Album-Album Musik Terbaik di Tahun 2017

1
[Flickr] Foto oleh David Lee

Bagi kebanyakan humanoid, tahun 2017 dianggap punya segudang catatan buruk di planet Bumi. Mulai dari resmi bertahtanya Donald Trump di kursi pemerintahan negeri adidaya Amerika Serikat, lalu kasus-kasus penembakan brutal di sejumlah tempat dan konser musik, hingga kematian Chris Cornell dan Chester Bennington di pertengahan tahun tahun yang lalu.

Yes, 2017 sucks. Tapi tidak untuk industri musik. Terlepas dari kepergian tragis frontman Soundgarden dan Linkin Park, dunia musik di tahun 2017 nyatanya melahirkan begitu banyak karya kelas atas. Sejumlah album dirilis bergantian sejak awal tahun sampai akhir yang mulai dekat. Ada dari mereka yang kembali dari hiatus, ada juga dari mereka yang sudah lama bergulat dengan nada.

Pertanyaannya, siapa yang terbaik?

Baca juga: Marvel Ungkap Para Pemegang Infinity Stones

15. VILLAINS oleh Queens of the Stone Age

20 tahun terus berkarya, gaya bermusik Queens of the Stone Age tentu sudah berkembang cukup jauh dari awal kemunculannya. Meski begitu, Josh Homme dan kolega selalu ingat satu hal penting di setiap album mereka, energi eksplosif. ‘Villain’ pun bukan pengecualian. Indah, segar, gelap, lamban, cepat, rock, dance, brutal, keras, jujur, dan seksi bercampur jadi satu.

14. AFTER LAUGHTER oleh Paramore

Kembalinya Zac Farro di belakang instrumen drum ternyata tidak mengembalikan Paramore pada akar musiknya, pop-punk dan emo. Zac justru mempercantik evolusi Paramore menjadi lebih menarik di album yang kelima. Bernuansakan synth-pop 80-an yang ceria dan komposisi beat yang berlapis-lapis.

Langkah jitu menyembunyikan lirik-lirik depresif, huh?

13. UTOPIA oleh Björk

Album dengan durasi terpanjang yang pernah dihasilkan oleh Björk, si penyanyi eksperimental asal Islandia. Bersenjatakan aransemen musik techno di lantai dansa, mendengarkan ‘Utopia’ sama halnya dengan merelakan imajinasi terliar kalian menari-nari di antara bunga-bunga di taman Eden.

12. PURE COMEDY oleh Father John Misty

Menarik atau menggangu pikiran? Impresif adalah ketika Joshua Tillman berhasil menyusun album yang sama-sama memukau di telinga, tapi juga melecutkan gelisah di dada. Album ‘Pure Comedy’ berhasil menampilkan kecerdasan Tillman memadukan humor dan isu sosial di kehidupan manusia.

11. DARK MATTER oleh Randy Newman

Berjalan jauh dari album ‘Harps and Angels’ di tahun 2008, komposer kenamaan Disney, Randy Newman lagi-lagi memperdengarkan magisnya di antara tangga-tangga nada. ‘Dark Matter’ terdengar kompleks, namun tetap di ranah pop-teater. Ceria dan unik, tapi juga memancing sendu.

Newman is really in a whole new level.

10. MASSEDUCTION oleh St. Vincent

Terus-menerus menjelajah batas terakhir musikalitasnya, Annie Clark adalah salah satu seniman progresif yang harus selalu diperhitungkan. Setiap albumnya senantiasa beri impresi sosok yang berbeda. Tak terkecuali ‘MASSEDUCATION’ yang penuh warna. Eksperimental dan juga tetap menghibur.

9. HUMANZ oleh Gorillaz

6 tahun berselang dari album ‘The Fall’, band animasi karya Damon Albarn dan Jamie Hewlett pada tahun 2017 ini kembali lagi mencuri perhatian dengan ‘Humanz’. Biarpun belum sebanding dengan ‘Demon Days’ atau ‘Plastic Beach’, album terbaru ‘Gorillaz’ layak berada di jajaran atas. Apalagi ditambah dengan kehadiran para musisi kolaborator lintas aliran, seperti De La Soul, Jehnny Beth, dan Noel Gallagher.

