Alien Mengenal The Joker

11
[Comics Alliance]

The Joker, penjahat ikonik, tapi idola sebagian besar penduduk planet Bumi. Badut sadistik, tapi dicintai banyak manusia di planet Bumi.

Sudah jadi rahasia umum kalau The Joker adalah maniak yang sadis, agen kekacauan dan agen kehancuran. Sebagai musuh abadi dari Batman, ia sudah menjadi dalang dari sekian banyak kriminalitas kejam di kota Gotham.

The Joker bertanggung jawab atas lumpuhnya kedua kaki Barbara Gordon, dalang dari kematian Rachel Dawes, dalang dari hilangnya normalitas Harvey Dent, dan di beberapa installment, juga pernah menjadi dalang kematian Thomas dan Martha Wayne.

Baca juga: Alien Mengenal Rick dan Morty

The Joker adalah penjahat yang sempurna. Tapi kenapa banyak umat manusia justru mencintai karakternya? Kenapa The Joker dapat menjadi ikon budaya yang begitu populer? Kenapa ucapan-ucapannya justru sering dikutip sebagai kalimat bijak?

Sebab The Joker adalah penjahat yang unik? – yang pintar, yang cerdik, yang tingkah lakunya spontan, selalu berlaku kejam dan tanpa motivasi jelas?

Boleh jadi.

Tapi lebih dari sekadar cerdik dan spontan,The Joker menyimpan pesan yang lebih menakutkan. Ingat, salah satu alasan utama karya seni mampu populer dan dicintai oleh umat manusia Bumi adalah resonansi, relateable, dan make sense.

SIAPA THE JOKER

Sebelum bicara kenapa The Joker adalah karakter yang mampu beresonansi dengan umat manusia kebanyakan, mari bicara siapa The Joker lebih dulu.

The Joker sering dideskripsikan sebagai sosok maniak, sadis, punya mental yang tidak stabil, gila, senang bercanda dan juga mudah tertawa. Dia adalah tahanan utama Arkham Asylum. Perilakunya sering membahayakan nyawa penduduk kota Gotham. The Joker kerap mengacaukan stabilitas kota Gotham dengan berjuta-juta jenis kriminal yang sembarang, serta mustahil ditebak arah tujuannnya. Motivasinya selalu kabur.

Benar, dia adalah gambaran tepat seorang lunatik.

Tapi, apakah dia benar-benar seorang lunatik? Benarkah dia cuma penjahat yang tanpa rencana? Benarkah dia cuma ingin melihat dunianya kacau balau?

Pada ‘The Dark Knight’ (2008), The Joker menjebak penduduk Gotham lewat skenario yang panjang, kompleks, namun tersusun rapi. Si Badut menyiapkan bahan peledak di dua kapal feri yang membawa seluruh penduduk sipil dan para tahanan penjara secara terpisah. Lalu The Joker juga memberi kesempatan kepada masing-masing penumpang feri agar dapat selamat dari ledakan bom, APABILA bersedia meledakkan bom di kapal feri yang berlawanan – The Joker juga memberi pengendali bom pada masing-masing penumpang feri.

Kalau penumpang kedua feri sama-sama tidak bersedia meledakkan bom dalam batas waktu tertentu, maka kedua feri akan meledak dan hancur berkeping-keping.

Sederhananya, kalau ingin tetap hidup, harus membunuh orang lain.

Skema kejam yang menguji moralitas humani, memaksa manusia berada di ambang pilihan yang dapat mengaburkan batas benar dan salah, batas baik dan buruk.

Skenario cerdas dan brillian. Bukan pekerjaan seorang penjahat tanpa rencana. Kontras, jebakan tersebut adalah pekerjaan sosok yang cerdas dan penuh perhitungan. Rencana matang yang dieksekusi sempurna.

Apakah The Joker cuma seorang lunatik?

Mari lihat jauh ke belakang, menggali asal usul kedatangan The Joker di kota Gotham.

Memang belum ada konfirmasi resmi atau cerita pasti seputar kelahiran The Joker. Ada banyak sekali spin-off yang menceritakan bagaimana karakter The Joker tercipta pertama kali. Meski begitu, poin utama dari setiap spin-off selalu sama, The Joker mengalami satu hari yang buruk sebelum menjadi seorang pangeran kriminal seperti sekarang.

Salah satu yang populer adalah dari cerita ‘Batman: The Killing Joke’.

Sebelum berevolusi menjadi pangeran kriminal, The Joker adalah seorang mantan asisten laboratorium kimia yang baru saja meninggalkan pekerjaan utamanya, agar bisa fokus mengejar karir menjadi komedian. Dia juga memiliki seorang istri yang sedang mengandung anak pertamanya.

