Inception: Logika Sinema adalah Logika Mimpi

5
Inception Christopher Nolan

Inception, obat sakit kepala hasil olahan Christopher Nolan.

Kami ingin sekali menelanjangi film yang satu ini. Karya ketujuh Nolan setelah mendulang jutaan ribu nilai positif atas The Dark Knight. Garapan yang semakin menasbihkan identitasnya sebagai pendongeng meta, yang suka mengajak otak berputar.

[SPOILER ALERT] Mari kami ingatkan kembali pada narasi Inception.

Baca juga 1984 oleh George Orwell: Fiksi yang Menjadi Nyata

RINGKAS CERITA

Inception menceritakan kehidupan seorang pencuri yang bernama Dominick Cobb. Cobb memiliki koper besar dengan kekuatan mutan seperti Professor X. Dia gemar mencuri isi pikiran manusia. Masalah terbesarnya adalah, mantan istri Cobb, Mal, seringkali muncul mengganggu hobi dan kesenangannya Sebagaimana stereotype wanita-wanita di luar sana.

Bosan terus-menerus mencuri isi kepala,Cobb mencoba tawaran yang lebih besar, yaitu inception, menanamkan ide ke dalam otak manusia. Hal yang katanya mustahil, tapi sering kita lihat nyata pada aksi-aksi Romi Rafael atau ketika mendengar ibu Anda mengatakan Anda adalah pria paling tampan di seluruh galaksi.

Meski mustahil, Cobb tetap menerima tawaran tersebut.

Mengapa? Klise. Sebab ada jumlah tunai yang menggiurkan.

Cobb lantas membentuk kelompok untuk misi terbarunya. Siapa saja? Klise lagi. Satu orang sidekick, satu orang tipikal cool guy seperti chef Juna, satu orang wanita, dan satu orang kutu buku. Setelah komplotan pencuri dibentuk, si pemberi tawaran kemudian membeli satu buah pesawat, supaya Cobb beserta timnya mendapat celah untuk membius tidur si calon korban, Scarecrow.

Ironis. Scarecrow justru dibius.

Pada level mimpi pertama, mereka menculik Tuan Scarecrow ketika dia sedang menunggu taksi. Namun ternyata Cobb tidak begitu terampil – seekor kereta datang mengganggu proses penculikan. Maka kemudian Cobb dan teman-temannya menyelam ke dalam level mimpi kedua.

Pada level kedua, mereka berpindah posisi, duduk-duduk santai di lobi hotel. Cobb lantas meyakinkan Tuan Scarecrow kalau dia sedang berada di dalam mimpi, dan juga menipu dengan mengatakan dia sebenarnya adalah hansip yang bertugas menjaga isi kepala Tuan Scarecrow.

Setelah berhasil dibodohi, Tuan Scarecrow lalu mengajak Cobb untuk bermain salju di level mimpi yang ketiga. Tapi lagi-lagi, karena Cobb tidak terampil, Tuan Scarecrow dan si pemberi tawaran pekerjaan justru terbunuh dan pergi jatuh ke dalam limbo, level mimpi terdalam, dan katanya berbahaya.

Cobb dan Juno lantas ikut serta terjun ke dalam limbo. Di dalam limbo, Cobb justru mencuri kesempatan curhat pada Juno. Dia menceritakan kalau dia dan Mal pernah hidup selama bertahun-tahun di dalam limbo, dan di dalam limbo dia pertama kali melakukan inception kepada Mal. Lalu mengakibatkannya menjadi gila dan mati karena terjun dari ketinggian tanpa parasut.

Inception MAL

Setelah menemukan Tuan Scarecrow, Juno lantas mengajaknya agar ikut lompat bersama-sama dari ketinggian, tanpa parasut seperti Nyonya Mal. Tapi karena masih berada di dalam limbo, mereka justru terbangun pada level mimpi yang ketiga, tidak jadi bertemu ajal seperti Mal. Entah kenapa bisa. Tuan Scarecrow kemudian berhasil menikmati momen perpisahan dengan ayahnya di level mimpi ketiga.

