Game of Theories: Game of Thrones

12
286
views
[flickr.com] Foto oleh Samuel Fae.

Pada pertengahan tahun kemarin, imajinasi George R. R. Martin (GRRM) mulai dekat dengan ujungnya. Menjawab satu per satu pertanyaan yang muncul sejak awal episode ‘Game of Thrones’ ditayangkan atau sejak mula saga ‘A Song of Ice and Fire’ dirilis. Entah itu siapa ibu Jon Snow yang sebenarnya, bagaimana asal-usul The Whitewalkers, atau kemana perginya Benjen Stark selama 5 musim berlalu.

Dengan hanya 15 episode tersisa, tanya di kepala para penonton pun mulai ramai akan bagaimana cerita fantasi di Westeros dan Essos akan berakhir – siapa yang akan duduk di Iron Throne pada akhirnya.

Satu tanya yang memang selalu menjadi latar utama.

Oleh karena kami punya segudang waktu luang, rasa-rasanya menarik juga kalau kami ikut serta serial Game of Theories.

Ready?

[giphy.com]

Off we go!

Mari mulai dengan menjelajahi karakter dari otak si empunya fantasi lebih dulu, Tuan George Raymond Richard Martin.

Bagi sebagian besar pencinta Gandalf di luar sana, ‘Game of Thrones’ sudah sering disebut sebagai usaha GRRM untuk mendewasakan serial ‘The Lord of The Rings’, dan memang sudah jadi rahasia umum kalau GRRM adalah penggemar berat J. R. R. Tolkien (penulis ‘The Lord of The Rings’ dan ‘The Hobbit’). Bisa diliat dari bagaimana GRRM mendeskripsikan Westeros dan Essos, yang notabene memang mengambil referensi utama dari Middle Earth. Juga, di beberapa kesempatan, GRRM pernah berulang kali menyatakan kekagumannya pada Tolkien.

Tapi kagum bukan berarti punya paham serupa.

Jauh berbeda dari Middle Earth, di tanah Westeros dan Essos sungguh mustahil untuk bisa menyatakan siapa tokoh protagonis atau siapa tokoh antagonis, siapa tokoh honorable atau siapa tokoh menjijikan. Kalau di lingkungan Midde Earth kita bisa dengan mudah mengategorikan Gandalf ke dalam kelompok protagonis, tidak begitu di Westeros. Setiap pelaku hidup di Seven Kingdoms tak selamanya menjadi karakter baik hati, tak selalu menjadi penjahat, tak setiap hari jadi orang terhormat, tak jarang malah jadi penikmat sisi gelap.

Bagi GRRM, konsep baik dan buruk adalah delusi, adalah cerita kartun, adalah kabur, selalu bias.

Memang ada pengecualian untuk Joffrey Lannister dan Ramsay Bolton.

Banyak keunikan yang dilakukan oleh GRRM untuk menampilkan batas kabur di antara baik dan buruk. Seperti mendominasikan warna hitam pada seragam The Night’s Watch, yang (masih) dalam kelompok protagonis, lalu mendominasikan warna biru dan putih pada The Whitewalkers, yang justru (masih) berlaku antagonis sampai episode terakhir.

Sedangkan Tolkien? Gandalf The White dan Nazgül The Black Riders.

Usaha lainnya bisa dilihat dari bagaimana GRRM menyusun cerita untuk setiap karakter. Di awal serial, hampir seluruh penonton percaya kalau Ned Stark adalah tokoh terhormat. Tapi belakangan mulai nyata kalau seorang Ned Stark pun menyimpan rahasia buruk di bawah selimutnya. Musim ke-6 mengungkapkan kalau kemenangan Ned Stark atas Sir Arthur Dayne dilakukan dengan cara yang tidak ksatria. Musim ke-6 juga akhirnya memberi pembenaran pada prediksi klasik tentang identitas orang tua Jon Snow sebenarnya, yang juga sudah lama disembunyikan oleh Ned Stark.

Sementara itu di sisi berlawanan, Jaime Lannister bisa jadi contoh.

Sejak cerita bermula, kita diyakinkan kalau Jaime adalah sosok yang memalukan, culas, curang, dan licik. Sejarah Westeros pun mengisahkan kalau Jaime membunuh The Mad King (Aerys II Targaryen) dengan cara menghunuskan pedangnya dari belakang tubuh sang raja, di saat posisinya justru adalah seorang Kingsguard.