8. CRACK-UP oleh Fleet Foxes

Mitos album ketiga selalu menjadi album terbaik dari sebuah band tampaknya akan berlaku di catatan musik Fleet Foxes. Merilis ‘Crack-Up’ pada pertengahan tahun lalu, kelompok folk-rock asal Seattle memasang standar begitu tinggi. Mengandalkan eksplorasi cukup dalam tentang identitas manusia dan sentuhan musik progresif, Fleet Foxes sekali lagi menegaskan status mereka sebagai salah satu yang terbaik.

7. WAITING ON A SONG oleh DAN AUERBACH

Beristirahat sementara dari The Black Keys ternyata banyak membantu Dan Auerbach untuk menjelajah musik di luar batas blues dan rock-garage. Pada kesempatan album solo yang kedua, Dan menunjukkan kapabiltasnya sebagai penulis lagu yang semakin imajinatif dan liar. Meski cukup dinamis, ‘Waiting on A Song’ tetap terdengar hangat, seperti album solo pertama Dan, ‘Keep It Hid’.

6. SLOWDIVE oleh Slowdive

Sejak terakhir kali Slowdive merilis album di tahun 1995, shoegaze dan dream-pop telah lama terkubur, tenggelam, dan menguap hilang dari industri musik arus utama. Wajar kalau kemudian kembalinya kuintet asal Reading dari hiatus menjadi sesuatu yang istimewa. Beruntung juga, album comeback mereka bukan sekadar mesin nostalgia. Track-track seperti ‘Star Roving’, ‘Sugar on the Pill’, dan ‘No Longer Making Time’ adalah bukti nyata bahwa Slowdive masih pantas diperhitungkan.

5. TURN OUT THE LIGHTS oleh Julien Baker

Lebih dari sekadar berkelana di lubang telinga, tapi sampai mendobrak pintu rasa.

Baker benar-benar waspada ketika mendeskripsikan momen-momen gelap kehidupan. ‘Turn Out the Lights’ berhasil melukiskan penyakit kejiwaan, rasa panik berlebihan, sifat kecanduan, dan krisis kepercayaan sebagai anugerah yang indah – bukan ancaman.

4. AS YOU WERE oleh Liam Gallagher

Percobaan pertama mantan pentolan Oasis sebagai musisi solo, hasilnya?

Voila! Arogansinya bukan cuma omong kosong belaka. Liam Gallagher berhasil lepas dari bayang-bayang sang kakak, Noel Gallagher. Dan di antara karya-karya musik arus utama lainnya yang penuh oleh autotune dan over-production, Liam sekali lagi mengingatkan kalau ketidaksempurnaan adalah elemen penting di balik identitas rock and roll.

3. WHO BUILT THE MOON? oleh Noel Gallagher

Tidak mau kalah dari adik sendiri, Noel Gallagher turut merilis album di tahun 2017. Menariknya, sensasi yang disuarakan tidak kalah jauh dari ‘As You Were’. Bekerja sama dengan produser asal Irlandia, David Holmes, Noel membuktikan musikalitasnya telah berkembang jauh dari periode Oasis. Beat ala-ala Madchester, synth-pop 80-an, dan aroma psikedelia – Noel memang pantas menyebut dirinya jenius.

2. AMERICAN DREAM oleh LCD Soundsystem

Seperti Slowdive, James Murphy dan kolega benar-benar paham kalau comeback hanya akan sempurna apabila ditemani dengan album yang apik. ‘American Dream’ pun melengkapi momen LCD Soundsystem bangkit dari hiatus. Irama catchy­, penuh amarah, dan juga lirik yang mawas diri, dosa besar untuk melupakan ‘American Dream’ di kategori brilian.

1. VISIONS OF A LIFE oleh Wolf Alice

Fenomenal!

Meneruskan catatan apik di periode debut ‘My Love is Cool’, Wolf Alice membuktikan dirinya bukanlah kelompok one-hit-wonder. ‘Visions of A Life’ bahkan turut menunjukkan potensi Wolf Alice sebagai kelompok musik tanpa batas aliran. Sambil tetap menjaga akar musik grunge, Ellie Rowsell dan kawan-kawan tampak semakin menjelajah dream-pop, synth 80-an, dan punk.

0. ONE MORE LIGHT oleh Linkin Park

Kami hipster. Cuma ikut-ikutan memberi tribut untuk Chester.