Game of Theories: Bagaimana Game of Thrones akan Berakhir?

14
game of thrones george rr martin
[flickr.com] Foto oleh Samuel Fae.

Pada pertengahan tahun kemarin, salah satu imajinasi George R. R. Martin (GRRM), Game of Thrones mulai dekat dengan ujungnya. Menjawab satu per satu pertanyaan yang muncul sejak awal episode ditayangkan, atau sejak mula saga A Song of Ice and Fire dirilis. Entah siapa ibu Jon Snow yang sebenarnya, bagaimana asal-usul The Whitewalkers, atau kemana perginya Benjen Stark selama 5 musim berlalu.

Dengan hanya delapan episode tersisa, tanya di kepala para penonton pun mulai ramai akan bagaimana cerita fantasi di Westeros dan Essos akan berakhir – siapa yang akan duduk di Iron Throne pada akhirnya.

Satu tanya yang memang selalu menjadi latar utama.

Oleh karena kami punya segudang waktu luang, rasa-rasanya menarik juga kalau kami ikut serta serial Game of Theories.

Baca juga Nevermind oleh Nirvana: dari Titik Terendah Menuju “Berpengaruh”

Mari mulai dengan menjelajahi karakter dari otak si pemilik fantasi terlebih dahulu, George Raymond Richard Martin.

Bagi sebagian besar pencinta Gandalf di luar sana, Game of Thrones sudah sering disebut sebagai usaha GRRM untuk mendewasakan serial The Lord of The Rings, dan memang sudah jadi rahasia umum kalau GRRM adalah penggemar berat J. R. R. Tolkien (penulis The Lord of The Rings dan The Hobbit). Terlihat nyata dari bagaimana GRRM mendeskripsikan Westeros dan Essos, yang memang mengambil referensi utama dari Middle Earth. Juga pada beberapa kesempatan, GRRM berulang kali menyatakan kekagumannya pada Tolkien.

Hanya satu, kagum bukan berarti punya paham serupa.

Jauh berbeda dari Middle Earth, di tanah Westeros dan Essos sungguh mustahil untuk dapat mengategorikan siapa tokoh protagonis atau siapa tokoh antagonis, siapa karakter honorable atau siapa tokoh menjijikan. Jika di lingkungan Midde Earth penonton dengan mudah mengelompokkan Gandalf sebagai protagonis, tidak begitu di Westeros. Setiap pelaku hidup di Seven Kingdoms tak selamanya menjadi karakter baik hati, tak selalu menjadi penjahat, tak setiap hari adalah orang terhormat, tak jarang malah berbagi kenikmatan dengan sisi gelap .

Bagi GRRM, konsep baik dan buruk adalah delusi, adalah cerita kartun, adalah kabur, selalu bias.

Memang ada pengecualian untuk Joffrey Lannister dan Ramsay Bolton.

Banyak keunikan yang dilakukan oleh GRRM untuk menampilkan batas kabur di antara baik dan buruk. Seperti mendominasikan warna hitam pada seragam The Night’s Watch, yang (masih) dalam kelompok protagonis, lalu mendominasikan warna biru dan putih pada The Whitewalkers, yang justru (masih) berlaku antagonis sampai episode yang terbaru.

Sedangkan Tolkien? Gandalf The White dan Nazgül The Black Riders.

Usaha lainnya bisa terlihat dari bagaimana GRRM menyusun cerita untuk setiap karakter. Pada awal serial, seluruh penonton percaya kalau Ned Stark adalah tokoh terhormat. Tapi belakangan mulai nyata kalau seorang Ned Stark pun menyimpan rahasia buruk di bawah selimutnya. Musim ke-6 mengungkapkan kalau kemenangan Ned Stark atas Sir Arthur Dayne dilakukan dengan cara yang tidak ksatria. Musim yang sama juga memberi pembenaran pada prediksi klasik tentang identitas orang tua Jon Snow yang sudah lama disembunyika oleh Ned Stark.

Sementara di sisi berlawanan, Jaime Lannister adalah karakter sepadan.

