Gone Girl oleh David Fincher: Narasi Menguasai Realitas

3
Gone Girl
[Sajid Algar]

Setiap film selalu memiliki nilai moral, dan Gone Girl beri umat manusia peringatan keras, “Hei, kau humani! Jangan menikah!”

Memang berlebihan sekali kalau kami menilai Gone Girl adalah kampanye anti-menikah, tapi mau bagaimana lagi? Gone Girl memang punya daya bius sempurna. Meracuni otak, tepat di tengah-tengah cerebrum. Memaksa kami kembali melihat tinggi manusia bernama David Fincher.

Mari segera membongkar kepala dan mencari emas di balik kepala Amy Dunne. Manusia wanita berambut pirang yang cerdas, terduga baik hati, dan disangka penyayang. Tipikal impian setiap manusia laki-laki di planet Bumi. Tepatnya Hannibal Lecter dan Bruce Wayne.

[Spoiler Alert], mari kita kembali pada kisah romansa Romeo dan Juliet abad 21 terlebih dahulu.

Baca juga Alien Mengenal Indonesia: Deep Sea Explorers

RINGKAS CERITA

Jauh dari pusat keramaian kota Gotham, tampaklah Bruce Wayne yang sedang menjalani masa pensiun, karena film terakhirnya dengan Superman tak kunjung mendapat apresiasi tinggi. Ia tinggal bersama Amy Dunne, wanita cantik berambut pirang yang ia persunting lima tahun sebelumnya.

Suatu pagi, Bruce tiba-tiba menduga kalau istrinya telah hilang diculik, setelah ia kembali pulang ke rumah dan mendapati ruang tamu rumahnya berantakan. Kursi terbalik, kaca meja pecah berkeping-keping, seperti baru saja dikunjungi oleh sekelompok maling.

Sadar sudah menjual semua peralatan hebatnya selama menjadi Batman, Bruce segera memanggil detektif untuk mencari tahu kemana istrinya pergi. Si detektif lantas datang, dan menemukan tanda-tanda kekerasan di TKP, pun menyimpulkan cepat kalau Amy sudah mati terbunuh. Si detektif juga menduga Bruce adalah tersangka utama.

Bruce dan si detektif bermain kucing-kucingan dalam rentang waktu yang lama, saling memburu bukti untuk membenarkan diri mereka sendiri. Sampai kemudian Mister Fincher mengungkap jika Amy ternyata masih hidup dan sedang menyetir menuju kebebasan, sambil menyantap Big Mac dan kentang goreng penuh lemak.

Holy mother of sweet Moses!

Amy ternyata adalah sosok di balik kronologi penculikannya sendiri. Ia menyusun skenario kriminal sebagai ajang balas dendam kepada Bruce, yang telah membawa kehidupannya berpindah dari pusat kota menuju tepi kota, kehilangan pekerjaan sebagai kontributor majalah, dan kemudian justru pergi meninggalkannya dengan gadis muda.

Enggan terjebak oleh perangkap Amy, Bruce lantas kembali ke kota Gotham untuk meminta bantuan Lucius Fox sebagai pengacara. Lucius pun menyarankan Bruce agar mengaku salah dan meminta maaf saja kepada Amy dari layar televisi.

Sementara itu di tempat terpisah, Amy terpaksa kehilangan semua uangnya setelah bertemu sepasang berandal. Sudah kehabisan uang jajan, Amy segera menghubungi Barney Stinson untuk menumpang hidup di rumah si mantan kekasih.

Di rumah Barney Stinson, Amy menonton suaminya di layar televisi. Melihat Bruce berubah menjadi bintang televisi, Amy pun jatuh cinta lagi padanya. Pada malam selanjutnya Amy berbalik menyusun skenario baru untuk menjebak Barney. Dia menyusun perangkap agar Barney terlihat sebagai orang yang telah menculik, menyandera, dan memperkosanya.

Barney terjebak oleh filosofinya sendiri, poor him.

Pada epilog, Amy tampak ingin memperbaiki kembali pernikahannya dengan Bruce, yang jelas saja ditolak mentah-mentah oleh Bruce. Tapi sayang, Amy sudah menanamkan benih-benih sperma Barney Stinson ke dalam uterusnya, dan media akan berbalik menyalahkan Bruce kalau pergi meninggalkan seorang istri yang sedang hamil.

Berganti tempat dengan Barney, kini Bruce yang harus terjebak oleh kejeniusan Amy selama-lamanya. Ibarat Warkop DKI, maju kena, mundur pun kena.

NARASI MENGUBAH REALITAS

Memang sudah menjadi salah satu rutinitas Mister Fincher gemar menghadirkan cerita layar lebar yang menyindir kehidupan manusia abad ke-21. Se7en, Fight Club, dan Facebook bisa menjadi deretan satire si sutradara di industri film.

