The Joker: Satu Hari yang Buruk agar Kita Menjadi Badut Kriminal

12
The Joker Nihilism Batman
[Comics Alliance]

The Joker, penjahat ikonik, tapi idola bagi banyak penduduk Bumi. Badut sadistik, tapi dicintai oleh banyak manusia.

Sudah jadi pengetahuan umum kalau The Joker adalah maniak yang sadis, agen kekacauan dan kehancuran. Sebagai musuh abadi Batman, ia sudah menjadi dalang dari sekian banyak kriminalitas kejam di kota Gotham. The Joker bertanggung jawab atas lumpuhnya kedua kaki Barbara Gordon, putri James Gordon, dia pun aktor utama dari kematian Rachel Dawes, lantas hilangnya normalitas Harvey Dent. Pada beberapa installment, dia juga yang membunuh Thomas dan Martha Wayne.

The Joker adalah penjahat sempurna, tapi disukai pula oleh banyak manusia. Catatan kriminalnya menumpuk tinggi, tapi justru melimpah juga manusia yang kepincut oleh karakternya. Kenapa The Joker dapat menjadi salah satu ikon budaya populer? Kenapa ucapan-ucapannya justru sering dikutip sebagai kalimat bijak?

Sebab The Joker adalah penjahat yang unik, yang pintar, yang cerdik, yang tingkah lakunya spontan, yang selalu berlaku kejam dan tanpa motivasi jelas?

Boleh saja. Tapi lebih dari sekadar cerdik atau spontan, penciptaan karakter The Joker juga menyimpan pesan horor.

Entah menyajikan momen, “Mirip aku banget ya,” atau, “Wah, bener juga ya,” relateable dan masuk akal sering menjadi syarat utama sebuah karya dapat disukai oleh banyak manusia. Maka wajar kenapa lagu cinta yang menggelikan akan sering berputaran dimana-mana, biarpun lirik atau aransemennya seringkali hanya sekadar jadi–siapa sih yang tidak bermasalah dengan cinta?

Lantas, menjadi tanya sebenarnya, bagaimana bisa figur sadistik, kejam, bengis, dan cerdas seperti The Joker justru mampu beresonansi dengan manusia, umat yang katanya sering mengutuk aksi jahat.

Baca juga Game of Theories: Bagaimana Game of Thrones akan Berakhir

The Joker sering dideskripsikan sebagai lunatik, biadab, bermental labil, gila, senang bercanda dan juga mudah tertawa. Sering keluar masuk fasilitas Arkham Asylum, perilaku si Pangeran Kriminal berulang kali membahayakan nyawa penduduk kota Gotham. The Joker senang mengacaukan stabilitas kota Gotham dengan berjuta-juta jenis kriminal yang sembarang, serta mustahil ditebak arah tujuannnya.

Tapi, apakah dia benar-benar seorang lunatik? Benarkah dia cuma penjahat tanpa rencana? Benarkah dia cuma ingin melihat dunia di sekelilingnya kacau balau?

Pada The Dark Knight (2008), The Joker menjebak penduduk Gotham lewat skenario panjang dan kompleks, namun tersusun rapi. Setelah meneror keamanan kota Gotham dan memaksa penduduknya pergi dari kota, dia ternyata sudah menyiapkan bahan peledak di tengah kapal feri yang akan membawa seluruh penduduk sipil kota Gotham dan para tahanan penjara secara terpisah. Lalu ia memberi kesempatan kepada masing-masing penumpang feri agar dapat selamat dari ancaman bom, apabila penumpang pada salah satu feri bersedia meledakkan bom di feri berlawanan. The Joker pun memberi pengendali bom kepada masing-masing penumpang feri. Apabila penumpang dari kedua feri sama-sama tidak bersedia meledakkan bom di feri berlawanan dalam batas waktu tertentu, maka kedua feri akan meledak, hancur bersamaan.

Lain kata, The Joker dengan enteng berucap, “Kalau ingin tetap hidup, kamu harus bunuh orang lain.”

Skema kejam untuk menguji moralitas, memaksa manusia berada di ambang pilihan yang dapat mengaburkan batas benar dan salah, batas baik dan buruk. Skenario brilian, dan bukan pekerjaan seorang laki-laki tanpa rencana. Kontras, jebakan seperti itu adalah hasil pekerjaan dari sosok yang cerdas dan penuh perhitungan. Rencana matang yang sdieksekusi sempurna.

Apa The Joker cuma seorang lunatik? Lihat dulu jauh ke belakang, menggali asal usul kedatangannya di kota Gotham.

