Album Konsep: Bercerita dengan Musik

3

Mulai dari catatan hidup seorang musisi sampai dengan isu sosial, album konsep adalah wadah terbaik bagi para musisi untuk bercerita.

Album konsep biasanya terbentuk dari satu tema yang spesifik. Entah cerita tentang seorang figur ikonik atau topik tertentu yang ingin disampaikan oleh si kreator album. Pada proses pengerjaannya pun memperhatikan kesinambungan di antara setiap track-nya, baik warna musik, gaya bahasa, dan maknanya.

Baca juga: Mengenal dan Melihat Lebih Dekat Film Noir

Musisi, sebagai kreator pun membutuhkan usaha yang lebih besar daripada biasanya, ketika mencipta sebuah album konsep. Menjadi faktor utama mengapa sedikit musisi yang sering merilis album konsep di sepanjang karirnya.

Album konsep tercipta hanya ketika imajinasi dan hasrat berkarya musisi sedang tinggi-tingginya. Dengar saja album-album berikut untuk jelasnya, lalu segera ke record store terdekat, dan beli cetak fisiknya.

SONG for the DEAF (2002) oleh Queen of The Stone Age

Album studio ketiga dari unit stoner-rock Queen of The Stone Age yang berhasil mendatangkan kesuksesan komersil bagi Josh Homme dan kawan-kawan. Punya konsep sederhana–atmosfer seperti sedang mendengarkan radio di dalam perjalanan sepanjang gurun pasir California, dari Las Vegas hingga Joshua Tree.

Diawali dengung mesin mobil dan suara penyiar radio pada track pertama, ‘You Think I Ain’t Worth A Dollar, But I Feel Like A Millionaire’, dan juga pada setiap peralihan track-track selanjutnya, ‘Song for the Deaf’ tepat kalian putar saat terjebak di dalam mobil di tengah perjalanan ke luar kota.

THE WALL (1979) oleh Pink Floyd

Bicara tentang album konsep, akan hina kalau lupa menyebut nama pelaku utamanya, Pink Floyd, dan salah satu karya terbaik mereka, ‘The Wall’.

Album ke-11 dari unit rock-psikedelik asal Britania tersebut merupakan salah satu album konsep terbaik sepanjang masa. ‘The Wall’ menyajikan karakter fiktif bernama Pink yang menjadi fokus cerita. Penciptaan tokoh Pink terinspirasi dari karakter personal sang bassist, Roger Waters, dan mantan vokalis band, Syd Barret.

Pada album, diceritakan Pink harus menghadapi lingkungan yang membuatnya merasa terisolasi, sebab memiliki ibu yang over-protective. Sementara di sekolah, Pink juga harus merasa terjebak oleh sistem pendidikan yang keras.

Pink Floyd menggunakan tembok (the wall) sebagai metafora bagaimana Pink merasa terkekang dan terisolasi dari dunianya sendiri.

THE RISE and THE FALL of ZIGGY STARDUST and THE SPIDERS from MARS (1972) oleh David Bowie

David Bowie memang identik dengan sebutan “musisi bunglon” yang selalu hadir bersama inovasi terbaru pada setiap albumnya. Dan menggunakan kesempatan merilis album studio kelima, Bowie mencoba memperkenalkan sosok alter ego-nya, bernama Ziggy Stardust.

Ziggy Stardust adalah sesosok alien androgini, berprofesi sebagai musisi rock, yang sedang ingin menyampaikan pesan tertentu kepada umat manusia di muka bumi. Ziggy Stardust sering tampil bersama band pengiring, The Spiders from Mars.

Kehadiran Ziggy Stardust di industri musik merupakan salah satu karya terbaik David Bowie. Menuai banyak kritik positif, meski juga harus diiringi dengan isu tentang orientasi seksualnya. Library of Congress bahkan pernah memberi klaim kalau album Ziggy Stardust memiliki nilai sejarah, budaya, dan seni yang patut diapresiasi.

AMERICAN IDIOT (2004) oleh Green Day

Salah satu album konsep terbaik di millenium 2000. Lahir dari kreativitas trio punk-rock California, Green Day, ‘American Idiot’ menghadirkan karakter anti-hero bernama Jesus of Suburbia. Seorang pemuda yang bingung akan lingkungan sosialnya, pada saat kondisi politik di Amerika sedang goyah, disertai horor akan perang di negeri Irak.

Memiliki alur cerita yang apik dan jelas seperti sebuah novel, ‘American Idiot’ pun sering diberi sebutan “punk-rock opera” oleh para kritikus musik.

Pada tahun 2009, ‘American Idiot’ juga diadaptasi menjadi satu pertunjukan musikal di panggung Broadway, dan sampai sampai sekarang masih sering dibawakan di panggung-panggung teater lainnya di negeri Paman Sam.

GOOD KID M.A.A.D CITY (2012) oleh Kendrick Lamar

Sebagai seorang musisi, wajar kalau Kendrick Lamar ingin mengabadikan kisah hidupnya ke dalam bentuk musik.’Good Kid M.A.A.D City’ merupakan percobaan atas ambisinya tersebut.

Serupa buku autobiografi, album kedua Lamar di tahun 2012 mengisahkan bagaimana ia tumbuh besar di Compton, California, bersama kehidupan yang begitu dekat dengan kriminal dan lingkaran gelap narkoba.

THE BLACK PARADE (2006) oleh My Chemical Romance

Layaknya David Bowie dan Ziggy Stardust, My Chemical Romance tampil dengan kepribadian ganda pada perilisan album yang ketiga. The Black Parade, begitu identitas Gerard Way dan kawan-kawan yang membawa filosofi tentang kematian dengan megah dan kental akan nuansa gelap.

Bersama ‘The Black Parade’, My Chemical Romance juga berhasil menegaskan posisi mereka di barisan musisi arus utama dan berpengaruh di industri musik 2000-an.

SINESTESIA (2015) oleh Efek Rumah Kaca

Unit rock-alternatif Efek Rumah Kaca sekali lagi menunjukkan kapasitasnya sebagai musisi kelas atas pada ‘Sinestesia’. Ambisius dan berbuah manis. Bukan sekadar album musikal biasa, tapi justru kaya akan warna.

Warna, menjadi tema utama pada album konsep pertama dari Cholil Mahmud dan kolega. Mereka mengandalkan macam-macam warna sebagai pembawa pesan dari setiap lagu di dalam album. Membungkus setiap track, mewajahi atmosfer dari setiap track.