Tapi layaknya Ned Stark, latar belakang Jaime sebagai “pengkhianat” lantas mulai tergali. Tindakan liciknya di awal dongeng ‘Game of Thrones’ justru merupakan prolog heroik, ia menyelamatkan jutaan nyawa di King’s Landing dari ancaman ledakan wildfire.

The Honorable Ned Stark, yang menyembunyikan riwayat perilaku tidak terhormat, dan Jaime Lannister, The Kingslayer, yang justru seorang figur heroik tersembunyi di sejarah Westeros.

Bukan seperti Tolkien dan Sauron-nya, GRRM selalu berpendapat jika, “A villain is the hero of the other side.

Filosofi yang menjadikan ‘Game of Thrones’ lebih dewasa daripada cerita-cerita fantasi lainnya. Tidak ada Aragorn yang tampan dan selalu berlaku baik, tidak ada pula Orc yang berwajah monster dan selalu berlaku jahat.

Filosofi yang mungkin pada akhirnya membantu saga ‘Game of Thrones’ berjalan unpredictable. Atau lebih utamanya, unconventional.

Dalam beberapa kali kesempatan wawancara, GRRM menyatakan ia tidak ingin fantasinya berjalan biasa. Tidak ingin berjalan layaknya ekspetasi publik pada cerita-cerita fantasi, dimana tokoh protagonis pada akhirnya pasti akan sampai pada tujuan baiknya, biar sekejam apapun halangan dan rintangan dari pihak antagonis.

Lewat serial ‘Game of Thrones’, GRRM ingin menunjukkan kapabilitasnya melawan bentuk narasi konvensional. Dia mencoba mengubah bentuk narasi tradisional yang biasa melukiskan pahlawan dan penjahat dalam dunia fantasi.

Ibarat Christopher Nolan, ibarat David Fincher, GRRM sangat senang mengabaikan ekspetasi publik. Maka kecil mungkinnya kalau GRRM akan menulis akhir cerita yang klise, yang bahagia.

Pada saga ‘A Song of Ice and Fire’, GRRM sebisa mungkin membuat kehidupan setiap karakternya tidak pernah aman. Tidak ada alur klise karakter favorit akan selalu berhasil, tidak ada hukum alam karakter utama akan selalu menang, atau karakter lovable akan selalu selamat sampai di ujung cerita.

“When you play the game of thrones, you win or you die,”

sebut Cersei Lannister di awal saga.

Ned Stark, Rob Stark, Oberyn Martell, Khal Drogo, Stannis Baratheon, Joffrey Lannister, Tywin Lannister, Ramsay Bolton bisa menjadi bukti nyata unpredictable dan unconventional-nya GRRM.

Tapi yang menarik juga, kematian tokoh-tokoh di atas tidak hanya menunjukkan keengganan GRRM akan narasi klasik “good versus evil”, tapi juga menggambarkan opini umum terhadap kondisi perang.

“War brings more destruction than structure.”

Sama halnya dengan trilogi ‘The Lord of The Rings’, plot serial ‘Game of Thrones’ dihiasi pula dengan peperangan. The Battle of Trident, The Battle of Blackwater Bay, lalu yang masih hangat-hangatnya tahun kemarin, The Battle of The Bastards. Lainnya dari Tolkien, GRRM lebih mendefinisikan perang-perang di dunia fantasinya sebagai solusi yang destruktif. Bukan usaha tepat untuk mendekatkan setiap karakter pada tujuannya.

Mungkin GRRM ingin menunjukkan elemen apa yang sempat dilupakan oleh seorang Tolkien.

GRRM boleh saja beberapa kali mengungkapkan kalau ‘A Song of Ice and Fire’ bukanlah alegori terhadap Perang Dunia II ataupun Perang Vietnam, tapi pandangannya yang sering negatif pada kebijakan berperang cukup besar mempengaruhi narasi ‘Game of Thrones’. Coba kunjungi lagi bab-bab yang pernah ditulis oleh GRRM, ia bukan hanya menggambarkan perjuangan yang patriotik ketika berperang, tapi juga efek gelapnya pada setiap partisipan. Seperti hilangnya nyawa-nyawa tak bersalah, dan juga hilangnya nyawa-nyawa manusia yang kurang beruntung, terjebak oleh hierarki kekuasaan di Westeros.

