Alien Mengenal The Joker

9
196
views
[comicsalliance.com]

The Joker, Batman’s arch-nemesis, The Prince of Crime from Gotham City. Badut sadistik dengan selera humor tingkat rendah – dia selalu tertawa melihat apa saja, literally everything.

Penjahat favorit bagi sebagian besar penduduk planet Bumi.

Dalang dari sekian banyak kriminalitas kejam di kota Gotham, dalang dari lumpuhnya kaki-kaki Barbara Gordon, dalang dari kematian Rachel Dawes, dalang dari hilangnya normalitas Harvey Dent, dan di beberapa spin-off, juga pernah jadi dalang kematian Thomas dan Martha Wayne.

Sudah jadi rahasia umum kalau The Joker adalah maniak yang sadis, agen kekacauan, agen kehancuran.

Tapi kenapa banyak umat manusia justru mencintai karakternya? Kenapa The Joker bisa begitu populer? Kenapa ucapan-ucapannya justru sering dikutip sebagai kalimat bijak?

Karena The Joker adalah penjahat yang unik? – yang pintar, yang cerdik, yang tingkah lakunya tak pernah bisa diprediksi, selalu berlaku kejam dan tanpa motivasi yang jelas?

Mungkin.

Tapi menurut kami, bangsa Sigurian, ada yang lebih besar dari sekadar penjahat unik.

Ingat, salah satu alasan utama karya seni bisa dicintai oleh umat manusia adalah resonansi, relateable, dan make sense.

Did we say relateable?

Damn! Of course we did!

You are right! YOU ARE THE JOKER.

Benar sekali, Anda adalah Joker. Anda hanya masih tertinggal satu langkah saja menjadi seorang Joker. Satu langkah dari ONE… BAD… DAY.

How? Let us spill out the argument.

SIAPA JOKER

Sebelum bicara kenapa The Joker adalah karakter yang relateable, mari bicara siapa The Joker lebih dulu.

The Joker seringkali dideskripsikan sebagai maniak, sadisitik, mentally-unstable, super-ultimate-gila, dan juga lunatik. Dia adalah tahanan utama Arkham Asylum, sebab perilakunya sering membahayakan nyawa penduduk Gotham. Joker kerap mengacaukan stabilitas kota Gotham dengan berjuta-juta jenis kriminal yang sembarang, random, serta mustahil ditebak arah tujuannnya. Motivasinya selalu kabur.

Benar, dia (mungkin) adalah gambaran tepat seorang lunatik.

But, is he really, really, really a lunatic? Does he really look like a guy without a plan? Does he really JUST want to watch the world burn?

Pada ‘The Dark Knight’ (Christopher Nolan, 2008), Joker menjebak penduduk Gotham lewat skenario yang panjang, kompleks, namun tersusun rapi. Si Badut menyiapkan bahan peledak di dua kapal feri yang membawa penduduk sipil dan tahanan-tahanan penjara secara terpisah. Kemudian Joker memberi kesempatan pada masing-masing penumpang feri agar bisa selamat dari ledakan bom, APABILA bersedia meledakkan bom di kapal feri yang berlawanan – The Joker juga memberi pengendali bom pada masing-masing penumpang feri.

Nah, kalau kedua feri sama-sama tidak ada yang bersedia meledakkan bom dalam batas waktu tertentu, maka kedua feri akan meledak dan hancur berkeping-keping.

Sederhananya, kalau ingin tetap hidup, harus membunuh orang lain.

Skema kejam yang menguji moralitas humani, memaksa manusia berada di ambang pilihan yang dapat mengaburkan batas benar dan salah, batas baik dan buruk.

This is not a work of a madman. On the contrary, this is a work of a brilliant psycopath, yang direncanakan matang, lantas dieksekusi sempurna.

Jadi, apakah The Joker cuma seorang lunatik?

Mari coba lihat jauh ke belakang, menggali asal usul kedatangan Joker di kota Gotham.

