Alien Nonton Film: Inception

4

‘Inception’, obat sakit kepala hasil olahan Christopher Nolan.

Kami ingin sekali menelanjangi film yang satu ini. Karya ketujuh Nolan setelah mendulang jutaan ribu nilai positif atas ‘The Dark Knight’. Garapan yang semakin menasbihkan identitasnya sebagai pendongeng meta, yang suka mengajak otak duduk di roller coaster.

Mari kami ingatkan kembali lebih dulu pada narasi Inception – SPOILER ALERT.

SUMMARY

‘Inception’ menceritakan kehidupan seorang pencuri yang bernama Dominick Cobb. Tuan Cobb memiliki koper besar dengan kekuatan mutan seperti Professor X. Benar sekali, Tuan Cobb gemar mencuri isi pikiran manusia. Masalah terbesarnya adalah, mantan istri Tuan Cobb, yaitu Nyonya Mal, seringkali muncul mengganggu hobi dan kesenangan Tuan Cobb. Ya… proyeksi manis stereotype wanita-wanita di luar sana.

Bosan terus-menerus mencuri isi kepala, Tuan Cobb mencoba kopernya untuk tawaran yang lebih besar, yaitu inception, menanamkan ide ke dalam otak manusia. Hal yang katanya mustahil, tapi sering kita lihat nyata pada aksi-aksi Romi Rafael atau ketika mendengar ibu Anda mengatakan Anda adalah pria paling tampan di seluruh galaksi.

Anyway, meski mustahil, Tuan Cobb menerima tawaran tersebut.

Mengapa? Klise, karena dapat bayaran yang menggiurkan.

Tuan Cobb lantas membentuk kelompok untuk misi terbarunya. Siapa saja? Klise lagi. Satu orang sidekick, satu orang tipikal cool guy macam chef Juna, satu orang wanita, dan satu orang kutu buku. Setelah komplotan pencuri dibentuk, Si Tuan Kaya Raya kemudian membeli satu buah pesawat, supaya Tuan Cobb dan timnya mendapat celah untuk membius tidur si Tuan Scarecrow.

Ironis huh? Scarecrow justru dibius.

Di level mimpi yang pertama, mereka menculik Tuan Scarecrow ketika dia sedang menunggu taksi. Namun ternyata Tuan Cobb tidaklah terampil – seekor kereta datang mengganggu proses penculikan. Maka kemudian Tuan Cobb dan teman-temannya menyelam ke dalam level mimpi yang kedua.

Di level yang kedua, mereka berpindah posisi, duduk-duduk di lobi hotel. Tuan Cobb lantas meyakinkan Tuan Scarecrow kalau dia sedang berada di dalam mimpi, dan Tuan Cobb sebenarnya adalah hansip yang bertugas menjaga isi kepalanya. Setelah berhasil dibodohi, Tuan Scarecrow lalu mengajak Tuan Cobb untuk bermain salju di level mimpi yang ketiga. Tapi lagi-lagi, karena Tuan Cobb tidak terampil, Tuan Scarecrow dan Tuan Kaya Raya justru terbunuh dan pergi jatuh ke dalam limbo, level mimpi yang keempat, dan katanya berbahaya.

Tuan Cobb dan Nona Juno lantas ikut serta terjun ke dalam limbo, karena well… sudah basah… sikat saja. Di dalam limbo, Tuan Cobb justru mencuri kesempatan curhat pada Nona Juno. Dia menceritakan kalau dia dan Nyonya Mal pernah hidup selama bertahun-tahun di dalam limbo, dan di dalam limbo-lah dia pertama kali melakukan inception, kepada Nyonya Mal, mantan istrinya, yang lalu membuat wanita cantik itu gila dan mati karena terjun dari ketinggian tanpa parasut.

Nyonya Mal aduhai menggoda sekali [giphy.com]

Setelah menemukan Tuan Scarecrow, Nona Juno lantas mengajak pria malang itu agar ikut jatuh bersama-sama dari ketinggian, tanpa parasut seperti Nyonya Mal. Tapi karena masih berada di dalam limbo, mereka justru terbangun pada level mimpi yang ketiga, tidak jadi gila seperti Nyonya Mal – entah kenapa bisa. Tuan Scarecrow kemudian berhasil menikmati momen perpisahan dengan ayahnya di level mimpi yang ketiga.