Sejak cerita bermula, kita diyakinkan kalau Jaime adalah sosok yang memalukan, culas, curang, dan licik. Sejarah Westeros pun mengisahkan kalau Jaime membunuh The Mad King (Aerys II Targaryen) dengan cara menghunuskan pedangnya dari belakang tubuh sang raja, di saat posisinya justru adalah seorang Kingsguard.

Tapi layaknya Ned Stark, latar belakang Jaime sebagai “pengkhianat” lantas mulai tergali. Tindakan liciknya di awal dongeng Game of Thrones justru merupakan prolog heroik, ia menyelamatkan jutaan nyawa di King’s Landing dari ancaman ledakan wildfire.

The Honorable Ned Stark, yang menyembunyikan riwayat perilaku tidak terhormat, dan Jaime Lannister, The Kingslayer, yang justru seorang figur heroik tersembunyi di sejarah Westeros.

Bukan seperti Tolkien dan Sauron-nya, GRRM selalu berpendapat jika, “A villain is the hero of the other side. Filosofi yang menjadikan Game of Thrones lebih dewasa daripada cerita-cerita fantasi lainnya. Tidak ada Aragorn yang tampan dan selalu berlaku baik, tidak ada pula Orc yang berwajah monster dan selalu berlaku jahat. Filosofi juga  pada akhirnya membantu saga Game of Thrones berjalan unpredictable dan unconventional.

Dalam beberapa kali kesempatan wawancara, GRRM menyatakan ia tidak ingin fantasinya berjalan biasa. Tidak ingin berjalan layaknya ekspetasi publik pada cerita-cerita fantasi, dimana tokoh protagonis pada akhirnya pasti akan sampai pada tujuan baiknya, biar sekejam apapun halangan dan rintangan dari pihak antagonis. Lewat serial ‘Game of Thrones’, GRRM ingin menunjukkan kapabilitasnya melawan bentuk narasi konvensional. Dia mencoba mengubah bentuk narasi tradisional yang biasa melukiskan pahlawan dan penjahat dalam dunia fantasi.

Ibarat Christopher Nolan, ibarat David Fincher, GRRM senang mengabaikan ekspetasi publik. Maka kecil mungkinnya kalau GRRM akan menulis akhir cerita dengan klise berujung “bahagia selamanya”.

Pada saga A Song of Ice and Fire, GRRM sebisa mungkin membuat kehidupan setiap karakternya tidak pernah aman. Tidak ada alur klise karakter favorit akan selalu berhasil, tidak ada hukum alam karakter utama akan selalu menang, atau karakter lovable akan selalu selamat sampai di ujung cerita. “When you play the game of thrones, you win or you die,” sebut Cersei Lannister di awal saga.

Ned Stark, Rob Stark, Oberyn Martell, Khal Drogo, Stannis Baratheon, Joffrey Lannister, Tywin Lannister, Ramsay Bolton adalah bukti nyata unpredictable dan unconventional-nya GRRM.

Tapi yang menarik juga, kematian tokoh-tokoh di atas tidak hanya menunjukkan keengganan GRRM akan narasi klasik “good versus evil”, tapi juga menggambarkan opini umum terhadap kondisi perang, “War brings more destruction than structure.”

Sama halnya dengan trilogi The Lord of The Rings, plot serial Game of Thrones dihiasi pula dengan peperangan. The Battle of Trident, The Battle of Blackwater Bay, lalu yang masih hangat-hangatnya tahun kemarin, The Battle of The Bastards. Lainnya dari Tolkien, GRRM lebih mendefinisikan perang-perang di dunia fantasinya sebagai solusi yang destruktif. Bukan usaha tepat untuk mendekatkan setiap karakter pada tujuannya.

Mungkin GRRM ingin menunjukkan elemen apa yang sempat dilupakan oleh seorang Tolkien.

GRRM memang beberapa kali mengungkapkan kalau A Song of Ice and Fire bukanlah alegori tentang Perang Dunia II ataupun Perang Vietnam, tapi pandangannya yang sering negatif pada kebijakan berperang cukup besar mempengaruhi narasi Game of Thrones. GRRM bukan hanya menggambarkan perjuangan yang patriotik ketika berperang, tapi juga efek gelapnya pada setiap partisipan. Hilangnya nyawa-nyawa tak bersalah, dan hilangnya nyawa-nyawa manusia yang kurang beruntung, terjebak oleh hierarki kekuasaan di Westeros.