Sayang, meski punya selera humor yang cukup baik, The Joker gagal berkepanjangan menjadi seorang komedian. Penampilannya di panggung-panggung bar kecil tidak pernah memuaskan penonton. Kondisi yang lantas menekan keras situasi finansialnya.

Untuk mengembalikan kondisi keuangan, The Joker ikut serta dengan komplotan pencuri yang sedang berencana merampok laboratorium kimia tempatnya dulu bekerja. Pada hari operasi perampokan, The Joker mendapat kabar kalau istri, beserta anaknya yang belum lahir meninggal akibat kecelakaan.

Lalu di puncak kesedihan, operasi perampokan (yang sebenarnya sudah enggan ia teruskan, tapi sudah terjebak situasi) berjalan tidak sesuai dengan rencana. Batman datang menganggu dan berusaha menghentikan usaha perampokan.

Pada saat pengejaran oleh Batman, The Joker harus terjatuh ke dalam wadah besar berisi cairan kimia berbahaya. Akibatnya, The Joker pun mengalami perubahan pada fisiknya. Rambutnya berubah berselimutkan warna hijau, kulitnya mengelantang putih pucat, serta bibirnya menjadi merah sekental darah di arteri.

Rentetan keterpurukan dalam satu hari lantas menciptakan The Joker seperti yang kita kenal sekarang. Dia menemukan persepsi baru tentang hidup, penolakan terhadap semua nilai moral dan hidup yang tanpa arti.

Ekstrim dan mengundang depresi. Tapi yang menarik, persepsi tersebut merupakan gaya hidup nyata, sering diberi label nihilisme.

Nihilisme meyakini kalau alam semesta dan manusia diciptakan dengan tanpa tujuan sama sekali. Nihilisme percaya kalau tidak ada nilai moral yang absolut, tidak ada benar atau salah, tidak ada baik atau buruk, tidak ada nilai yang pasti pada etika sekuler. Hidup hanya episode-episode sembarang untuk menunggu kematian.

Persepsi nihilis dipopulerkan oleh seorang manusia Jerman, Friedriech Nietzsche. Nietzsche menyebutkan kalau konsep nihilisme pasti akan pernah mempengaruhi setiap penduduk planet Bumi dan akan dapat menghilangkan keyakinan mereka pada segala bentuk nilai moral, bahkan sampai eksistensi Tuhan.

Semua umat manusia memiliki akar nihilis, yang dibutuhkan hanya satu krisis besar untuk dapat membuka pintu pikiran lebih lebar.

[Oxford Dictionaries]

 

The Joker selalu berusaha membawa humani menuju krisis, agar mereka dapat menyadari bahwa eksistensi umat manusia dan nilai pasti moralitas adalah hampa. Seperti memancing Batman yang tak pernah mau membunuh agar sedia membunuhnya; atau memaksa James Gordon agar menuju kegilaan dengan cara menyiksa Barbara; atau mendorong Harvey Dent agar menanggalkan sifat-sifat ksatrianya, dan berubah menjadi The Two-Face; atau menyudutkan posisi penduduk sipil kota Gotham agar rela meledakkan kapal feri yang berisikan tahanan-tahanan penjara.

The Joker sudah mengabaikan nilai-nilai kehidupan sebelumnya. Dia adalah seorang extremist-nihilist, dan dia ingin semua orang ikut terjun ke dalam jurang gelap persepsinya akan nihilis. Dan solusi terbaiknya adalah dengan menghadirkan krisis besar, yang dapat menantang penduduk Gotham agar mempertanyakan kembali nilai-nilai moral yang sebelumnya mereka pegang.

Sementara Batman di kubu seberang adalah sisi yang berlawanan. Karakternya boleh saja lahir dari kondisi serupa, satu hari yang buruk. Tapi masih beruntung untuk seorang Bruce Wayne. Meski kehilangan kedua orang tuanya, dia masih punya Wayne Enterprise, dia masih punya Alfred, dan dia masih punya wanita-wanita kelas bidadari pada kesehariannya.

Bruce belum pernah merasakan krisis.

Menjadi motivasi Bruce untuk memberi reaksi yang berbeda, menjadi seorang pahlawan dengan filosofi kartun.

Batman percaya kalau umat manusia pasti akan selalu memegang nilai moralitas yang terbaik, dan dia pun senantiasa menunjukkannya dengan menjaga etos kerjanya – tidak pernah membunuh musuh-musuhnya.

Ini mengapa dalam berbagai installment, The Joker sering memancing Batman agar mengkhianti etika moralnya. Dia ingin menunjukkan kepada Batman kalau pandangan nihilis adalah benar.