Serupa Perang Vietnam atau Perang Dunia II, konflik di Westeros juga melibatkan orang-orang yang pada hakikatnya hanya berperan sebagai rakyat biasa. Penduduk umum yang kebetulan saja berada di bawah asuh dan bayang-bayang keluarga penguasa. Orang-orang normal yang bahkan tidak terlibat langsung dengan awal mula konflik keluarga Stark dan Lannister, Stark dan Bolton, Baratheon dan Targaryen, Martell dan Lannister, atau Tully dan Frey.

Mereka cuma kurang beruntung karena hidup di wilayah kekuasaan si empunya perang, maka membantu si penguasa adalah wajib. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka turut serta berjibaku, kemudian mati sia-sia, sebab konflik di antara dinasti Stark dan Lannister. Mati percuma sebab mereka bukanlah tokoh yang memegang komando.

Sisi gelap dari hierarki kekuasaan inilah yang mungkin jadi alasan mengapa GRRM bisa dengan enteng membunuh setiap karakter yang sedang tinggi kedudukannya. Karakter yang sedang duduk di posisi atas pada hierarki kekuasaan. Ned Stark, Rob Stark, Joffrey Baratheon, Mance Rayder, atau Tywin Lannister boleh jadi argumen. Karakter-karakter yang dimatikan untuk memutus tali perintah yang sedang ada. Untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya harus bertanggung jawab pada kondisi perang.

Sekarang, kalau sudah begini, seperti apa kira-kira akhir serial ‘Game of Thrones’ yang direncanakan oleh GRRM?

Ras manusia versus The Whitewalkers?

Sejauh ‘Game of Thrones’ berjalan rasa-rasanya kita bisa sepakat kalau GRRM tidak akan menjanjikan akhir yang berujung pelangi. GRRM percaya kalau konsep baik dan buruk adalah delusi, dan ‘A Song of Ice and Fire’ adalah salah satu usahanya untuk menunjukkan pandangan tersebut. GRRM juga cenderung tidak peduli pada ekspetasi publik, malah dia senang mempermainkan ekspetasi publik. Pun, tampaknya GRRM bukanlah sosok yang bisa melihat lampu positif dari kebijakan berperang. Ketika mandi, mungkin ia terus-menerus bernyanyi “War! Huh! What is it good for? Absolutely nothing! Uh-huh!” berulang kali sampai benar-benar mirip Edwin Starr.

Kecil nilainya kalau kami melihat kemungkinan Jon Snow dan Daenerys Targaryen berada pada aliansi yang sama, saling jatuh cinta, menikah, lalu menyingkirkan Cersei Lannister dan Euron Greyjoy. Kemudian mengalahkan The Whitewalkers, dan beristirahat dengan duduk bersama di Iron Throne, sebagai Raja dan Ratu yang berkuasa di Westeros.

Tolkien mungkin sedia menulis akhir seperti itu.

The Whitewalkers boleh jadi terlihat sebagai sentral antagonis di awal saga sampai episode terakhir di tahun kemarin, namun nyatanya keunikan GRRM menyusun latar belakang untuk setiap karakternya telah membuyarkan stigma itu. Sampai pada cerita terakhir kita mulai tahu kalau The Whitewalkers adalah kreasi dari The Children of The Forest. Hasil tangan pribumi Westeros untuk melawan invasi dan penjajahan The First Men di masa-masa yang jauh sebelum konflik ‘Game of Thrones’ dimulai. Karakter yang sebenarnya membantu The Children of The Forest untuk mempertahankan kuasa atas rumahnya sendiri.

“A villain is the hero of the other side.”

Pada sejarah Westeros tertulis kalau The First Men datang sekitar 12 ribu tahun sebelum kisah ‘Game of Thrones’ dimulai. Mereka datang layaknya penjajah klasik mencari rumah baru. Mereka membabat hutan-hutan yang sudah jadi tempat tinggal The Children of The Forest, mereka membuka lahan, juga menebang The Weirwood Trees, dan perang hebat pun lalu menjadi sesuatu yang tak bisa dihindarkan lagi. Sejarah Westeros mencatat hampir 2 ribu tahun lamanya kedua pihak berselisih lewat solusi perang. Menyajikan pertumpahan darah yang begitu banyak.

