Dead Poets Society: Alien Masuk Ruang Kelas

2
[Touchstone Pictures]

“[…] Seize the day, boys. Make your lives extraordinary. (Raihlah hari, anak-anak. Buat hidup kalian luar biasa),” seru Mr. Keating, si mantan anggota Dead Poets Society.

Siapa yang tidak mengenal Robin Williams? Sebagian manusia Bumi mengenalnya sebagai komedian yang sukses memerankan Mrs. Doubtfire, sebagian lagi mengenalnya sebagai pengisi suara Genie pada ‘Aladdin’ (1992). Bukan komedi saja, Robin Williams juga pernah bertanggung jawab atas peran-peran non-jenaka pada aliran drama atau emosional lainnya. ‘Good Will Hunting’ di tahun 1997 boleh jadi salah satu contoh.

Tapi, di antara repertoire Robin Williams, mungkin ‘Dead Poets Society‘-lah yang begitu terhubung dengan kehidupan nyata manusia-manusia Bumi. Menggunakan latar sekolah menengah, ‘Dead Poets Society’ mengangkat tema eksplorasi diri, pencarian identitas, sekaligus kritikan terhadap sikap konservatif yang sudah tidak lagi tepat bagi humani generasi muda. Kenapa?

[SPOILER ALERT] Mari simak terlebih dahulu ringkas cerita lengkap Dead Poets Society’.

Baca juga: The Big Lebowski – Komedi Abadi Sejak 1998

RINGKASAN

Profesi dokter dan pengacara seakan menjadi pilihan hidup wajib bagi para remaja Welton Academy, termasuk Neil Perry, remaja Bumi yang selalu menuruti keinginan ayahnya dan salah satu murid terbaik Welton; Todd Anderson, remaja Bumi pemalu yang selalu berada di bawah bayang-bayang kesuksesan kakaknya, serta teman-teman mereka: Charlie Dalton, Chord Overstreet, Steven Meeks, dan Gerard Pitts.

Sampai suatu ketika, datanglah Mr. Keating, tenaga pendidik baru di Welton Academy, yang mendobrak norma-norma yang selama ini hidup dan telah membelenggu para murid Welton Academy. Mr. Keating membawa metode-metode pembelajaran baru, yang tidak biasa, mengajak serta memacu para murid agar memandang dunia dari perspektif berbeda, dan mengeksplorasi diri keluar dari kebiasaan-kebiasaan monoton.

Neil Perry lantas terinspirasi, pun menemukan kecintaannya terhadap dunia seni peran.

Neil juga menemukan bahwa Mr. Keating merupakan anggota Dead Poets Society – kelompok siswa penggiat puisi ilegal – pada saat bersekolah di Welton. Bersama teman-temannya, Neil ingin membangkitkan kembali Dead Poets Society, meskipun melanggar peraturan sekolah.

Seiring berjalannya waktu, para remaja Welton mulai dapat menemukan jati diri mereka dan menentukan pilihan hidup. Seperti Chord yang berani menyatakan cinta pada Chris, Todd yang ternyata memiliki kemampuan mencipta puisi-puisi estetis, dan Neil sendiri, akhirnya mendaftarkan dirinya pada sebuah pertunjukkan drama.

Sayang, hasrat Neil untuk menjadi seorang aktor bertentangan dengan keinginan sang ayah agar putranya menjadi seorang dokter. Ayahnya pun berencana mengeluarkan Neil dari Welton dan mendaftarkannya ke sekolah militer, demi mempersiapkan Neil kuliah di Harvard. Menyadari kekalahan memperjuangkan kebebasan dirinya, Neil memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Peristiwa tragis kematian Neil Perry lantas menuntut adanya kambing hitam untuk menyelamatkan nama Welton Academy. Mr. Keating pun harus menjadi sasaran empuk komite sekolah, dan harus bertanggung jawab, serta dikeluarkan dari Welton Academy.

Namun pada akhir cerita, ketika sedang membereskan perlengkapannya di ruang kelas, Mr. Keating mendapat penghormatan terakhir dari murid-murid yang terinspirasi oleh kehadirannya. “O Captain! My Captain!” seru para murid kepadanya.

KEMATIAN NEIL: Perjuangan Terakhir Memperoleh Kebebasan

Meski menyesakkan, kematian Neil adalah adegan yang impresif, dan mampu membuat ‘Dead Poets Society’ sebagai karya dengan kesan tersendiri. Tragedi kematian Neil Perry mampu menyampaikan pesan yang ingin dibagikan oleh para kreator film.

Mr. Keating, Neil, dan teman-teman Dead Poets Society lainnya merupakan representasi modernitas, inovasi, dan masa kini, sedangkan Mr. Nolan dan Mr. Perry (ayah dari Neil) merupakan representasi konservatif, kovensi, dan masa lalu. Ketika mereka bertemu di dalam satu ruang, yang terjadi adalah ketegangan di antara modernitas dan konservatif, inovasi dan konvensi, serta masa kini dan masa lalu. Lalu, ketiadaan negosiasi di antara Neil dan ayahnya pun menuntun kepada jalan buntu, menuntun pada penyelesaian akhir berupa kematian.

[US Sky Pic] Neil Perry
Kematian Neil bukanlah sekadar representasi kekalahan Neil di dalam permasalahan yang ia hadapi. Pertama, kematian Neil memang jelas menjadi penyelesaian akhir karena ketidakmampuan Neil menyelesaikan masalah di dunia nyata. Tapi lainnya, Neil juga mampu mewakili kemampuan untuk menentukan pilihan hidup sendiri, meski harus menembakkan peluru ke dirinya sendiri. Cita-cita kebebasan yang dimimpikan oleh kelompok Mr. Keating pun harus menuntut adanya korban.

Ketiga, ‘Dead Poets Society’ menyiratkan duka dan getir yang akan diperoleh oleh kedua belah pihak yang merepresentasikan kepentingannya masing-masing.

SIAPA CAPTAIN?

Pada akhir cerita, para murid “tersisa” yang diprakarsai oleh aksi Todd Anderson memberikan penghormatan terakhir mereka kepada Mr. Keating dengan berteriak, “O Captain! My Captain!” sambil berdiri di atas meja.

Tapi, siapakah kapten sebenarnya?

Meski hampir 29 tahun berlalu sejak pertama kali dirilis, konflik yang diangkat oleh ‘Dead Poets Society’ masih relevan dan dapat menjadi refleksi hidup bagi banyak penduduk Bumi, termasuk mereka yang di Indonesia.

Seringkali mereka terjebak oleh dilema, menghambat laju mereka mengeksplorasi diri, menentukan pilihan hidup, maupun menjadi diri sendiri. Mereka seringkali masih terjebak oleh sekat-sekat norma yang membentuk pribadi sesuai dengan nilai-nilai yang telah menjadi konvensi masyarakat. Oleh karena itu, tidak semua manusia berhasil dalam menemukan jati dirinya.

Mr. Keating muncul sebagai pemberi alternatif, mengajak para manusia keluar dari pendoktrinan identitas menuju pencarian diri. “Carpe diem. Seize the day, boys. Make your life extraordinary.” Manusia-manusia lain dapat memberi jalan, tapi pada akhirnya setiap manusia harus memegang kemudinya sendiri. Menjadi kapten bagi kapal mereka sendiri. Biarlah karang-karang menghantam mereka di antara hujan badai, tapi hanya mereka yang mampu melabuhkan kapal mereka masing-masing sampai ke tujuan.