First note, tidak ada konfirmasi resmi atau cerita pasti seputar kelahiran The Joker. Ada banyak sekali spin-off yang menceritakan bagaimana karakter The Joker tercipta pertama kali ke dalam serial Batman. Meski begitu, poin utama dari setiap spin-off selalu-lah sama, The Joker lebih dulu mengalami satu hari yang buruk sebelum menjadi seorang pangeran kriminal seperti yang kita kenal sekarang.

Salah satu yang populer adalah serial ‘Batman: The Killing Joke’.

Sebelum berevolusi menjadi seorang kriminal, The Joker adalah seorang mantan asisten laboratorium kimia yang baru saja meninggalkan pekerjaan utamanya, agar bisa fokus mengejar karir menjadi komedian. Dia juga memiliki seorang istri yang sedang mengandung anak pertamanya.

Sayang, meski punya selera humor yang cukup baik, The Joker gagal berkepanjangan menjadi seorang komedian. Pertunjukkannya di panggung-panggung bar kecil tidak ada yang memuaskan penonton. Kondisi yang lantas menekan keras situasi finansialnya.

Untuk mengembalikan kondisi keuangan, The Joker ikut serta komplotan pencuri yang berencana merampok laboratorium kimia tempatnya dulu bekerja. Di hari operasi perampokan, The Joker mendapat kabar bila istri dan anaknya yang belum lahir meninggal akibat kecelakaan. Lalu di puncak kesedihan, operasi perampokan (yang sebenarnya sudah tak ingin lagi ia teruskan, tapi sudah terjebak situasi) berjalan tidak sesuai dengan rencana.

Batman datang menganggu dan berusaha menghentikan usaha perampokan. Namun berakhir pada kisah The Joker jatuh ke dalam wadah besar berisi cairan kimia berbahaya. Akibatnya, The Joker pun mengalami perubahan pada fisiknya. Rambutnya berubah berselimutkan warna hijau, kulitnya mengelantang putih pucat, serta bibirnya menjadi merah sekental darah di arteri.

And now please sing, “You had a bad day… You’re taking one down… You sing a sad song, just to turn it around…”

Tapi The Joker tidak menyanyikan lagu sedih, tidak berusaha memutar balik hari yang buruk. Rentetan keterpurukan justru menciptakan The Joker seperti yang kita kenal sekarang. Dia menemukan persepsi baru tentang hidup, ‘The rejection of all morals and life is meaningless’.

Filosofi yang mungkin terdengar ekstrim dan mengundang depresi. Tapi yang menarik, filosofi tersebut merupakan mind-set nyata, sering disebut dengan nihilisme.

Nihilisme adalah pandangan yang meyakini kalau alam semesta dan manusia diciptakan dengan tanpa tujuan sama sekali. Nihilisme meyakini kalau tidak ada nilai moral yang absolut, tidak ada benar atau salah, tidak ada baik atau buruk, tidak ada nilai yang pasti pada etika sekuler. Life is just a series of random events to forget about death.

Nihilisme dipopulerkan oleh seorang manusia Jerman, yaitu Friedriech Nietzsche. Nietzsche menyebutkan jika konsep nihilisme pasti akan pernah mempengaruhi setiap penduduk planet bumi dan kemudian akan bisa menghilangkan keyakinan mereka pada segala bentuk nilai moral, sampai berujung pada eksistensi Tuhan.

It’s necessary and certain, yang dibutuhkan hanya satu krisis besar untuk dapat membuka pintu pikiran yang lebih lebar.

The Joker took after Nietzsche’s viewpoint.

Ah, jadi semangat hidup [en.oxforddictionaries.com]

 

The Joker selalu berusaha membawa humani menuju ultimate-crisis, dimana mereka dapat menyadari bahwa eksistensi umat manusia dan nilai pasti moralitas adalah hampa. Seperti memancing Batman yang tak pernah mau membunuh agar sedia membunuhnya; atau mendesak James Gordon menuju kegilaan dengan cara menyiksa Barbara; atau mendorong Harvey Dent agar menanggalkan sifat-sifat ksatrianya, dan berubah menjadi The Two-Face; atau menyudutkan posisi penduduk sipil kota Gotham agar rela meledakkan kapal feri yang berisikan tahanan-tahanan penjara.