Setelahnya, mereka semua kembali bangun ke dunia nyata lewat adegan yang super lambat, kecuali Cobb. Cobb tetap tinggal di dalam limbo untuk mencari si pemberi tawaran pekerjaan. Sebab dia adalah orang yang akan memberi gaji.

Cobb berhasil menemukan si pemberi tawaran pekerjaan, tapi dia sudah tampak tua, sementara Cobb justru tidak bertambah usia satu hari saja. Mungkin aturan yang ada di dalam limbo jauh lebih kompleks daripada yang kami duga. Terutama di saat mereka berdua tiba-tiba saja terbangun kembali di dalam pesawat, tanpa harus melewati rangkaian gerak super lambat..

Pada epilog, Cobb dan teman-temannya berhasil tiba di Los Angeles, kota yang kalau menurut La La Land adalah dimana semua mimpi menjadi nyata. Usaha inception sendiri pada akhirnya berhasil dan memaksa si pemberi tawaran pekerjaan agar segera membersihkan nama Cobb dari segala tuntutan hukum.

Cobb kemudian dapat bertemu lagi dengan anak-anaknya. Tapi sebelumnya, Cobb sempat bermain beyblade dulu.

Film pun berakhir pada posisi gasing yang terus berputar, namun seakan-akan mau jatuh.

Begitulah Nolan. Sutradara baik hati. Kalau ditutup dengan ambigu, yang menonton Inception bersama gebetan jadi punya topik obrolan.

LOGIKA MIMPI DAN SINEMA pada Inception

Inception adalah film yang berusaha menampilkan labirin di dalam kepala manusia. Bayangkan ia adalah prekuel dari serial televisi Westworld.

Pada ingatan Cobb, Mal sedang berada di tepi jendela dan bersiap-siap terjun bebas menuju kematian. Bagaimana dia bisa tiba-tiba ada di sana? Apa karena Cobb sedang ingin selingkuh? Atau karena Cobb memang sudah pikun? Sampai-sampai dia lupa nama gedung, juga nomor kamar yang saling dijanjikan dengan Mal.

Sementara juga, pada adegan final, Cobb akhirnya dapat melihat wajah putra dan putrinya, setelah pada proyeksi-proyeksi sebelumnya ia hanya bisa menatap punggung anak-anaknya. Tapi malah menjadi janggal, sebab perawakan kedua anaknya tidak terlihat bertambah usia sedikit pun.

Jadi, apakah Cobb masih ada di dunia mimpi? Atau sudah kembali pada realitas? Atau sejak dari awal, Cobb memang sedang bermimpi?

Seperti yang disajikan pada penutup, putaran gasing Cobb masih terus berlanjut, sedikit bergoyang, seakan mau jatuh, namun belum juga kita tahu hasil akhirnya, justru terpotong dan dilanjutkan dengan roll credit.

Inception memang disengaja memiliki akhir membingungkan.

Kenapa?

Sebab premis utama Inception bukanlah tentang Cobb masih bernafas di dunia mimpi atau sudah kembali pada realitas, tapi berfokus pada logika mimpi dan sinema.

Ini kenapa kami ikut-ikutan menyebut Nolan adalah pendongeng meta.

Lewat Inception, Nolan menyampaikan jika logika pada saat menonton film adalah sama dengan logika yang bekerja ketika manusia sedang bermimpi.

“You never really remember the beginning of a dream, do you? You always wind up right in the middle of what is going on,”  jelas Cobb pada Juno.

Seperti pada saat sedang bermimpi, apa yang kita alami ketika menonton film pun seragam dengan ucapan Tuan Cobb. Di saat sedang menonton film, manusia sering dihadapkan pada adegan-adegan yang entah bagaimana awal mulanya. Contoh nyatanya adalah pada saat Cobb mengucapkan teori tersebut. Dia dan Juno sedang menikmati kopi di sebuah café, dan ketika Nona Juno selesai diberitahu… BAAAMMM!! Mereka kembali ke dunia nyata, Cobb dan Nona Juno lantas tampak terbius pada koper berkekuatan mutan Professor X.