Memang belum ada konfirmasi resmi atau cerita pasti seputar kelahiran The Joker. Ada banyak sekali spin-off dan installment yang menceritakan bagaimana karakternya tercipta pertama kali. Meski begitu, poin utama dari setiap spin-off selalu sama, Si Badut Sadistik mengalami satu hari yang buruk sebelum menjadi seorang pangeran kriminal seperti sekarang. Satu hari yang buruk.

Salah satu yang populer adalah dari seri Batman: The Killing Joke.

Sebelum berevolusi menjadi pangeran kriminal, The Joker hanyalah manusia biasa. Ia adalah seorang mantan asisten laboratorium kimia yang baru saja meninggalkan pekerjaan utamanya, agar bisa fokus mengejar karir menjadi komedian. Dia juga memiliki seorang istri yang sedang mengandung anak pertamanya.

Sayang, The Joker gagal berkepanjangan menjadi seorang komedian. Penampilannya di panggung-panggung bar kecil tidak pernah memuaskan penonton. Kondisi itu lantas menekan situasi finansialnya. Untuk menyehatkan kembali kondisi keuangannya, The Joker ikut serta dengan komplotan pencuri yang sedang berencana merampok laboratorium kimia tempatnya dulu bekerja. Namun pada hari operasi perampokan The Joker mendapat kabar jika istri dan anaknya yang belum lahir meninggal akibat kecelakaan.

Mendapat berita duka, The Joker dituntut oleh komplotan pencuri agar tetap menjalani tugasnya di operasi perampokan. The Joker terpaksa bersedia, dan ketika operasi itu mulai tampak akan berhasil, Batman datang mengganggu–berusaha menghentikan usaha kriminal The Joker dan komplotan yang baru saja ia kenal.

Pada saat pengejaran oleh Batman, The Joker lalu harus terjatuh ke dalam wadah besar berisi cairan kimia berbahaya. Akibatnya, The Joker pun mengalami perubahan pada fisiknya. Rambutnya berubah berselimutkan warna hijau, kulitnya mengelantang putih pucat, serta bibirnya menjadi merah sekental darah di arteri. The Joker pun lahir. Rentetan keterpurukan dalam satu hari lantas menciptakan The Joker seperti dikenal sekarang. Dia menemukan persepsi baru tentang hidup, penolakan terhadap semua nilai moral dan hidup yang nihil. The Joker menjadi ekstrimis nihilis.

Nihilis cenderung meyakini jika alam semesta dan isinya diciptakan dengan tanpa tujuan sama sekali. Nihilis percaya jika tidak ada nilai moral yang absolut, tidak ada benar atau salah, tidak ada baik atau buruk, tidak ada nilai pasti pada etika sekuler. Hidup hanya episode-episode sembarang untuk menunggu kematian.

Populer berkat filsuf asal jerman Friedriech Nietzsche, konsep nihilisme sering disebut-sebut akan pernah hinggap di kepala setiap manusia dan mempengaruhi tingkah lakunya. Menurut Nietzsche, semua umat manusia memiliki akar nihilis, yang dibutuhkan hanya satu krisis besar untuk dapat menumbuhkannya sebagai buah pikiran.

Kemudian, layaknya ekstrimis, The Joker ingin buah pikiran itu tumbuh di setiap kepala penduduk Gotham..

The Joker Nihilism
[Oxford Dictionaries]

The Joker selalu berusaha membawa penduduk kota Gotham menuju krisis, agar mereka dapat menyadari bahwa eksistensi umat manusia dan nilai pasti moralitas adalah hampa. Ia memancing Batman yang tak pernah mau membunuh agar sedia membunuhnya, ia memaksa James Gordon agar menuju kegilaan dengan cara menyiksa Barbara, ia menipu daya Harvey Dent agar menanggalkan sifat-sifat ksatrianya dan berubah menjadi The Two-Face, dan ia menyudutkan posisi penduduk sipil kota Gotham agar rela meledakkan feri yang sedang membawa tahanan-tahanan penjara.

Sebagai ekstrimis nihilis, The Joker sudah mengabaikan nilai-nilai kehidupan sebelumnya, dan dia ingin semua orang ikut terjun ke dalam jurang gelapnya. Solusi terbaiknya adalah dengan menghadirkan krisis besar, yang dapat menantang penduduk Gotham agar mempertanyakan kembali nilai-nilai moral yang sebelumnya mereka pegang teguh.

Batman di kubu seberang adalah sisi berseberangan. Karakternya boleh saja lahir dari kondisi serupa dengan The Joker–satu hari yang buruk. Tapi Bruce Wayne masih belum menemukan krisis, meski ia harus kehilangan kedua orang tuanya, Bruce masih memiliki Wayne Enterprise dan Alfred. Apalagi ia juga masih dikelilingi wanita-wanita kelas bidadari pada kesehariannya. Bruce belum pernah merasakan krisis. Maka setelah krisis, ia beri reaksi berbeda, menjadi seorang pahlawan dengan filosofi kartun.