Serupa Perang Vietnam atau Perang Dunia II, konflik di Westeros juga melibatkan orang-orang yang pada hakikatnya hanya berperan sebagai rakyat biasa. Penduduk umum yang kebetulan saja berada di bawah asuh dan bayang-bayang penguasa. Orang-orang normal yang bahkan tidak terlibat langsung dengan konflik keluarga Stark dan Lannister, Stark dan Bolton, Baratheon dan Targaryen, Martell dan Lannister, atau Tully dan Frey.

Mereka cuma kurang beruntung karena hidup di wilayah kekuasaan si pemilik perang, maka membantu si penguasa adalah wajib. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka turut serta berjibaku, kemudian mati sia-sia, sebab konflik di antara dinasti Stark dan Lannister. Mati percuma sebab mereka bukanlah tokoh yang memegang komando.

Sisi gelap dari hierarki kekuasaan kemudian menjadi alasan mengapa GRRM bisa dengan enteng membunuh setiap karakter yang sedang tinggi kedudukannya. Karakter yang sedang duduk di posisi atas pada hierarki kekuasaan, seperti Ned Stark, Rob Stark, Joffrey Baratheon, Mance Rayder, atau Tywin Lannister. Karakter-karakter yang dibunuh untuk memutus tali perintah yang sedang ada. Untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya harus bertanggung jawab pada kondisi perang.

Sekarang, seperti apa kira-kira akhir serial Game of Thrones yang direncanakan oleh GRRM?

Ras manusia versus The Whitewalkers?

Sejauh Game of Thrones berjalan tampaknya kita bisa sepakat kalau GRRM tidak akan pernah menjanjikan akhir yang berujung pelangi. GRRM percaya kalau konsep baik dan buruk adalah delusi, dan saga A Song of Ice and Fire adalah salah satu usahanya untuk menunjukkan pandangan tersebut. GRRM juga cenderung tidak peduli pada ekspetasi publik, malah dia senang mempermainkan ekspetasi publik. Pun, GRRM bukanlah sosok yang bisa melihat lampu positif dari kebijakan berperang. Ketika mandi, mungkin ia terus-menerus bernyanyi “War! Huh! What is it good for? Absolutely nothing! Uh-huh!” berulang kali sampai benar-benar mirip Edwin Starr.

Kecil kemungkinan jika Jon Snow dan Daenerys Targaryen akan berada pada aliansi yang sama, saling jatuh cinta, menikah, lalu menyingkirkan Cersei Lannister dan aliansinya di Seven Kingdoms. Kemudian mengalahkan The Whitewalkers, dan beristirahat dengan duduk bersama di Iron Throne, sebagai Raja dan Ratu yang berkuasa di Westeros.

Tolkien mungkin sedia menulis akhir seperti di atas.

The Whitewalkers boleh jadi terlihat sebagai sentral antagonis pada awal saga sampai dengan episode terakhir di tahun kemarin, namun nyatanya keunikan GRRM menyusun latar belakang untuk setiap karakternya telah menghadirkan narasi yang tidak tradisional. Sampai pada cerita terakhir kita mulai diberitahu jika The Whitewalkers adalah kreasi dari The Children of The Forest. Hasil tangan pribumi Westeros untuk melawan invasi serta penjajahan The First Men pada masa-masa sebelum konflik Game of Thrones dimulai. Karakter yang sebenarnya membantu The Children of The Forest untuk dapat mempertahankan kuasa atas rumahnya sendiri.

“A villain is the hero of the other side.”

Pada sejarah Westeros tertulis kalau The First Men datang sekitar 12 ribu tahun sebelum kisah Game of Thrones dimulai. The First Men dan pasukannya datang layaknya penjajah sedang mencari rumah terbaru. Mereka membabat hutan-hutan yang sudah jadi tempat tinggal The Children of The Forest, mereka membuka lahan, menebang The Weirwood Trees, dan perang hebat pun menjadi sesuatu yang tak bisa dihindarkan lagi. Sejarah Westeros mencatat hampir 2 ribu tahun lamanya kedua pihak berselisih lewat solusi perang. Menyajikan pertumpahan darah yang begitu banyak.

