang lebih populer, sedang anniversary. Tapi, Ngaostik secara hakikat bukanlah event, melainkan jiwa. Dan jiwa itu adalah rumah. Bukan rumah dengan dinding kayu atau tembok dan beratap genting. Melainkan “rumah besar” yang menampung alam semesta, termasuk alien.

Orang-orang Ngaostik pun tak kaget saat Yargusec datang. Kehadiran Yargusec nyata adanya dalam sebuah judul buku kumpulan cerpen karya para pegiat literasi di Bojonegoro – ‘Cacing di Lorong Yargusec’. Yargusec adalah alien yang diciptakan sendiri untuk dijadikan teman dan dipahami semestinya hingga pada akhirnya menjadi bukan alien.

Lema Yargusec belum dikenal di manapun dan dalam bahasa apapun. Lema itu dibuat oleh para pengiat literasi pemrakarsa Ngaostik, entah apa maksudnya. Mengutip salah satu punggawa Ngaostik, C., Ini ungkapan kebosanan kami terhadap kata-kata yang selalu disangkupautkan dengan politik jelang Pilkada saat ini. Puisi saja sudah terkontaminasi. Kami ingin mendengar kata yang nggak bakal disangkutpautkan. Kata yang benar-benar lain. Hakikat yang lain, atau liyan, ya alien. Ya kami bikin sendiri. Peduli iblis!” Begitu.

Ya, Yargusec memang alien. Dan alien itu liyan meski sebenarnya bukan benar-benar liyan, sebab menjadi liyan rasanya tidak enak. Menjadi liyan seringkali terjebak salah paham. Misal, ingin menyatakan cinta, tapi malah dikira “nembak” oleh penduduk Bumi. Perlu usaha ekstra untuk memahami alien agar tidak berbeda persepsi, agar cerita dalam film ‘Arrival’ (2017), karya Dennis Villeneuve, tidak benar-benar terjadi di planet Bumi.

Pada ‘Arrival’, diceritakan sejumlah alien datang ke Bumi. Mereka hendak menawarkan weapon (dengan bahasa mereka yang tidak dikenal manusia) alias senjata kepada umat manusia di Bumi. Tapi manusia Bumi memang gemar salah paham, menawarakan senjata lantas disangka mengajak perang. Padahal belum tentu, senjata bukan hanya pedang, misil, atau bom. Kata-kata juga bisa menjadi senjata, sedangkan menurut ‘Arrival’, dimensi waktu juga bisa menjadi senjata. Tergantung bagaimana si makhluk hidup memaknai sesuatu sebagai pelindung diri dan penghalau musuh.

Kehadiran Yargusec di Ngaostik kelima disyukuri oleh orang-orang yang hadir pada malam itu. Disyukuri dengan melantunkan lagu-lagu semenjana oleh Black Swan, Saddex dan Mbah Jazz, juga dengan puisi oleh Yoyocs, dan juga obrolan tentang penerjemahan yang mendatangkan dua penerjemah sastra, Janoary M. Wibowo dan Cep Subhan KM. Yang satu dari kota Cepu, yang satu dari kota Yogyakarta. Keduanya adalah pakar bahasa alien.

Mereka terbiasa menerjemahkan cerita-cerita berbahasa liyan agar para pembaca di kota mereka tidak perang gara-gara salah paham. Mereka didaulat untuk memberi pencerahan berupa cara berpikir agar orang memahami Yargusec secara tepat.

Anda penasaran apa itu Yargusec? Dia bukan orang. “Karena belum memiliki arti dan makna di bahasa apapun, kami pun memberi makna kata Yargusec sebagai: gembira, surga, kenyamanan hidup dan hal-hal yang mengingatkan manusia pada kebahagiaan,” jelas Wahyu Riz, humani Ngaostik yang bertanggungjawab terhadap nasib Yargusec.

Ya, pada mulanya Yargusec memang alien. Itu kalau kita belum melakukan kerja membaca dan memahami. Bukankah kita sering mencari kebahagiaan sampai bepergian jauh sekali kemana-mana ke luar diri kita, ke liyan. Padahal kebahagiaan bisa ditemukan dari hal yang paling dekat dengan diri kita. Pada akhirnya, Yargusec memang bukanlah alien. Yargusec tak ke mana-mana. Ia dekat dengan kita. Atau malah diri kita sendiri.