Batman percaya jika pada dasarnya sifat umat manusia adalah baik hati. Batman percaya jika manusia pasti akan selalu memegang nilai moralitas terbaik, ia pun senantiasa menunjukkannya dengan menjaga etos kerjanya–tidak pernah membunuh musuh-musuhnya.

Ini lantas mengapa dalam berbagai installment, The Joker sering memancing Batman agar mengkhianti etika moralnya, agar membunuh dirinya. Dia ingin menunjukkan kepada Batman jika manusia pada dasarnya adalah sama dengan dirinya.

Beruntung, The Joker belum pernah berhasil. Dia memang sempat hampir berhasil pada The Dark Knight–menggiring Harvey Dent ke jurang gelap. Berhasil meracuni “The White Knight” agar ikut ke dalam lingkaran filosofi nihilis ekstrim. The Joker berhasil membuktikan kalau sosok terbaik dari warga kota Gotham pun dapat kehilangan nilai moralitasnya, cukup dengan satu kekacauan. Cukup dengan satu hari yang buruk.

Layaknya Harvey Dent, setiap manusia juga punya kapabilitas untuk berpikir serupa dengan The Joker. Semua manusia memiliki bibit nihilis di pikirannya. Bahkan semua manusia pada awalnya terlahir nihilis, sampai kemudian orang tua mereka masing-masing memberi label terbaru dan makna-makna tentang kehidupan, yang didapat dari orang tua sebelumnya.

Nihilis bukan persepsi yang bisa dipilih bagi kebanyakan manusia. Ibarat jerawat, persepsi nihilis tinggal menunggu krisis, maka dia akan muncul.

Adalah normal kalau setiap manusia selalu punya keinginan untuk menjadi figur yang baik, menurut pada aturan, lalu mengikuti nilai-nilai moral yang sudah tertanam sejak lahir, dan enggan jadi kriminal. Mereka, para manusia juga ingin senantiasa diterima oleh lingkungannya. Tapi bagaimana kalau seorang manusia juga memiliki ide yang malas mengikuti nilai-nilai moral tersebut? Apa mereka jadi pengikut The Joker?

The Joker Carl Jung The Shadow

Menurut psikoanalisis Carl Jung, manusia selalu punya hawa nafsu untuk berbuat nakal sekali-kali, dia menyebutnya, “The Shadow (bayangan).” The shadow adalah alasan kenapa komentar-komentar pada media sosial Facebook, Youtube, atau akun Instagram sering panas seperti neraka lapis ketujuh. The shadow adalah bagian dari personal manusia yang sengaja mereka abaikan.

The shadow juga alasan mengapa serial-serial permainan dengan atmosfer kriminal dan kekerasan seperti Grand Theft Auto, The Punisher, Left 4 Dead, Mortal Kombat, atau Manhunt bisa senantiasa laris di pasaran. Manusia-manusia itu memilih menyalurkan eksistensi the shadow ke ranah permainan, dan di saat mereka melihat karakter fiktif seperti The Joker, rasa suka dan cinta bisa saja lepas kendali.

The Joker adalah lukisan terbaik tentang the shadow.

The Joker adalah semua hawa nafsu manusia yang ingin sekali-sekali berbuat di luar kultur biasa umat manusia. Yang ingin sekali-sekali berbuat buruk. Yang ingin juga bercerita jika hidup adalah hampa. Yang ingin bebas percaya kalau benar, salah, baik, buruk adalah cerita fiksi belaka, dan berteriak kalau etika sekuler adalah sekadar omong kosong. The Joker adalah sisi gelap seorang manusia yang sering mereka sembunyikan, bahkan dari orang terdekat mereka sekali pun. Meski pada beberapa kesempatan, sisi gelap itu sempat keluar juga dari persembunyian.

Sering terjadi jika sejumlah manusia pada akhirnya memilih merangkul the shadow, dan menjadi tidak peduli pada apapun lagi. Persepsi mereka tentang batas benar dan salah, baik dan buruk, menjadi kabur. Mereka lantas menjelma sebagai nihilis, mungkin perlahan menuju ekstrim. Seperti bagaimana misalnya pembunuhan yang justru dilakukan oleh manusia ramah nan baik hati. Sebutlah mereka yang menjadi pembunuh setelah menemukan pasangannya berselingkuh, padahal sebelumnya mereka hanyalah penduduk biasa yang cinta istri, cinta anak, dan cinta keluarga.

The Joker adalah kalian. The Joker selalu ada di alam bawah sadar manusia. Yang dibutuhkan hanya satu hari yang buruk.

Pertanyaannya, seperti apa hari yang buruk untuk kalian?