Alien Singgah di Tanah Britania – Antara Musik dan Sepak Bola

2
11
views
[NME]

Musik dan sepak bola, mungkin banyak yang bertanya-tanya “Dimana benang merahnya?”, tapi tidak dengan mereka, para humani dari tanah Britania.

Sepak bola, olahraga terpopuler di planet bumi, begitu dicintai di negeri Elizabeth, dan konon lahir secara modern juga di Inggris. Sedangkan kalau bicara skena musiknya, sudah jadi pengetahuan umum kalau banyak musisi hebat lahir dari daratan sana.

Cinta kepada sepak bola sebagai produk otentik adalah sesuatu yang umum bagi umat manusia berdarah Anglo-Saxon, dan tak terkecuali bagi para musisinya. Lihat saja salah satu anggota boyband asal Irlandia-Inggris, One Direction. Meski kemampuan bermain bola hanya setinggi rumput teki, tetap saja Louis Tomlinson berlari-lari mengejar bola sampai muntah-muntah karena saking cintanya bermain sepak bola.

Louis Tomlinson dari One Direction hanyalah satu contoh kecil, masih banyak musisi lainnya kelahiran Britania yang memiliki fanatisme tinggi terhadap sepakbola. Ada ‘The Gallagher Brothers’ asal Manchester – mengejutkan, mereka bukan penggemar Setan Merah. Dari dua pilihan populer di kota Manchester, keduanya lebih memilih menjadi pendukung Manchester City, biarpun pada periode 90-an klub tersebut berkali-kali terdegradasi ke divisi liga lebih rendah. Mereka adalah bukti nyata eksistensi penggila Manchester City sedari dulu.

“Before arab money,” begitu mereka sebut biasanya.

[lolfootball.com] Cuma sepak bola yang bisa memaksa Noel dan Liam akur

Di sisi seberang, “rival abadi” dari Gallagher bersaudara, Damon Albarn, juga punya cerita serupa. Albarn merupakan penggemar berat klub sepakbola Chelsea jauh sebelum megahnya ‘Roman Empire’, ketika Chelsea cuma sekadar tim medioker satu kasta bersama Everton dan Charlton Athletic. Terbaru, 2-D, seorang karakter dari band virtual Albarn, Gorillaz, mendapat kesempatan untuk melakukan tur dan bertemu salah satu pemain Chelsea, David Luiz.

[90min.com] Pendukung Gianfranco Zola

Usai menjamah London, mari menuju Sheffield, kampung halaman dari Jarvis Cocker (Pulp) dan Alex Turner (Arctic Monkeys). Sheffield sendiri terbagi menjadi 2 kubu fanatis, Sheffield United dan Sheffield Wednesday. Keduanya sepakat untuk berada di kubu yang sama, mendukung Sheffield Wednesday. Tidak peduli tim tersebut bermain di divisi apa, duduk di posisi berapa, dukungan keduanya cuma untuk satu klub saja, Sheffield Wednesday.

[sportskeeda.com] Bobotoh Sheffield rambut lengket
[@swfc] Gary Oldman dan Asa Butterfield kualitas warung

Menariknya, musisi-musisi di wilayah Britania bukan hanya penggemar sepak bola biasa. Mereka dan para pelaku dunia sepak bola adalah sinergi. Sering terlibat dalam berbagai macam kegiatan serupa, mulai dari yang sederhana, tentunya sepak bola, sampai acara-acara penggalangan dana amal. Terakhir, ada Game 4 Grenfell – charity match untuk para korban dari kebakaran Grenfell Tower – yang melibatkan Serge Pizzorno (Kasabian), Jarvis Cocker (Pulp), Jose Mourinho (Manchester United), dan Alan Shearer (ex-Newcastle).

Kontribusi para musisi kepada sepak bola tidak berhenti sampai kegiatan amal saja. Misal Kasabian, yang mengizinkan agar salah satu karya andalan mereka, ‘Fire’, menjadi musik latar utama English Premier League pada musim 2011-2012. Mereka juga turut merayakan keberhasilan tim pujaan mereka, Leicester City – yang secara mengejutkan meraih gelar juara English Premier League pertamanya pada tahun 2016 kemarin, dengan mengadakan konser gratis di stadion King Power. Track ‘Underdogs’ pun berkumandang di hari perayaan kemenangan, menyairkan kisah manis Leicester City mengangkat trofi English Premier League dengan status tim kasta bawah.

Baca juga: Kasabian Luncurkan Liga Sepak Bola Fantasi

Cerita lain datang juga dari tim kasta bawah, bahkan bermain di divisi yang jauh lebih rendah daripada Leicester City. Untuk musim 2017/18, sebagai bentuk dukungan terhadap klub sepak bola favoritnya, maka musisi kenamaan Jake Bugg bersedia menjadi sponsor utama dari klub sepak bola Notts County,

[pasionfutbol.com] Musim depan berganti logo ke Led Zeppelin

Louis Tomlinson, Gallagher bersaudara, Damon Albarn, Alex Turner, Jarvis Cocker, Kasabian, dan Jake Bugg adalah lukisan nyata sifat obsesif para penggemar sepak bola di kerajaan Anglo-Saxon, dan tak terkecuali mereka, yang datang dari skena musik. Mereka mungkin saja lebih sering menyebut “pemain sepak bola” daripada “dokter” ketika ditanya apa cita-citanya

Pada akhir pekan, manusia-manusia muda Britannia akan pergi keluar dari rumahnya masing-masing berpakaian tracksuit dan memakai sepatu-si-logo-tiga-garis, lalu menuju stadion sepak bola, menyaksikan tim kesayangan mereka bertanding dan berharap-harap cemas pada kemenangan. Ketika musim sepak bola berakhir, sederet festival musik pun segera melanjutkan daftar kegiatan mereka di musim panas. Mulai dari Reading and Leeds Festival, sampai BBC Radio 1 Big Weekend dan Download Festival, hingga pekan Glastonbury di Somerset.

Sejalan dengan ‘Trainspotting’, topik pembicaraan utama umat manusia di kepulauan Inggris bukanlah heroin, tapi sepak bola dan konser Iggy Pop. Wajar kalau kemudian tanah Britania sering disebut surga bagi pencinta musik dan sepak bola.