Gone Girl mendemonstrasikan dengan menarik bagaimana narasi yang tersusun baik dan juga rapi akan dapat menguasai realitas. Mister Fincher memberi proyeksi jika umat manusia abad ke-21 selalu enggan, atau tak bisa melihat kenyataan kecuali berasal dari layar televisi. Media yang rajin memberitakan narasi apik pada umat manusia, entah bohong atau cuma fiksi.

We’re not gonna arrest anybody just ‘cause some blonde dunce says so (Kita tidak akan menangkap siapa pun hanya karena seseorang berambut pirang yang bodoh mengatakan seperti itu),” sebut si detektif ketika partnernya bertanya mengapa mereka tidak segera menahan Bruce Wayne di penjara.

Narasi yang disusun oleh Amy sendiri tersusun apik menyerupai reka-reka kriminal pada berita-berita televisi. Ada suami yang sering berlaku kasar, sering memberi tipu daya demi mendapat uang jajan lebih, dan klise dari semua kisah pertengkaran suami-istri di planet Bumi – istri dengan perut hamil.

You need to package yourself, so that people will truly mourn your loss. And America loves pregnant women (Kamu harus benar-benar mempersiapkan dirimu, sehingga orang-orang akan benar-benar meratapi kepergianmu. Dan Amerika cinta wanita hamil,” jelas Amy ketika menjalankan skenario kriminal Bruce Wayne.

Sebagai kelompok manusia yang membiayai hidup dari narasi, media pun tanpa henti mendulang emas dengan terus menayangkan kisah cinta tragis Bruce Wayne dan Amy Dunne laksana si monster psikopat dan istri sempurna. Seperti di saat mereka mengubah sudut pandang senyum terpaksa Bruce Wayne sebagai bukti kalau ia adalah pria yang tak punya hati, atau seperti di saat mereka menjadikan foto selfie Bruce Wayne dengan wanita lain sebagai pemanas narasi.

Beruntung Bruce memiliki Lucius Fox di sisinya. Lucius menyarankannya untuk tampil ke hadapan publik, berpura-pura sebagai pria ksatria, mengakui kesalahannya dan meminta maaf lewat program acara televisi. Bruce lalu berhasil mengambil alih kontrol opini publik terhadap narasi yang disusun oleh Amy.

A guy admitting that he’s a gigantic asshole on television? People empathize with that (Seorang cowok mengakui dia adalah seseorang yang super berengsek di muka televisi? Orang-orang berempati dengan itu),” terang Lucius pada Bruce, sembari menyelipkan satire indah.

Kalau di muka televisi, lebih baik menjadi manusia peminta maaf, daripada menjadi manusia yang tidak berbuat salah.

Abaikan realita dan fakta, yang terutama adalah narasi menarik.

Pada setengah durasi awal film, Mister Fincher pun memancing para penonton agar percaya jika Amy adalah manusia wanita idaman semua umat pria Bumi. Pintar, cerdas, suka membaca, indah, cantik, menarik, dan datang dari keluarga baik-baik tanpa sejarah penyakit diabetes atau kelamin.

Mister Fincher menyajikan dengan apik karakter ideal Amy lewat montase pada saat wanita tersebut menulis di buku hariannya. Semacam menulis status di kolom Twitter, tapi tanpa follower. Oleh karena tanpa follower, maka nihil tuntutan bagi Amy untuk berbohong, penonton pun jadi percaya narasi tertulis oleh Amy.

Lalu di saat Amy berubah menjadi Harley Quinn, penonton lantas sadar kalau sudah dipermainkan oleh ekspektasi.

Narasi versus realitas juga memaksa titel Gone Girl bukan sekadar representasi Amy Dunne yang sedang hilang entah kemana dari rumahnya, tapi juga hilangnya personalitas Amazing Amy pada epilog film.

Amy menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk memenuhi ekspetasi orang lain, karena orang tuanya telah menciptakan Amy sebagai The Amazing Amy ke hadapan publik. Sehingga lama-kelamaan batas di antara Amy Dunne dan The Amazing Amy menjadi bias. The Amazing Amy menjadi Amy.

Namun The Amazing Amy pun harus ikut berubah ketika Amy bertemu Bruce Wayne, karena Amy percaya kalau Bruce Wayne lebih tertarik pada the-so-called-cool-girl. Dan ketika ia menemukan Bruce Wayne ternyata sudah berselingkuh dengan wanita lain, Amy pun menyebut Bruce sebagai pembunuh. Pembunuh karakter.

Amy bukan lagi The Amazing Amy, bukan lagi the-so-called-cool-girl, kehilangan jati diri, dan berubah menjadi seorang weirdo.