Konflik berkepanjangan pada akhirnya berhenti ketika kedua belah pihak sudah mulai lelah dengan setiap pertempuran. Mereka lalu sepakat untuk membagi wilayah Westeros, dimana The Children of The Forest mengambil wilayah hutan-hutan lebat di sisi utara The Wall, dan The First Men berhak atas lahan terbuka, ladang, pantai, tebing di sisi selatan The Wall. The First Men juga sepakat untuk tidak lagi menebang The Weirwood Trees, yang lantas menjadi simbol pemujaan The Old Gods.

Pertanda dari GRRM? Peristiwa di masa silam bisa saja terjadi lagi.

Perang tentu bukan pilihan tunggal The Northerners mengahadapi The White Walkers. Di dunia imajinasi ciptaan GRRM, perang bukanlah solusi terbaik untuk dekat dengan tujuan. Westeros dan Essos adalah dunia imajinasi yang semrawut dan kacau balau. Perang besar hanya akan memperpanjang kisah Game of Thrones.

Mungkin klise jika berpatokan pada buku PPKn, tapi tidak terduga, perdamaian bisa menjadi pilihan terbaik.

Sepanjang saga, The Whitewalkers boleh berlaku seperti sosok iblis. Tujuan mereka seakan-akan satu saja, menjadi penguasa di Westeros, menjadi pribumi lagi di rumah sendiri. Mereka bahkan tanpa berat hati membantai The Children of The Forest, yang notabene adalah melahirkan mereka. Ibarat Ultron, The Whitewalkers serupa senjata lepas kendali, tidak ada kompromi sedikit pun.

Tapi dalam satu kesempatan, The Whitewalkers ternyata adalah tokoh yang cukup memiliki akal juga. Mereka tidak sebagaimana iblis murni pada awal-awal kemunculan. Ketika cerita berfokus pada penjelajahan kelompok The Night’s Watch di North of The Wall, The White Walkers tampak mampu diajak berkompromi, membuat kesepakatan agar tidak mengusik Craster’s Keep.

Memang kesepakatan tersebut cukup sadis, tapi menjadi pertanda, The Whitewalkers masih dapat diundang untuk berkompromi. Berunding.

Pertanyaannya, siapa yang dapat menawarkan damai dengan The Whitewalkers? Craster sudah mati.

game of thrones jon snow
[HBO]

Jon Snow?

Ya, kami bertaruh Rp 5.000,- untuk Jon Snow.

Jon Snow memang sempat gagal membujuk Mance Rayder (The Wildlings), tapi pada akhirnya ia berhasil membujuk Tormund Giantsbane, dan meyakinkan The Night’s Watch untuk menyudahi perang dengan The Wildlings. Memang beberapa orang anggota The Night’s Watch sempat mengkhianati keputusan Jon Snow, tapi hei! Seperti Yesus, Jon Snow lalu bangkit dari kematian. Yesus pun adalah sebuah nama yang cinta damai.

Pertanda lagi?

Jon memainkan peran penting pada perdamaian di tanah utara Westeros.

The Wildlings kemudian berdamai dan beraliansi dengan loyalis House Stark. Sebelum The Battle of The Bastards pun Jon Snow sempat mengusahakan kesepakatan dengan Ramsay Bolton agar menyudahi pertumpahan darah yang sia-sia. Mengusulkan agar konflik diselesaikan di antara empunya masalah saja, dia dan Ramsay Bolton saja. Lupakan perang.

Narasi yang sesuai untuk mencerminkan otak GRRM.

Jon Snow melihat dampak buruk peperangan. Jon Snow sudah mulai lelah dengan konflik dan perebutan kekuasaan berkepanjangan di Westeros.

Nah, jika Jon Snow adalah sentris dari pihak protagonis di momen final Game of Thrones, siapa yang akan memainkan peran di sisi seberang?

Karakter yang mampu mengaburkan definisi baik dan buruk. Karakter yang mampu memainkan peran “a villain is the hero of the other side,” karakter yang belum melihat efek buruk dan horor dari peperangan, karakter yang belum menyadari kegelapan dari sistem hierarki kekuasaan pada era kerajaan. Karakter yang sedang berada dalam posisi tinggi. Karakter yang mempunyai hasrat begitu besar untuk kembali pada derajatnya di Westeros.