The Joker sudah tak peduli pada nilai kehidupannya sendiri atau pun orang lain. He’s an extremist nihilist, and he wants to bring everyone down to his level of understanding. Dan solusi terbaiknya adalah dengan menghadirkan krisis super-duper-besar, yang dapat menantang penduduk Gotham agar mempertanyakan kembali nilai-nilai moral yang sebelumnya mereka pegang.

Sementara itu, Batman di kubu seberang adalah sisi yang berlawanan. Karakternya boleh saja lahir dari kondisi serupa, yaitu satu hari yang buruk. Tapi masih beruntung untuk seorang Bruce Wayne. Meski kehilangan kedua orang tuanya, dia masih punya Wayne Enterprise, dia masih punya Alfred, dan dia masih punya wanita-wanita kelas bidadari pada kesehariannya.

Bruce belum pernah merasakan ultimate crisis.

Ini mengapa Bruce kemudian beri reaksi yang berbeda, menjadi seorang pahlawan dengan filosofi yang sedikit kartun.

Batman percaya kalau umat manusia pasti akan selalu memegang nilai moralitas yang terbaik, dan dia pun senantiasa menunjukkan jenis pandangan ini dengan menjaga etikanya agar tidak pernah membunuh musuh-musuhnya.

Ini mengapa dalam berbagai installment, The Joker kerap memancing Batman agar mengkhianti etika moralnya. Dia ingin menunjukkan pada Batman kalau pandangan nihilist adalah benar.

Sayang, dia belum pernah berhasil. Well, dia sempat hampir berhasil pada ‘The Dark Knight’ garapan Christopher Nolan, mungkin juga berhasil pada akhir spin-off ‘Batman: The Killing Joke’. Meski begitu, yang pasti, The Joker nyatanya berhasil menjatuhkan Harvey Dent ke dalam lingkaran filosofinya. Dengan begini, The Joker berhasil menunjukkan kalau sosok terbaik dari umat manusia pun dapat merubah nilai moralitasnya, cukup dengan sejumlah kekacauan.

Cukup dengan satu hari yang buruk.

One. Bad. Day.

The Joker maybe a madman for common people, but when you see his true color, he is starting to make sense.

Sekarang mari kembali pada topik utama, ANDA ADALAH THE JOKER.

RELATEABLE

It’s not like we’re saying you are literally The Joker.

Maksud kami adalah setiap manusia di planet bumi juga punya kapabilitas untuk berpikir serupa dengan Joker. At some point, all humans are a little bit nihilist, all humans are questioning the purpose of life, the nature of reality, the origin of God, the origin of religion, the origin of moral value. Nihilisme bukanlah bentuk filosofi yang bisa dipilih bagi kebanyakan manusia. Nihilisme seperti jerawat, tinggal menunggu krisis, maka dia akan muncul.

Adalah normal kalau setiap manusia selalu punya keinginan untuk jadi figur yang baik, menurut pada aturan, lalu mengikuti nilai-nilai moral yang sudah tertanam sejak lahir, dan enggan jadi kriminal. Because deep down every human also wants to be accepted, fit in society, and being the so-called-good-people is the best solution so far.

Tapi bagaimana kalau umat manusia juga punya bagian yang super-duper-malas mengikuti nilai-nilai moral tersebut?

Apa mereka jadi pengikut pandangan nihilist The Joker? Boleh jadi.

Ada bukti?

Mari coba tanya Carl Gustav Jung, an-extraordinaire-behavioral-psychologist abad 20.

