Black Panther: Saat Marvel Bicara Politik

0
[Marvel]

Hidup damai dan sejahtera, memberantas si jahat hingga ke akarnya. Itulah yang dikira banyak orang menjadi ide mutlak dari film pertama Marvel Cinematic Universe di tahun 2018: ‘Black Panther’.

Bukan sekadar film superhero, ‘Black Panther’ adalah film tentang ras – bisa dibilang Pan-Afrikanisme – dan juga unsur politik yang biasa ada dalam sebuah pemerintahan berbasis kerajaan.

Memang, banyak kritikus film menilai ‘Black Panther’ masih memiliki banyak kekurangan. Seperti misalnya, ekspresi pemeran yang kaku, dialog yang kurang natural, dan lain sebagainya. Namun harus kita akui bahwa ‘Black Panther’ betul-betul berbeda dari film-film Marvel yang lalu. Bukan sekadar warna kulit, Black Panther juga menegaskan bahwa politik kenegaraan adalah sebuah pedang bermata dua. Demi nasionalisme, bisa saja persaudaraan dikorbankan, dan pada akhirnya akan menumbuhkan bibit jahat baru yang justru merusak nasionalisme tersebut.

Kecuali Klaw, barangkali, tidak ada penjahat lain yang betul-betul “hitam” dalam ‘Black Panther’. Erick Killmonger contohnya, pangeran Wakanda yang terlupakan ini toh sejatinya masih punya hati. Ia menjadi penjahat lantaran cintanya yang besar kepada sang Ayah.

[Marvel]
Di balik penampilannya yang garang dan tubuhnya yang penuh bekas luka, dia memiliki hati yang rapuh. Air matanya dalam mimpi, saat bertemu sang Ayah adalah contohnya. Keinginan Erick Killmonger sejatinya bukanlah tahta Wakanda.

Keinginannya berkaitan dengan konsep Pan-Afrikanisme: semua warga kulit hitam di dunia harus saling bahu-membahu. Wakanda harus menyiarkan dan membagi kekayaannya pada semua yang tertindas di muka Bumi. Agar tak ada lagi anak-anak kulit hitam yang merana seperti dirinya.

Menonton ‘Black Panther’ mengingatkan kita bahwa, bahkan si protagonis (T’Chaka) pun punya dosa. Meskipun tak betul-betul disengaja, toh dosa itu berkontribusi besar pada konflik Wakanda di masa depan. Dosa yang sayangnya, dibawa sampai mati.