Beruntung, The Joker belum pernah berhasil. Dia memang sempat hampir berhasil pada ‘The Dark Knight’ – berhasil menjatuhkan Harvey Dent, meracuni “The White Knight” agar ikut ke dalam lingkaran filosofi yang sama. The Joker berhasil membuktikan kalau sosok terbaik dari umat manusia pun dapat kehilangan nilai moralitasnya, cukup dengan sejumlah kekacauan. Cukup dengan satu hari yang buruk.

RESONANSI dengan UMAT MANUSIA

Setiap manusia di planet Bumi juga punya kapabilitas untuk berpikir serupa dengan Joker. Semua manusia memiliki bibit nihilis di pikirannya. Bahkan semua manusia pada awalnya terlahir nihilis, sampai kemudian orang tua mereka masing-masing memberi label terbaru, yang didapat dari orang tua sebelumnya.

Nihilisme bukanlah bentuk filosofi yang bisa dipilih bagi kebanyakan manusia. Nihilisme seperti jerawat, tinggal menunggu krisis, maka dia akan muncul.

Adalah normal kalau setiap manusia selalu punya keinginan untuk menjadi figur yang baik, menurut pada aturan, lalu mengikuti nilai-nilai moral yang sudah tertanam sejak lahir, dan enggan jadi kriminal. Mereka, para manusia juga ingin senantiasa diterima oleh lingkungannya.

Tapi bagaimana kalau ternyata umat manusia juga punya bagian yang malas mengikuti nilai-nilai moral tersebut? Apa mereka jadi pengikut pandangan nihilist The Joker? Boleh jadi.

Mari tanya Carl Gustav Jung, psikolog pencinta kopi tubruk abad 20.

[Academy of Ideas]

Menurut mister Jung, umat manusia selalu punya hawa nafsu untuk berbuat nakal sekali-kali, dia panggil hawa nafsu tersebut dengan nama “bayangan” (shadow). “Bayangan” itu adalah alasan kenapa komentar-komentar pada media sosial Facebook, Youtube, atau akun Instagram sering panas seperti neraka lapis ketujuh. “Bayangan” tersebut adalah bagian dari personal manusia yang sengaja mereka abaikan.

Itu juga mengapa serial-serial permainan yang penuh dengan kejahatan dan keberingasan seperti ‘Grand Theft Auto’, ‘The Punisher’, ‘Left 4 Dead’, ‘Mortal Kombat’, atau ‘Manhunt’ bisa senantiasa laris di pasaran planet Bumi. Mereka memilih menyalurkan eksistensi ‘bayangan” ke ranah permainan, tapi di saat mereka melihat karakter fiktif seperti The Joker, rasa suka dan cinta jadi lepas kendali.

The Joker adalah figur terbaik dari “bayangan” yang disebut oleh Mister Jung.

Dia adalah semua hawa nafsu manusia yang ingin sekali-sekali berbuat buruk. Yang ingin ingin bercerita kalau hidup adalah hampa, yang ingin bebas percaya kalau benar, salah, baik, buruk adalah cerita fiksi belaka, yang ingin berteriak kalau etika sekuler adalah sekadar omong kosong.

The Joker adalah sisi gelap umat manusia yang sering mereka sembunyikan, bahkan dari orang terdekat mereka sekali pun.

Ada banyak cerita di luar sana tentang manusia-manusia yang pada akhirnya pernah merangkul The Joker, dan lalu… mereka menjadi tidak peduli apapun lagi. Mereka tidak lagi peduli mana benar, buruk, baik, atau salah. Mereka lantas menjelma sebagai nihilis yang ekstrim.

Coba ingat-ingat lagi, ada banyak sekali berita pembunuhan yang justru dilakukan oleh manusia biasa. Oleh penduduk Bumi reguler yang menghabiskan waktunya sama seperti penduduk Bumi lainnya; bangun, mandi, lantas pergi beraktivitas, entah pergi bekerja atau sekolah, lalu pulang, istirahat setelah seharian penuh berusaha menjadi manusia yang baik.

Sebutlah manusia yang gelap mata menjadi pembunuh setelah menemukan pasangannya berselingkuh, padahal sebelumnya hanyalah penduduk biasa yang cinta istri, cinta anak, dan cinta keluarga. Atau mungkin cerita tentang manusia yang hilang akal sehat, lalu jadi pembunuh setelah kehilangan uang jutaan rupiah akibat dicurangi oleh rekan bisnis.

The Joker adalah kalian, para manusia Bumi. Kalian adalah The Joker. Yang kalian butuhkan hanya satu hari yang buruk.

Pertanyaannya, seperti apa hari yang buruk di kepala kalian?