The Lobster: Perjuangan Jomblo Menemukan Cinta Sejati

0
[Sajid Algar]

Romantisme cinta bukan selamanya tentang keindahan, tapi juga tragedi. ‘The Lobster’ mampu menampilkannya dengan sentuhan satire yang manis.

‘The Lobster’ merupakan film garapan sutradara Yorgos Lanthimos dengan ide cerita orisinal, unik, absurd, namun relevan dengan norma-norma sosial umat manusia Bumi masa kini. ‘The Lobster’ berhasil menampilkan manusia-manusia tanpa pasangan, atau jomblo, sebagai materi komedi kelas atas.

Pada humanitas di Indonesia sendiri kami sering menemukan meme yang menjurus bullying pada kaum jomblo. Pada kehidupan sehari-hari pun para jomblo selalu dikasihani dan dijadikan bulan-bulanan di setiap perkumpulan.

Baca juga: The Big Lebowski – Komedi Abadi Sejak 1998

Menonton ‘The Lobster’, kalian akan menyaksikan bahwa pada suatu ekosistem tertentu, menjadi seorang manusia tanpa kekasih bukanlah sekedar bahan canda, tapi adalah tindakan menyimpang dengan konsekuensi serius.

Baca juga: Bukan Cerita Cinta untuk Hari Valentine

[SPOILER ALERT]

KESEMPATAN KEDUA

David (Colin Farrell) harus menjalani karantina di sebuah hotel khusus setelah ditinggal lari oleh sang istri dengan laki-laki lain. Menjalani perawatan di hotel khusus merupakan suatu keharusan bagi setiap orang tanpa pasangan dalam humanitas distopia dimana David tinggal.

Hotel tersebut pun memiliki beberapa ketentuan yang harus ditaati. Setiap penghuni hanya diberi waktu selama 45 hari untuk mendapatkan pasangan hidup. Jika gagal, maka konsekuensinya adalah bertransformasi menjadi binatang. Yup, secara harifiah menjadi seekor binatang dengan prosedur tertentu.

Setiap manusia berhak memilih ingin menjadi binatang apa jika gagal menjalani perawatan. Pada umumnya mereka akan memilih menjadi anjing agar bisa dikembalikan kepada keluarganya, namun David memilih untuk menjadi lobster, karena lobster memiliki umur yang panjang.

[Scarlett] Nasib saudara David yang sebelumnya telah menjalani masa karantina namun gagal

TERCIPTA TOLAK UKUR CINTA SEJATI

Seperti halnya binatang, pengurus hotel menentukan tolak ukur sebuah cinta sejati dengan adanya kesamaan di antara sepasang manusia. Seperti burung hanya bisa berpasangan dengan burung, atau kuda hanya bisa berpasangan dengan kuda. Dalam menemukan pasangan ideal, setiap penghuni hotel harus menemukan belahan jiwa yang memiliki kesamaan dengan dirinya.

Seperti teman David, John, yang rela melukai hidungnya sendiri agar dapat berpasangan dengan seorang gadis yang selalu mimisan. Lantimos sukses menampilkan jika di dunia distopia ‘The Lobster’ esensi menemukan cinta sejati bukan lagi tentang kebutuhan emosional, namun keharusan untuk bertahan hidup. Tidak ada cinta di dalamnya.

MELARIKAN DIRI dari NORMA SOSIAL DEMI CINTA SEJATI

Tak kuat dengan standarisasi hotel yang konservatif dan tidak masuk akal, David memutuskan melarikan diri, dibantu oleh seorang pelayan hotel yang ternyata merupakan mata-mata dari kaum radikal. David akhirnya bergabung dengan kaum pembelot, hidup di hutan sebagai seorang single. Memiliki pasangan justru merupakan suatu pelanggaran pada sekte pembelot.

Setiap anggota perkumpulan harus hidup sendiri dan mengurus dirinya masing-masing. Mereka bahkan memiliki pemutar musik, agar dapat berdansa sendiri. Namun, namanya cinta bisa datang kapan pun tanpa diduga. David jatuh hati dengan seorang wanita yang ternyata juga menaruh perhatian padanya.

David mengenal wanita tersebut sebagai wanita yang memiliki rabun dekat, sama seperti dirinya. David semakin terobsesi dengan wanita tersebut, dan menyakini bahwa wanita itulah cinta sejatinya. Jalinan kasih pun terjadi di antara mereka secara diam-diam.

Mengetahui salah satu anggotanya melalukan pelanggaran, pemimpin perkumpulan pembelot tidak tinggal diam. Ia membuat si wanita berabun dekat buta, sehingga tidak memiliki kesamaan lagi dengan David. Tapi David tidak menghentikan langkahnya untuk tetap bersama kekasihnya. Mereka pun kabur dari perkumpulan pembelot.

[Scarlett] Saat-saat terakhir sebelum David memutuskan untuk membutakan matanya
Pada adegan terakhir, David memutuskan untuk melukai matanya dengan pisau agar menjadi buta, seperti kekasihnya. David dan kekasihnya belum dapat lepas dari tolak ukur cinta sejati yang telah ditetapkan oleh masyarakat konservatif, yang sebelumnya mereka tinggalkan. Mengabaikan kesempatan memelihara utuh matanya, membantu sang kekasih menjadi “mata” ketika menjalani hidup bersama.

Bukan ‘kah cinta sejati merupakan suatu kesatuan dari dua umat manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya? Lebih baik melengkapi satu sama lain, daripada sama-sama mengurangi diri.