Catatan Klasik: MADchester

4
[flickr.com] Foto oleh Mikey

Suatu malam di pertengahan tahun 1976, Sex Pistols sedang menggelar pertunjukkan di kota Manchester. Tak banyak jumlah manusia yang menonton pertunjukkan mereka pada malam itu, hanya 42 manusia saja menurut ingatan Tony Wilson, seorang presenter televisi yang baru pertama kali menyaksikan penampilan Johnny Rotten dan kawan-kawan.

Meski sepi penonton, bukan berarti pertunjukkan di Manchester Lesser Free Trade Hall itu adalah pertunjukkan yang buruk. Malahan, performa si ikon pop-culture Britania boleh dikata luar biasa. Saking luar biasanya sampai menjadi pengaruh utama lahirnya skena baru di catatan sejarah industri musik.

Skena yang kelak jauh berbeda dari identitas punk-rock, skena yang lalu menghadirkan gerak-gerik dansa di atas panggung komunitas rock. Skena yang segar, enerjik, meledak cepat, namun pada akhirnya hilang dengan cepat juga.

It’s Madchester. Happy Mondays dan The Stone Roses.

Mari membicarakan lahir dan tewasnya skena musik dari kota industri Manchester.

Kami akan mulai dari…

JOY DIVISION

Pada malam yang sama, Ian Curtis, Peter Hook, dan Bernard Sumner singgah di Manchester Lesser Free Trade Hall untuk menyaksikan penampilan Sex Pistols. Mereka adalah bagian dari 42 manusia yang terhitung oleh Tony Wilson.

Ian, Peter, dan Bernard mulanya datang terpisah, namun seusai pertunjukkan, ketiganya berujung pada titik yang saling bertemu. Bukan di pintu keluar maksud kami, tapi pada titik yang terinspirasi untuk ikut serta bermain musik.

Peter dan Bernard, yang kebetulan sudah berteman sejak kecil, lantas lebih dulu menyatukan minat. Peter memilih bermain bass dan Bernard lebih senang bermain gitar. Ian lalu datang menawarkan dirinya untuk mengisi peran sebagai penulis lirik juga vokalis. Setelah itu, mereka bertiga mengajak Stephen Morris agar melengkapi formasi di belakang drum-set.

Keempatnya pun mulai sering berlatih dan menulis sejumlah lagu di bawah nama Joy Division.

Di tahun 1978, mereka berhasil merilis album perdana yang diberi nama ‘An Ideal For Living’. Meski hanya berupa EP berisikan 4 buah lagu saja, album ini justru mendapat respon yang fantastis dari komunitas lokal dan mengangkat nama Joy Division ke pusat perhatian.

Panggung demi panggung di kota Manchester mulai dijajal oleh Ian Curtis dan teman-temannya, sampai kemudian musik-musik mereka menyentuh pendengaran Tony Wilson.

TONY WILSON

Pada tahun 70-an, Tony Wilson adalah seorang jurnalis stasiun televisi Granada. Ia memiliki satu program acara bernama ‘So It Goes’, yang biasa menayangkan berita seputar budaya dan industri musik.

Di suatu malam, Tony Wilson yang sudah bosan dengan dominasi rock-progresif, berniat memburu materi baru untuk program acaranya. Maka pergilah Tony Wilson ke Manchester Lesser Free Trade Hall. Di sana lah akhirnya dia menemukan harta karun bernama Sex Pistols dan punk-rock. Setelah itu, program ‘So It Goes’ pun lebih fokus pada skena musik punk beserta sub-genrenya yang lain.

Di tahun 1978, Ian Curtis mengirimkan pesan provokasi pada Tony Wilson. Isinya kurang lebih menyebut Tony dengan umpatan-umpatan kasar sebab belum memberikan satu slot penampilan bagi Joy Division di program acaranya. Tony Wilson lantas bereaksi cepat. Ia segera mengundang Joy Division agar menunjukkan performanya di Granada-TV.

Penampilan itu kemudian menjadi pijakan awal kerja sama Joy Division dengan Tony Wilson dalam membangun skena musik Madchester. Penampilan itu juga jadi penampilan pertama Ian Curtis dan kawan-kawan di layar televisi.