Game of Thrones Daenerys Targaryen
[HBO]

Daenerys Targaryen.

Ketimbang aliansi House Stark dan Queen of Andals melawan The White Walkers, beralihnya Mother of Dragons munuju pusat antagonis terasa lebih sesuai jadi momen akhir. Profil sang Targaryen sampai pada cerita terakhir yang disampaikan begitu sesuai dengan gaya narasi GRRM.

Daenerys adalah pahlawan di Essos. Breaker of Chains, membebaskan ribuan budak dari penjara oleh kaum bangsawan, dan kini ia sedang berusaha kembali pulang. Memulihkan derajat Targaryen, menuju tanah Westeros dengan ribuan pasukan berlayar di belakangnya. Pasukan yang siap mati sukarela untuk dirinya.

Pahlawan untuk Essos, kelak menjadi penjahat bagi Westeros.

Di Essos, posisinya pun sedang berada di atas, di Westeros namanya juga sudah mendatangkan khawatir. Penantang kuat untuk jadi pemenang Game of Thrones. Punya kendali besar memberi komando pada ribuan nyawa non-Targaryen yang diasuh di bawah kedudukannya, yang tentu akan mati beberapa di antaranya pada medan perang nanti, hanya sebab membantu Daenerys mengembalikan dinasti Targaryen atas Seven Kingdoms.

House Stark versus House Targaryen. A Song of Ice and Fire yang kacau, kejam, dan horor.

Jon Snow dan Daenerys Targaryen adalah pemain tepat untuk bab terakhir.

Lalu, siapa yang duduk di Iron Throne?

Bukan keduanya.

Sedikit sinyal bila melihat Daenerys Targaryen berhasil duduk di posisi tertinggi saga Game of Thrones. Rasa haus untuk pulang mulai terlihat membutakan karakternya yang bijak. Percakapannya dengan Tyrion Lannister pada awal jumpa menyingkap sebagian kekerasan di balik profilnya. Percakapan terakhirnya dengan Daario Naharis pun mengungkap bagaimana ambisiusnya Daenerys.

Pahlawan dan berkuasa. Tapi sayang, gaya GRRM menulis narasi pahlawan dan penjahat tidak mendukung peluang Daenerys berkuasa di Seven Kingdoms.

Sementara di sisi seberang, Jon Snow tak punya hasrat duduk di Iron Throne. Jon Snow hanya sedia berperang ketika dibutuhkan, ketika rasa peduli pada keluarganya memaksa. Jon Snow berada di puncak rantai komando hanya karena terjebak kisah klasik pilihan favorit rakyat. Mendapat posisi Lord Commander of The Night’s Watch oleh dukungan Maester Aemon dan Samwell Tarly, diangkat sebagai King in The North pun bukan keinginan pribadinya.

Sepanjang cerita Game of Thrones, Jon Snow cuma seorang loyalis House Stark yang masih merindukan Yggrite.

Tentu Jon Snow berhak atas Iron Throne jika melihat fakta asal-usul kelahirannya. Ia adalah putra Rhaegar Targaryen dan Lyanna Stark, House Stark dan House Targaryen, “Winter is coming” dan “Fire and blood”, ice and fire, air dan api. Besar mungkinnya jika pada akhir cerita, seluruh penjuru Westeros akan mendukung Jon Snow agar duduk di Iron Throne dan menolak klaim Daenerys Stormborn atas kuasa Seven Kingdoms.

Tapi, lagi-lagi… tentu akan banal jika Jon Snow lalu bersedia. Akan mengulang epilog karakter Aragorn pada The Lord of The Rings.

Mungkin GRRM akan menulis Jon Snow justru menolak kuasa atas Seven Kingdoms. Enggan duduk di Iron Throne, dan keputusannya akan menyudahi siklus perebutan kekuasaan yang berkepanjangan di Westeros sejak kematian The Mad King.

Lalu……………………………………………..

game of thrones samwell tarly
[Imgur]

Samwell Tarly.

Tidak sepakat?

Well.. when you play the game of theories, you win or you make another theory then.