Setelah itu, mereka semua kembali bangun ke dunia nyata lewat adegan yang geraknya sangatlah lambat, kecuali Tuan Cobb, dia tetap tinggal di dalam limbo untuk mencari si Tuan Kaya Raya, karena dia adalah orang yang memberi gaji.

Tuan Cobb berhasil menemukan Tuan Kaya Raya, tapi si Tuan Kaya Raya sudah tampak tua, sementara Tuan Cobb justru tidak bertambah usia satu hari saja. Mungkin aturan yang ada di dalam limbo jauh lebih kompleks daripada yang kami duga. Terutama di saat mereka berdua tiba-tiba saja terbangun lagi di dalam pesawat tanpa perlu singgah lewat adegan slow motion.

Pada epilog, mereka semua tiba di Los Angeles, kota yang kalau menurut ‘La La Land’ adalah dimana semua mimpi menjadi nyata. Usaha inception sendiri pada akhirnya berhasil dan memaksa si Tuan Kaya Raya supaya segera membersihkan nama Tuan Cobb dari segala tuntutan hukum. Tuan Cobb kemudian dapat bertemu lagi dengan anak-anaknya. Sebelum itu, Tuan Cobb sempat lebih dulu bermain beyblade.

Film pun berakhir pada posisi gasing yang terus berputar namun seakan-akan mau jatuh.

Ah… Nolan baik sekali. Kalau endingnya ambigu, yang sedang berkencan jadi punya topik obrolan.

LOGIKA MIMPI DAN SINEMA

Inception adalah film yang berusaha menampilkan labirin di dalam kepala manusia – semacam prequel dari serial Westworld.

Pada ingatan Tuan Cobb, Nyonya Mal sedang berada di tepi jendela dan bersiap-siap terjun bebas menuju kematian. Bagaimana dia bisa tiba-tiba ada di sana? Apa karena Tuan Cobb sedang ingin selingkuh? Atau karena saraf-saraf otak Tuan Cobb memanglah tidak terampil? – sampai-sampai dia lupa nama gedung juga nomor kamar yang saling dijanjikan.

Sementara itu juga, pada scene final, Tuan Cobb akhirnya dapat melihat wajah putra dan putrinya, setelah pada proyeksi-proyeksi sebelumnya ia cuma bisa menatap punggung anak-anaknya. Tapi malah jadi janggal, sebab perawakan kedua anaknya itu tak terlihat bertambah usia sedikit pun.

Jadi, apakah Tuan Cobb masih ada di dunia mimpi?

Atau sudah kembali pada realitas?

Atau sejak dari awal, Tuan Cobb memang sedang bermimpi?

Seperti yang disajikan pada penutup, putaran gasing Tuan Cobb masih terus berlanjut, sedikit bergoyang, seakan mau jatuh, namun belum juga kita tahu hasil akhirnya, justru terpotong dan dilanjutkan dengan roll credit.

It’s deliberately ambiguous.

Why?

Karena ekspresi utama Inception bukanlah pada Tuan Cobb masih ada di dunia mimpi atau sudah kembali pada realitas, tapi berfokus pada logika mimpi dan sinema.

Ini kenapa kami ikut-ikutan menyebut Mister Nolan itu ‘pendongeng meta’.

Lewat ‘Inception’, Nolan (mungkin) ingin menyampaikan kalau logika yang bekerja ketika menonton film adalah sama dengan logika yang bekerja ketika manusia sedang bermimpi.

Coba ingat scene pada saat Tuan Cobb berkata,

“You never really remember the beginning of a dream, do you? You always wind up right in the middle of what is going on”?

Sama seperti saat sedang bermimpi, apa yang kita alami saat menonton film pun seragam dengan ucapan Tuan Cobb. Di saat sedang menonton film, manusia sering dihadapkan pada scene yang entah bagaimana awal mulanya. Contoh nyatanya adalah pada saat Tuan Cobb mengucapkan teori tersebut. Dia dan Nona Juno sedang menikmati kopi di sebuah café, dan ketika Nona Juno selesai diberitahu… BAAAMMM!! Mereka kembali ke dunia nyata, Tuan Cobb dan Nona Juno lantas tampak terbius pada koper berkekuatan mutan Professor X.