Konflik berkepanjangan pada akhirnya berhenti ketika kedua belah pihak sudah mulai lelah dengan setiap pertempuran. Mereka kemudian sepakat untuk membagi wilayah Westeros, dimana The Children of The Forest mengambil wilayah hutan-hutan lebat di sisi utara The Wall, dan The First Men berhak atas lahan terbuka, ladang, pantai, tebing di sisi selatan The Wall. The First Men juga sepakat untuk tidak lagi menebang The Weirwood Trees, yang kemudian menjadi simbol pemujaan The Old Gods.

Foreshadowing?

Peristiwa di masa silam bisa saja terjadi lagi.

Perang tentu bukan pilihan tunggal The Northerners mengahadapi The White Walkers. Di dunia imajinasi yang sudah diciptakan GRRM tersebut, perang bukanlah solusi terbaik untuk dekat dengan tujuan. Westeros dan Essos adalah dunia imajinasi yang semrawut dan kacau balau. Perang besar hanya akan memperpanjang kisah ‘Game of Thrones’.

Mungkin klise kalau menurut buku PPKn, but unpredictable, peace could be a better choice.

Sepanjang saga, The Whitewalkers boleh ibarat nyata the-pure-evil-dude. Tujuan mereka seakan-akan satu saja, menjadi penguasa di Westeros, menjadi pribumi lagi di rumah sendiri. Mereka bahkan tanpa berat hati membantai The Children of The Forest, yang notabene adalah sang kreator. Ibarat Ultron, The Whitewalkers serupa senjata yang lepas kendali, tidak ada kompromi sedikit pun.

Tapi dalam satu kesempatan, The Whitewalkers ternyata adalah tokoh yang reasonable juga. Mereka tidak sebagaimana pure-evil di awal-awal kemunculan. Coba lihat ketika cerita berfokus pada penjelajahan The Night’s Watch di North of The Wall, The White Walkers tampak mampu diajak berkompromi juga, membuat kesepakatan untuk tidak mengusik Craster’s Keep.

Memang kesepakatannya cukup sadis, but… foreshadowing?

The Whitewalkers masih bisa diajak berunding. Berdamai.

Lalu pertanyaannya, siapa yang dapat menawarkan damai dengan The Whitewalkers? Craster sudah mati.

[HBO]

Jon Snow?

Ya, kami bertaruh Rp 5.000,- untuk Jon Snow.

Dia mungkin sempat gagal membujuk Mance Rayder (The Wildlings), tapi pada akhirnya ia berhasil membujuk Tormund Giantsbane, dan meyakinkan The Night’s Watch untuk menyudahi perang dengan The Wildlings. Memang beberapa orang anggota The Night’s Watch pada akhirnya sempat mengkhianati keputusan Jon Snow… but hey! Seperti Yesus, Jon Snow lalu bangkit dari kematian. Yesus pun adalah sebuah nama yang cinta damai.

Foreshadowing?

Jon could play the role of peace in the North.

The Wildlings kemudian benar-benar(?) berdamai dan beraliansi dengan loyalis House Stark. Sebelum The Battle of The Bastards pun Jon Snow sempat mengusahakan kesepakatan dengan Ramsay Bolton agar tidak terjadi pertumpahan darah yang sia-sia. Agar konflik diselesaikan di antara empunya masalah saja, dia dan Ramsay Bolton saja. Lupakan perang.

Narasi yang sesuai untuk mencerminkan otak GRRM.

Jon Snow sudah bisa melihat dampak negatif peperangan. Jon Snow sudah mulai lelah dengan konflik dan power struggle yang berkepanjangan di Westeros.

Nah, kalau Jon Snow jadi sentris pihak so-called-baik di momen final ‘Game of Thrones’, who would play the opposite role?

Karakter yang mampu mengaburkan definisi baik dan buruk. Karakter yang mampu memainkan peran “a villain is the hero of the other side”. Karakter yang belum melihat efek buruk dan horor dari peperangan. Karakter yang belum menyadari kegelapan dari sistem hierarki kekuasaan pada era kerajaan. Karakter yang kekuasaannya sedang berada dalam posisi tinggi. Karakter yang mempunyai hasrat begitu besar untuk kembali pada derajatnya di Westeros.