Silakan google translate dulu sana [academyofideas.com]

Menurut salah satu teori dari mister Jung, umat manusia selalu punya hawa nafsu untuk berbuat nakal sekali-kali, dia panggil hawa nafsu itu dengan nama The Shadow. The Shadow adalah alasan kenapa komentar-komentar pada kolom Facebook, Youtube, atau akun Instagram manusia publik figur sering panas seperti neraka lapis ketujuh. The Shadow adalah bagian dari personal manusia yang sengaja mereka abaikan, karena tak akan pernah sesuai dengan hukum biasa budaya manusia.

It would make you an alien, an outcast, a weirdo, or, it would make you… A STRANGER.

But, this is just a theory, rite?

Sebab kami datang dari luar planet Bumi, maka jawabnya adalah 94,36% benar.

Tapi kami percaya kalau umat manusia di planet Bumi memang memiliki hawa nafsu The Shadow. Semua manusia punya The Shadow di dalam kepala mereka. Keluarnya bisa saja tak pernah mereka sadari, dan tersalurkan pada media-media yang lekat dengan keseharian.

Itu mengapa serial-serial permainan penuh dengan kejahatan dan keberingasan seperti ‘Grand Theft Auto’, ‘The Punisher’, ‘Left 4 Dead’, ‘Mortal Kombat’, atau ‘Manhunt’ bisa senantiasa laris di pasaran planet Bumi. Mereka menyalurkan eksistensi The Shadow ke ranah permainan-permainan keji tersebut, dan di saat para manusia melihat karakter fiktif seperti The Joker, rasa suka dan cinta jadi tak tertahankan.

The Joker is the human embodiment of The Shadow.

Dia adalah semua hawa nafsu manusia yang ingin sekali-sekali berbuat buruk. Yang ingin mempertunjukkan kalau hidup adalah hampa, yang ingin memperlihatkan kalau benar-salah-baik-buruk adalah cerita fiksi belaka, yang ingin menyadarkan manusia kalau etika sekuler adalah sekadar omong kosong. The Joker adalah sisi umat manusia yang sering mereka sembunyikan, bahkan dari orang terdekat mereka sekali pun.

All humans have a little bit Joker inside of them.

The only question is, ‘HOW BAD IS ONE BAD DAY?’

Ada banyak cerita di luar sana tentang manusia-manusia yang pada akhirnya pernah merangkul The Shadow, dan lalu… mereka jadi tidak peduli apapun lagi. Mereka tidak lagi peduli mana benar, buruk, baik, atau salah. Mereka lantas menjelma sebagai nihilist yang ekstrim. Menjadi seorang The Joker.

Coba ingat-ingat lagi, ada banyak sekali berita pembunuhan yang justru dilakukan oleh manusia biasa. Oleh penduduk Bumi reguler yang menghabiskan waktunya sama seperti orang lain; bangun, mandi, lantas pergi beraktivitas, entah itu bekerja atau sekolah, lalu pulang, istirahat setelah seharian penuh berusaha menjadi manusia yang baik.

Sebutlah manusia yang gelap mata jadi pembunuh setelah menemukan pasangannya berselingkuh, padahal sebelumnya hanyalah penduduk biasa yang cinta istri, cinta anak, cinta keluarga. Atau mungkin cerita tentang manusia yang hilang akal sehat, lalu jadi pembunuh setelah kehilangan uang jutaan rupiah akibat dicurangi oleh rekan bisnis. Atau kisah seorang pelajar teladan yang menemukan fakta baru kalau obat-obatan bukanlah pelanggaran setelah menghadapai tekanan berat agar terus berprestasi.

This is why humans love The Joker so much.

That’s it!

Itulah alasan panjang lebar mengapa umat manusia bisa cinta mati pada karakter The Joker.

Apakah kami salah? Ah, kami tak peduli. Tak ada benar atau salah sajalah sudah.

Benar, kami adalah alien. Mirip-mirip The Joker. Begitu juga kalian. The Joker ada di kepala kalian, di hati kalian, di setiap langkah kalian menyapa hari. Dia selalu ada di alam bawah sadar kalian. He’s just there, sitting in the corner, waiting for the big crisis hit one of your days, and then… BAAMMM!!

The Joker is your name.