Alien Mengenal Indonesia: Deep Sea Explorers

0
[Artwork oleh Sajid Algar]

Ada dua jenis penjelajah di alam semesta. Pertama, yang akan membawamu terbang melayang ke angkasa. Kedua, yang akan menuntun jalanmu ke indahnya gelap di bawah samudera. Deep Sea Explorers adalah definisi dari keduanya.

Bukan perkara mudah menciptakan musik yang imajinatif. Musik yang bukan sekadar bersuara dan mudah didendangkan saja, tapi juga memberi impuls mencandu pada daya khayal. Beruntung, empat manusia muda di planet Bumi, Arya, Hendro, Salomo, dan Palel punya kapabilitas tepat untuk tantangan tersebut.

Baca juga: Alien Mengenal Indonesia – Lily of The Valley

Deep Sea Explorers pertama kali bermula dari inisiatif Arya (vokalis & penulis lagu), ketika bertemu dengan Hendro (bassis), di tahun 2012, dan ingin memulai sebuah proyek musik konseptual. Diiringi kecintaan mereka kepada nuansa psikedelik 1960-an, pun blues serta rock and roll 1970-an, Deep Sea Explorers mencoba merekam track pertama mereka, ‘Gypsy Blues’, yang juga muncul pada album (EP) perdana ‘Atlantis’ – dirilis pada 17 Agustus 2014.

Lahir, lalu tumbuh di industri musik pulau Bali yang ramai oleh blues dan heavy rock, tentu memaksa Deep Sea Explorers agar mengeluarkan effort yang lebih besar untuk tampil lebih menonjol daripada unit-unit musik lainnya dari arus serupa. Persyaratan tersebut lantas terbayar tuntas oleh warna vokal Arya yang khas, dan cenderung populis, serta eksplorasi noise yang begitu apik oleh Salomo. Keduanya berpadu manis di muka ritmik bertenaga hasil olahan Hendro dan Palel.

Dengar saja ‘Gypsy Blues’ sebagai langkah pembuka ke palung laut imajinasi, khas Deep Sea Explorers. Terdengar pelan membelai rambut pada mula, track andalan Deep Sea Explorers tersebut terus beringas di jalan menuju akhir. Persis seperti cerita-cerita para petualang pemburu laut terdalam.

Meski telah merilis ‘Atlantis’ sebagai album debut di kancah industri musik planet Bumi, Deep Sea Explorers masih enggan menilai jika ‘Atlantis’ telah berhasil merepresentasikan identitas band secara penuh. “[…] masih album pertama, masih mencari-cari jati diri ya – apalagi waktu ngerjainnya kita nggak cuma sama Omo (Salomo) aja, masih ada pengaruh-pengaruh dari gitaris sebelumnya,” jelas Hendro pada kami. Tanpa curiga sedikit pun kalau kami adalah alien.

Salomo memang bukan satu-satunya nama di balik penjelajahan noise Deep Sea Explorers pada album ‘Atlantis’, sebelumnya mereka sempat bekerja sama dengan gitaris Mula Rambe lebih dulu. Kondisi yang memang banyak membantu album debut terdengar berwarna, tapi juga menjadi tantangan terbaru dalam perjalanan mereka sekarang, yang sedang berfokus untuk merilis album (LP) perdana.

“Bukannya kita nggak mau juga ya bisa makan dari musik, tapi kita pengen musik-musik yang kita bikin tuh bisa ngewakilin kita – identitas kita. Idealis kita di sana maksudnya – kita bikin lagu yang emang kita suka, masalah telinga, ya, tetap kembali pada pendengar,” jelas Hendro kembali.

Pernyataan Hendro sejalan dengan usaha Deep Sea Explorers merampungkan LP perdana mereka. Mereka tidak terburu-buru mengatakan tuntas pada setiap materi album. Mereka selalu mendengarkan kembali alun dari setiap materi, mencoba kritis pada karya sendiri, mencari-cari titik yang menurut mereka masih belum menarik.

Sembari tertawa kecil, Arya pun menegaskan, “Kita udah usaha besar banget hitungannya, mau secara tenaga, ide, materi, waktu, semuanya bukan untuk musik yang biasa aja.”

Deep Sea Explorers paham betul, karya imajinatif memang butuh waktu, dan tergesa-gesa adalah jalan pintas terbaik jika hanya ingin tenggelam membatu di dasar laut.