This scene is so f***ing special!

Bukan cuma karena twist ala-ala Nolan, tapi juga karena scene ini menunjukkan salah satu pesan kunci yang kami maksud sebelumnya. Kita tidak melihat Nona Juno dibius sebelum berbagi mimpi dengan Tuan Cobb, dan Nolan memang sengaja tidak memberikannya, we just… kinda… accept it. Seperti mimpi, kita terima saja kalau tiba-tiba Tuan Cobb dan Nona Juno sedang duduk di sebuah café menikmati kopi hitam, entah bagaimana awal mulanya.

Kondisi ini selalu terjadi pada narasi film apapun. Sebuah film bisa melompat maju menuju lini waktu yang jauh ke depan atau mundur ke belakang tanpa penjelasan yang jelas atau pasti bagaimana bisa si karakter tiba-tiba sampai di sana, dan kita para penonton? Seperti sedang bermimpi saja… we as an audiece… ACCEPT IT.

Sepanjang narasi ‘Inception’ berlanjut, Mister Nolan konstan menampilkan paralelisme antara logika film dan logika mimpi ini. Seperti pada saat Tuan Cobb bertemu dengan pria si tipikal Chef Juna di Mombasa. Kita tidak melihat bagaimana Tuan Cobb memesan tiket pesawat, lalu pergi ke airport, atau diminta oleh pramugari agar berpindah duduk ke sebelah pintu darurat, scene cuma pergi dari sedang bercakap-cakap dengan Robin lalu ke panorama kota Mombasa. Kita bisa saja berpikir kalau itu lagi-lagi adalah scene yang sedang bermimpi – atau mungkin tidak.

Hal yang serupa pun terjadi lagi di saat kebetulan saja si Tuan Kaya Raya bisa muncul tepat waktu menyelamatkan Tuan Cobb dari kejaran para penagih hutang. Sedang apa dia di Mombasa? Dia punya banyak uang, dia bisa kirim orang lain kalau cuma ingin melindungi seorang investor.

Tapi lagi-lagi… we just accepted those cuts.

Jadi, sekali lagi, apakah Tuan Cobb sedang bermimpi ketika bertemu Chef Juna di Mombasa?

Apakah Tuan Cobb sedang bermimpi ketika Nyonya Mal terjun dari jendela hotel?

Apakah Tuan Cobb sedang bermimpi ketika bertemu anak-anaknya lagi?

Memaksa otak mencari tahu apakah Tuan Cobb sedang bermimpi atau bukan, rasa-rasanya seperti terjebak di dalam paradoks saja.

How the hell are we supposed to know what’s real and what’s dream? – when we’re watching a movie about dreams, while the logic of movies work like the logic of dreams.

Duh! We can’t.

We just take a leap of faith and accept it.

Lihat dan dengar Nolan beberapa kali mengeksposisi kalimat “Take a leap of faith” pada sejumlah dialog. Misalnya di saat Tuan Kaya Raya menawarkan pekerjaan kepada Tuan Cobb, di saat Nyonya Mal merayu Tuan Cobb agar ikut terjun bebas tepi jendela hotel, atau di saat Tuan Cobb akhirnya kembali bertemu dengan Tuan Kaya Raya di dalam limbo.

Itu bisa jadi mengapa ketika Tuan Cobb sampai di rumah dan dapat melihat kembali wajah anak-anaknya, dia tak lagi menunggu apakah gasing kesayangannya akan terus berputar atau justru akan berhenti lalu terjatuh. Dia sudah tidak peduli lagi yang mana realitas, yang mana mimpi.

He took a leap of faith and just accepted whatever it was.

Nolan sudah memberikan jawabanya. Tidak ada misteri tersisa pada Inception.

Professor Xavier KW 300 [giphy.com]

Pusing? Pusing? Pusing? Silakan salahkan Nolan, sejak awal kami cuma mau mengoceh.

Peace, love, dan terima saja.