Alien Mengenal Deadpool Lebih Intim

1
[flickr.com] Foto oleh Mr. Delirium.

Deadpool… ibarat Birdman yang disutradarai Ricky Gervais.

Deadpool. Si karakter antihero dari planet Marvel yang tahun kemarin mendulang banyak pujian dari setiap penggila sinema dan komik. Saking banyaknya, sampai-sampai masuk bursa taruhan untuk gelaran Oscar 2017. Tapi sayang beribu sayag, superhero bukanlah tema favorit di planet Oscar. Ditulis pada daftar nominasi saja tidak kesampaian, bahkan untuk kategori komedi sekalipun.

Sementara dinomorduakan oleh pribumi Oscar, Deadpool nyatanya tetap saja jadi favorit untuk sebagian besar manusia di planet bumi. Menjadi sinema R-rated yang meraih untung tertinggi sepanjang masa di planet bumi. Bahkan dengar-dengar, sampai melebihi keuntungan Captain America dan Iron-Man, duo andalan planet Marvel.

Kenapa bisa? Kenapa Deadpool bisa jadi sinema-tema-superhero yang sukses? – padahal formula ceritanya justru tanpa henti menjatuhkan harga diri superhero.

Bertarung demi kebajikan? Meh.

Tidak egois? Meh.

Inspirasi anak-anak? It’s a R-rated movie.

Bagi seorang karakter Marvel yang senantiasa mengolok-olok habitatnya di dunia fiktif, Deadpool malah mampu menembus batas medioker, menjadi ikon baru di budaya populer. Dan popularitas si komedian boleh jadi merepresentasikan trend yang memang sedang terlihat menanjak juga popularitasnya, tapi justru sudah pernah dimulai sejak kira-kira 400 tahun yang lalu.

Apa itu? Silakan baca terus ke bawah.

ACHIEVING ‘FUCK IT’ DAN SINISME

Seperti yang pernah kami tulis pada serial Nevermind, Deadpool juga punya esensi yang sama dengan Nirvana. Keduanya sama-sama menyentuh dasar kehidupan, lalu bereaksi sebagai makhluk yang tak peduli apapun kecuali pada hal-hal yang mereka obsesikan. Yang membedakan adalah Nirvana cinta mati pada musik, sedangkan Deadpool tergila-gila pada pop-culture dan Morena Baccarin.

Deadpool kemudian tak menjadi anak band, tapi menjadi karakter yang unik. Seorang Antihero yang tak peduli apapun, rajin sekali bicara, sering berkomentar dengan mengambil referensi pada pop-culture, kurang lebih seperti karakter Abed pada serial-TV Community, sering bercanda, sadar kalau dirinya cuma karakter fiktif di dalam komik, serta berambisi mendapatkan lagi hati si Morena Baccarin.

Deadpool layaknya Ricky Gervais di dunia superhero. Kerap bercanda seputar ikon-ikon budaya populer dan berbagai macam klise yang biasa mengikuti. Promosi filmnya saja ditampilkan berupa candaan bertipikal parodi ala-ala Deadpool-ian yang menyindir klise cerita asal-usul superhero. Seperti membuat poster film bergaya sinema rom-com di hari Valentine, membuat akun pada aplikasi Tinder, dan tampil berinteraksi langsung dengan calon-calon penonton.

A fourth wall breaking character.

Seperti Kung Fu Komang.

Seperti filosofi post-modernism.

[oxforddictionaries.com] Iya, kami juga baru tahu.

Post-modernism boleh dibilang mirip muda-mudi yang mengaku anti-mainstream. Post-modernism biasanya aktif melawan arus kebiasaan-kebiasaan lama di dalam dunia seni. Contohnya seperti di saat Nirvana membawa distorsi grunge-rock-alternatif untuk melawan tirani hair-metal, Game Of Thrones yang menyajikan narasi dewasa untuk melawan arus fantasi klasik good-versus-evil, dan Deadpool sendiri yang menampilkan karakter sinis, jenaka, serta egois untuk melawan cerita biasa tema superhero.

Filosofi yang memang cenderung menyindir tradisi lama, dan senang sekali bertingkah meta, lalu membuat lelucon dengan referensi pada dirinya sendiri. – You get the idea.

Coba lihat ulang lagi sinema Deadpool, sajiannya penuh oleh komentar sarkastik Wade Wilson terhadap Ryan Reynolds. Dari nilai buruk The Green Lantern, lalu potret wajahnya pada People Magazine’s “Sexiest Man Alive,” atau potret wajah rival utamanya di universal X-Men, juga pada majalah yang sama, Hugh Jackman.

Kalau film-film superhero lainnya selalu tentang kemenangan si baik versus si jahat, Deadpool justru semacam… “Fuck it! Let’s go killing people.” Tak ada narasi klasik superhero-versus-villain, cuma seorang laki-laki yang sibuk membunuh manusia untuk balas dendam dan menyelamatkan nyawa si dambaan hati.