Nama terpanjang di seluruh galaksi [sumber : HBO]

Daenerys Targaryen.

Ketimbang aliansi House Stark dan Queen of Andals melawan The White Walkers, beralihnya Mother of Dragons munuju pusat antagonis terasa lebih sesuai jadi momen akhir. Profil sang Targaryen sampai cerita terakhir yang disampaikan begitu sesuai dengan gaya narasi GRRM.

Daenerys adalah pahlawan di Essos. Breaker of Chains, membebaskan ribuan budak yang terpenjara oleh kaum bangsawan, dan kini ia sedang berusaha kembali pulang. Memulihkan derajat Targaryen, menuju tanah Westeros dengan ribuan pasukan berlayar di belakangnya, yang siap mati sukarela untuk dirinya.

Pahlawan untuk Essos, kelak menjadi penjahat bagi Westeros.

Di Essos, posisinya pun sedang berada di atas, di Westeros namanya juga sudah mendatangkan khawatir. Penantang kuat untuk jadi pemenang ‘Game of Thrones’. Punya kendali besar memberi komando pada ribuan nyawa non-Targaryen yang diasuh di bawah kedudukannya, yang sangat mungkin akan mati di medan perang nanti, hanya sebab membantu Daenerys mengembalikan dinasti Targaryen atas Seven Kingdoms.

House Stark versus House Targaryen. ‘A Song of Ice and Fire’ yang kacau, kejam, dan horor.

Jon Snow dan Daenerys Targaryen adalah pemain tepat untuk bab terakhir.

Terakhir, siapa yang duduk di Iron Throne?

Neither of them.

Bukan keduanya.

Sedikit sinyal bila melihat Daenerys Targaryen berhasil duduk di posisi tertinggi saga ‘Game of Thrones’. Rasa haus untuk pulang mulai terlihat membutakan karakter yang bijak. Lihat bagaimana percakapannya dengan Tyrion Lannister di awal jumpa. Lihat bagaimana percakapan terakhirnya dengan Daario Naharis. Bagaimana ia meninggalkan Essos padahal dirasa tepat oleh Daario jadi rumah barunya.

Hero dan powerful. Tapi sayang, gaya GRRM menulis narasi pahlawan dan penjahat tidak mendukung peluang Daenerys berkuasa di Seven Kingdoms.

Sementara di sisi seberang, Jon Snow tak punya hasrat duduk di Iron Throne. Jon Snow hanya sedia berperang ketika dibutuhkan, ketika rasa peduli pada keluarganya memaksa. Jon Snow berada di puncak rantai komando hanya karena terjebak kisah klasik people’s-favorite-champion. Mendapat posisi Lord Commander of The Night’s Watch oleh sebab dukungan Maester Aemon dan Samwell Tarly, diangkat sebagai King in The North pun bukan keinginan pribadinya.

Sepanjang cerita ‘Game of Thrones’, Jon Snow cuma seorang loyalis House Stark yang (masih) merindukan Yggrite.

Tentu Jon Snow berhak atas Iron Throne kalau melihat fakta asal-usul kelahirannya. Ia adalah putra dari Rhaegar Targaryen dan Lyanna Stark, House Stark dan House Targaryen, “Winter is coming” dan “Fire and blood”, ice and fire. Besar mungkinnya jika pada akhir cerita, seluruh penjuru Westeros akan mendukung Jon Snow untuk duduk di Iron Throne dan menolak klaim Daenerys Stormborn atas kuasa Seven Kingdoms.

Tapi, lagi-lagi… rasanya sungguh klise kalau Jon Snow lalu bersedia. Sebab menurut kami keberadaan Jon Snow adalah paralelisme Aragorn di Middle Earth.

Mungkin GRRM akan menulis Jon Snow justru menolak kuasa atas Seven Kingdoms. Enggan duduk di Iron Throne, dan kemudian keputusannya itu akan menyudahi siklus “power-struggle” berkepanjangan di Westeros sejak kematian The Mad King dan The Battle of Trident.

Lalu……………………………………………..

Semua butuh SAM!! [imgur.com]

Samwell Tarly.

Tidak sepakat?

Well.. when you play the game of theories, you win or you make another theory then.

CIAO!!