The Big Lebowski: Komedi Abadi Sejak Tahun 1998

3
Big Lebowski
[Polygram]

Tayang perdana pada pekan pertama bulan Maret 1998, The Big Lebowski terus abadi sebagai salah satu kultus klasik di industri film komedi.

Umat manusia pencinta dan kritikus film boleh saja punya opini mereka masing-masing jika ditanya film manakah yang menjadi karya terbaik Coen Brothers. Tapi, tidak ada yang mampu mengakar begitu kuat ke dalam kesadaran umat manusia, selain cerita sederhana seputar hari-hari Jeffrey “The Dude” Lebowski setelah permadani kesukaannya dirusak oleh orang-orang tidak bertanggung jawab.

Memang betul Coen Brothers memiliki karya-karya lainnya yang juga panen kritik positif dari para penduduk planet Bumi, seperti Fargo, O Brother Where Art Thou?, atau No Country for Old Men. Tapi mengapa komedi-noir yang tidak biasa dari The Big Lebowski mampu bertahan sebagai salah satu kultus klasik populer selama lebih dari 20 tahun lamanya di planet Bumi?

Baca juga Alien Mengenal Indonesia: Lily of The Valley

Bukan hal yang sulit untuk mengerti kenapa sejumlah umat manusia mencintai kisah The Dude di layar lebar. The Big Lebowski memiliki plot cerita yang tidak biasa, namun mengasyikkan – menjaga alur film terus bergerak maju dengan penuh energi, dan tentu juga akibat didukung oleh para pemeran dengan performa ikonik, serta susah dilupakan. Jeff Bridges pemeran The Dude adalah contoh utama.

Keberhasilan The Dude menjadi karakter yang berkesan bukanlah tanpa alasan. Gaya hidup The Dude yang slengean begitu mudah mencuri umat manusia modern, yang lebih menghargai pekerjaan daripada sensasi bahagia. Dia begitu santai, sebagian besar waktunya pun hanya dihabiskan untuk menikmati hal-hal sederhana dalam hidup. Entah bowling, wanita Rusia berkulit putih, dan senggama.

Apalagi The Dude adalah manusia yang begitu menyenangkan untuk diajak bergaul. Siapa yang tidak mau bermain bowling dengan The Dude? Semua alien memimpikan hari-hari bermain bowling dengan The Dude.

The Dude adalah seorang ahli filosofis. Lihat ketika narator/koboi (Sam Elliott) menyapa The Dude, “Santailah, Bung. Aku tahu kau akan begitu.” The Dude lalu berbalik, mengangkat bahunya, dan menjawab, “The Dude menurut.”

Dialog di antara The Dude dan narator merupakan salah satu kutipan berkesan dari The Big Lebowski, tapi seperti apa maksudnya? Apakah The Dude benar-benar menurut pada perintah? Sabar menghadapi masalahnya?

Meski Coen Brothers menyajikan The Dude sebagai sesosok manusia yang begitu santai menjalani hari-harinya, The Dude banyak menghabiskan durasi film dengan teriakan. Dia berteriak pada Walter (terus-menerus), dia berteriak pada The Big Lebowski, dia berteriak pada Little Larry Sellers. Stress, amarah, dan komentar-komentar sarkastiknya pada sepanjang film begitu jauh dari respon seorang manusia yang kata-katanya adalah manusia ter-santai di seluruh Los Angeles.

Belum lagi kalau mengingat usaha kerasnya untuk mendapatkan ganti rugi atas permadani favoritnya yang rusak, meski keutuhan alat kelaminnya harus terancam. Tidak ada permadani favorit, tidak peduli seberapa cintanya The Dude pada permadani itu, ancaman kepada alat kelaminnya jelas mengisyaratkan “Lupakan saja, Bung!”

Ketika The Dude menjawab, “The Dude menurut,” The Dude berbicara tentang bagaimana dirinya bereaksi ketika hari-harinya harus mendapat rintangan. Di saat orang-orang memanggil The Dude, dia menyahut dan datang. Entah oleh Marty si pemilik rumah yang selalu meminta The Dude untuk pergi menonton pertunjukannya, atau Maude yang meminta kehadiran fisiknya. Di saat Walter bertindak gegabah dan arogan pun The Dude tidak mencegahnya. Di saat para bandit menceburkan kepalanya ke dalam toilet, The Dude dengan santainya memperbaiki posisi kacamata hitam di matanya.

The Dude menerima saja semua hal yang alam semesta lemparkan kepadanya – baik, buruk, aneh, janggal, menarik – dan menghadapinya. The Dude menjalani hidupnya bukan dengan berkata “tidak,” dia mengikuti arus apapun yang datang.

Lebih daripada itu, The Dude bahkan tidak pernah membawa amarahnya berlama-lama. Pada setiap amarah yang singgah, The Dude akan mengangkat bahu, lalu kembali pada santainya. Tidak peduli seberapa kesal ia pada Walter, semua akan sirna, hilang sekejap, tepat di saat ia bermain bowling. Ada banyak hal menyenangkan yang dapat dinikmati oleh The Dude, daripada harus mengeluh lama pada hal-hal yang mengesalkan.

Bagi The Dude, apabila tidak ada manusia Rusia berkulit putih, masih ada susu bubuk putih. Tidak ideal memang. Tapi itu lebih baik, daripada sama sekali tidak ada.

Sebagian besar dari umat manusia di Bumi tidak bisa dan tidak mau menjalani hari-hari seperti The Dude. Sulit bagi seorang manusia untuk menjadi malas. Bathrobe bukanlah pakaian normal bagi seorang manusia untuk digunakan pada aktivitas sehari-hari. Tapi kalian, umat manusia, tentu akan lebih bahagia lagi kalau mencoba gaya hidup The Dude. Pantas kalau kemudian banyak manusia yang masih senang berulang kali menyimak The Dude – The Big Lebowski.

Seperti yang diucap oleh narator (Sam Elliott), “Senang mengetahui The Dude ada di luar sana).”