Bukan hanya karena twist ala-ala Nolan, tapi juga karena adegan tersebut menunjukkan salah satu pesan kunci yang kami maksud sebelumnya. Kita tidak melihat bagaimana awal mula Juno dibius sebelum berbagi mimpi dengan Cobb. Nolan memang sengaja tidak memberikannya, kita cukup menerima saja alur cerita tersebut. Seperti mimpi, kita terima saja kalau tiba-tiba Cobb dan Juno sedang duduk di sebuah café menikmati kopi hitam, entah bagaimana awal mulanya.

Kondisi serupa selalu terjadi pada narasi film apapun. Sebuah film bisa melompat maju menuju lini waktu yang jauh ke depan atau mundur ke belakang tanpa penjelasan yang berarti atau pasti bagaimana bisa si karakter tiba-tiba sampai di sana, dan kita para penonton? Seperti sedang bermimpi, menerima adegan tanpa protes.

Sepanjang narasi Inception berlanjut, Nolan konsisten menampilkan paralelisme di antara logika sinema dan mimpi. Seperti pada saat Cobb bertemu dengan si pria tipikal Chef Juna di Mombasa. Kita tidak melihat bagaimana Cobb memesan tiket pesawat, lalu pergi ke bandara, atau diminta oleh pramugari agar duduk ke sebelah pintu darurat, adegan cuma pergi dari Cobb yang sedang bercakap-cakap dengan Robin lalu ke panorama kota Mombasa. Kita bisa saja berpikir kalau adegan itu adalah sebuah mimpi.

Serupa seperti di saat si pemberi tawaran pekerjaan bisa muncul tepat waktu menyelamatkan Cobb dari kejaran para penagih hutang. Sedang apa dia di Mombasa? Dia punya banyak uang, dia bisa kirim orang lain kalau cuma ingin melindungi seorang Cobb.

Tapi lagi-lagi, kita cukup bisa menerima saja adegan tersebut.

Jadi, apakah Cobb sedang bermimpi ketika bertemu Chef Juna di Mombasa?

Apakah Cobb sedang bermimpi ketika Mal terjun dari jendela hotel?

Apakah Cobb sedang bermimpi ketika bertemu anak-anaknya lagi?

Memaksa otak mencari tahu apakah Cobb sedang bermimpi atau bukan, rasa-rasanya seperti terjebak di dalam paradoks saja.

Bagaimana bisa kita mengetahui yang mana realitas dan yang mana adalah mimpi, ketika kita menonton sebuah film tentang mimpi, sementara logika sinema bekerja sebagaimana logika mimpi bekerja?

Jawabnya adalah tidak bisa. Seperti bagaimana kalian, para manusia menerima agama dari orang tua kalian. Cukup percaya dan terima saja sudah.

Nolan pun beberapa kali mengeksposisi kalimat, “Take a leap of faith” pada sejumlah dialog. Misalnya di saat Cobb menerima tawaran pekerjaan inception, di saat Mal merayu Cobb agar ikut terjun bebas tepi jendela hotel, atau di saat Cobb akhirnya kembali bertemu dengan si pemberi tawaran pekerjaan di dalam limbo.

Lantas menjadi alasan mengapa ketika Cobb sampai di rumahnya, dan dapat melihat kembali wajah anak-anaknya, dia tak lagi menunggu apakah gasing kesayangannya akan terus berputar atau justru akan berhenti lalu terjatuh. Dia sudah enggan peduli lagi yang mana realitas, yang mana mimpi. Dia memilih percaya pada realitas apapun yang hadir pada kedua matanya.

Nolan sudah memberikan jawabnya. Tidak ada misteri yang tersisa pada Inception.