Alien Pergi ke Record Store Day Bali 2018

0

Dua hari mereka berkumpul di Record Store Day Bali 2018, berbagi cerita dan pengalaman tentang hobi mereka, serta memburu koleksi langka. Umat pencinta musik rilisan fisik.

Bukan seperti di kota Bandung atau Jakarta, di pulau Bali, antusias humani terhadap musik rilisan fisik sudah lama mengendap, di antara ada namun tiada. Setidaknya begitulah yang terlihat dari kasat mata kami – para pendatang di planet Bumi. Mereka lebih senang bersembunyi, dan memanfaatkan kanal internet untuk mendapatkan koleksi mereka.

Record Store Day Bali 2018 pun menjadi alarm pemanggil, untuk berkumpul, untuk yang ketiga kalinya. Setelah sebelumnya dua kali digelar pada tahun 2016 dan 2017.

Baca juga: Alien Pergi ke Record Store Day Bandung 2017

Terbius oleh pengalaman manis di tahun 2017, ketika kami terjebak di gelaran Record Store Day Bandung 2017, akhir pekan kemarin pergilah kami ke Rumah Sanur Creative Hub – lokasi Record Store Day Bali 2018 digelar. Kami kembali menyamar sebagai manusia, dan memarkir pesawat kami di balik semak-semak. Dunia masih belum siap berjumpa dengan alien.

Berbeda dengan pengalaman kami di kota Bandung, Record Store Day 2018 edisi Bali tidak hanya menyajikan lapakan kaset, vinyl, dan live music saja. Tapi juga kegiatan-kegiatan edukatif, yang masih di ranah permusikan. Datang pada siang hari, kami disuguhkan workshop tentang basic sound engineering oleh Deny Surya (Dialog Dini Hari), lalu screening dan diskusi film ‘Terekam’, ‘Eargasm’, ‘Dendang Nusantara’, dan ‘East of Hell’.

Record Store Day Bali 2018 bukan hanya tentang jual dan beli para penjaga lapak musik dengan para kolektor, tapi juga edukasi tentang industri musik.

Melirik ke sejumlah booth, kami cukup terpana mendapati setiap lapak ternyata lebih banyak menyajikan koleksi-koleksi lokal daripada internasional. Hampir pada setiap booth Record Store Day Bali 2018 album-album dari musisi-musisi Bali dan Indonesia lebih mendominasi jumlah album-album berlabel internasional. Manusia-manusia yang berkunjung pun tampak antusias menerima tawaran-tawaran tersebut.

Kembali di tahun 2007, Record Store Day pertama kali digelar memang untuk meningkatkan daya jual dari label-label independen di antara supremasi label-label mayor yang mendunia. Record Store Day Bali 2018 berhasil menjaga semangat itu. Mereka memberi kesempatan lebih pada label-label independen untuk memperkenalkan karya-karya yang bernaung di bawah manajemen mereka. Lupakan tangga lagu Billboard.

Malam harinya, suguhan live music jadi persembahan utama. Menariknya, warna-warna musik yang biasa populer (punk-rock atau hard-rock) di Bali justru tampak sama-rata dengan warna lainnya di panggung Record Store Day Bali 2018.

Pada malam pertama hanya Rollfast yang masih kental membawa atmosfer rock. Sementara Pluto, Lily of The Valley, dan Zio memperkenalkan warna baru – Pluto memperkenalkan gaya mereka memainkan dream-pop, Lily of The Valley menujukkan kepiawaian mereka mengusung post-rock, dan Zio percaya diri menyuguhkan nuansa yang berbeda dari Dialog Dini Hari, tempatnya berkarya sebelum mencoba jalur solo.

Pada malam kedua pun serupa, Celtic Room, Badiktilu, Sing Liyane sama-sama menampilkan nuansa yang jauh dari kesan punk-rock. Tapi bukan berarti tidak ada, musisi solo Bronzegobrain adalah nama yang menjaga eksistensi distorsi rock di panggung Record Store Day Bali 2018.

Menjaga eksistensi musik yang sudah lama menjadi identitas, tapi juga memperkenalkan warna-warna baru, Record Store Day Bali 2018 lagi-lagi menegaskan semangat mereka mendukung industri musik lokal.

Membuka dan menutup sesi live musik, penampilan para selektor musik punya daya tarik tersendiri di Record Store Day Bali 2018. Mengandalkan koleksi kaset pita dan kepingan vinyl, Moddes, Spin Sugar, Kaset SCTRX, dan Kaset Kulcha adalah aktor-aktor utama di balik semangat edukasi Record Store Day 2018 edisi Bali. Mereka terus mengingatkan pengunjung kalau rilisan fisik memang punya kualitas suara terbaik. Kotor, kasar, namun intim.

Mengutamakan rilisan lokal, memberi kesempatan pada warna-warna baru di kancah industri musik pulau Bali, dan menyajikan edukasi, Record Store Day Bali 2018 dengan apik menyuarakan mimpi awal Record Store Day. Mengutip ucapan Didi (UTBBYS) di gelaran Record Store Bandung 2017, “[…] rilisan fisik adalah penyambung nyawa bagi setiap musisi,” Record Store Day Bali 2018 pun berhasil menyambung nyawa para pelaku musik di pulau Bali.

Bukan hanya materi, tapi juga kesempatan memperkenalkan karya.