Deadpool has zero f**k to give. He just makes fun of everything.

Dia memang tak pernah mengklaim kalau dirinya adalah superhero, meski punya kemampuan autotomi. Deadpool malah menjadikan filosofi Paman Ben terasa sampah, kalau punya kekuatan lebih, bukan tanggung jawab besar yang datang, kenapa tak coba langgar semua aturan saja?

Karakter pendukung pun juga ikut-ikutan menyindir narasi tradisional superhero. Interaksi Colossus yang terus memaksa Deadpool bergabung dengan X-Men, Dopinder yang menculik kekasih dari wanita yang ia sukai sebagai sindiran terhadap kisah-kisah romantis klise, kekasih Deadpool yang seorang stripper-strip-prostitute sebagai sindiran terhadap protagonis wanita yang seringkali berupa putri-super-sempurna, lalu Blind Al yang menjadi sindiran terhadap karakter-karakter “the old wise people in every superhero origin stories.”

Tapi, meski memiliki embel-embel modernism, narasi seperti Deadpool bukanlah gaya baru di dunia komik atau sinema. Jauh sebelum Deadpool dilukiskan pada kanvas, sudah ada yang lebih dulu mencoba narasi post-modernism. Begitu jauh, malah lebih pantas jadi klasik daripada modern. Narasi klasik itu adalah Don Quixote karangan Tuan Miguel de Cervantes di tahun 1605.

[baumanrarebooks.com] Lawas nih.

Seperti Deadpool, Don Quixote pun juga seringkali mengolok-olok karakter-karakter superhero pada masanya. Lebih lengkapnya, Don Quixote menceritakan seorang novelis fiksional yang menemukan cerita fiksi Don Quixote. Sebuah cerita di dalam cerita. Anggap saja cerita-ception.

Don Quixote  sadar kalau dia adalah karakter yang sedang ditulis oleh si penulis fiksional, dan si penulis yang sedang menulis ulang cerita Don Quixote tanpa henti berinteraksi dan bercanda dengan pembaca.

Kami tak menyebut Deadpool menduplikasi Don Quixote, tapi cukup nikmat rasanya kalau kami menyebut Deadpool pernah membunuh karakter Don Quixote pada salah satu series-nya.

Layaknya Deadpool dan narasi klasik superhero, Don Quixote pun ditulis seakan-akan menyerupai bentuk perlawanan. Lainnya dari Deadpool, Don Quixote menunjukkan perlawanan arus kaum skeptisme pada manusia-manusia religius. Tuan Miguel berusaha menunjukkan kalau sensasi daya pikir yang rasional dapat mengaburkan segala aturan umum, yang anyway, memang kerap jadi konflik pada masa itu.

Serupanya dengan Deadpool, Don Quixote bukanlah tulisan filosofi semacam Aristotle atau Nietzsche, Tuan Miguel hanya ingin tertawa santai tentang masyarakat Spanyol di masa hidupnya.

Model lelucon yang menarik dan ampuh untuk menghindari drama-drama klise.

Deadpool menjadikan nyata model lelucon ini dengan tepat sasaran dan guna. Wade Wilson berulang kali membuat komentar sinis untuk menghindari klise pada film-film superhero. Entah itu menghindari drama-drama sedih atau tensi di saat pertempuran.

Dia mengomentari penjahat yang menggulung lengan baju, mengomentari si wanita macho yang melompat dari ketinggian ala-ala superhero, mengomentari studio yang tak punya biaya untuk menyewa aktor pemeran X-Men lebih banyak, lalu meminta iringan lagu di saat berjalan slow-motion, sampai mengingatkan Al kalau dia adalah yang buta, bukannya cinta.

Model lelucon seperti ini pun rutin dipakai oleh serial-serial komedi lainnya. Seperti Friends, Community, Arrested Development, Scrubs, Gravity Falls, Louie, Family Guy, The Simpsons, Rick And Morty, South Park, Futurama, hampir dimana-mana, hampir di setiap media cerita juga. Film, TV Series, novel, atau tak jarang juga lirik lagu.

Ada dimana-mana, karena model lelucon Deadpool-ian memang punya jaminan komedi yang menarik… tapi juga rentan menjebak.

Kenapa menjebak?

Karena lama-kelamaan menikmati Deadpool rasa-rasanya sama saja seperti komedi yang sebenarnya tak bisa berdiri sendiri. Komedi yang akan selalu membutuhkan budaya populer, budaya mainstream, untuk tetap bisa terdengar lucu menggiurkan.

Ironi memang, menyindir kebiasaan lama, tapi tetap saja membutuhkannya untuk menyelamatkan muka.

Ironi yang kemudian mungkin jadi alasan pribumi planet Oscar enggan menyelipkan Deadpool pada daftar nominasi.

That’s it people!

Satu-alasan-panjang-ngalur-ngidul yang memaksa kami menyebut Deadpool sebagai trend budaya lama.

Ciao!