FACTORY RECORDS

Setelah menemukan Joy Division, Tony Wilson lalu tertarik untuk mendirikan usaha label rekaman. Selain dikarenakan obsesi besarnya pada industri musik, juga karena ia adalah manusia standar yang akan selalu membutuhkan uang di kehidupannya. Anyway, untuk memulai rencana usahanya, Tony Wilson merekrut Alan Erasmus, Rob Gretton, dan Martin Hannett sebagai rekan kerjasama.

Joy Division sendiri menjadi musisi pertama yang didekati oleh Tony Wilson agar bersedia diasuh di bawah label Factory Records. Ian Curtis dan kawan-kawan tidak butuh waktu lama untuk menyetujui kerjasama yang ditawarkan. Mereka hanya mengajukan satu syarat pada Tony Wilson, yaitu menandatangani surat kontrak bertuliskan, “The Company owns nothing, the musicians own their music and everything they do, and all artists have the freedom to fuck off,” dengan darahnya.

Ultimate-barbaric.

[flickr.com oleh Wapster] Mister Manchester

Surat kontrak tersebut kemudian menjadi fondasi kuat Factory Records memperkenalkan sub-genre post punk pada khalayak Manchester dan dunia. Tak cuma lewat Joy Division, tapi juga lewat band-band seperti The Durutti Column, A Certain Ratio, dan Cabaret Voltaire.

Namun begitu, popularitas utama tetap saja hadir dari kecermelangan Joy Division. Terutama pada tahun 1979, di saat LP perdana mereka, ‘Unknown Pleasures’, lahir ke pasaran. Album yang membawa nama Joy Division keluar dari Manchester menuju kota-kota besar lainnya di Eropa.

MENINGGALNYA IAN CURTIS

Awal tahun 1980, Factory Records sedang berada di gundukan kebahagiaan. Meski belum sebesar major-major label lainnya di periode sama, anak kesayangan mereka, Joy Division, sudah memberi harapan cerah pada label milik Tony Wilson itu.

Penjualan ‘Unknown Pleasures’ yang terus menanjak, tur Eropa yang terus-menerus ramai penonton, pengerjaan album kedua yang tidak perlu menunggu waktu lama, sampai pada berita undangan tur ke Amerika untuk pertama kalinya. Di awal tahun 1980, Joy Division akan menyusul catatan The Beatles, Led Zeppelin, Queen, yang sudah lebih dulu berhasil menginvasi Amerika. Prestasi besar untuk band yang usia LP perdananya belum genap satu tahun.

Sayang, belum juga manisnya puncak tercapai, Ian Curtis, sang vokalis, harus menghembuskan nafas yang terakhir akibat usaha gantung dirinya berhasil. Tepat satu hari sebelum keberangkatan Joy Division ke Amerika.

Ian Curtis memang sudah lama bertarung dengan masalah kesehatan dan depresi sebelum kematiannya. Ia beberapa kali pernah mengalami kejang ketika sedang tampil di atas panggung, dan kejadian itu sering memicu rasa malu, yang juga menurut teman-temannya menjadi sumber utama depresi si penulis lirik.

NEW ORDER

Tak mau berdiam lama dalam kesedihan, anggota tersisa Joy Division dan Factory Records segera mendaki lagi jalan ke puncak dengan nama New Order. Kali ini Bernard Sumner mengambil alih posisi vokal, sambil tetap bermain gitar, dan mengajak serta Gillian Gilbert dari The Inadequates, yang kebetulan juga kekasih dari Stephen Morris, untuk bermain keyboard, synthesizer, dan terkadang juga gitar pada beberapa lagu.

Nah, dengan bergabungnya Gillian Gilbert, maka Madchester semakin dekat dengan kemunculannya.

New Order tak lagi membawakan formula musik yang sama dengan Joy Division. Mungkin masih terdengar serupa – mau bagaimanapun akarnya masih sama – tapi dengan bantuan Gillian Gilbert, anggota tersisa Joy Division dapat menambahkan suasana new-wave pada musik-musik yang ditulis. Seperti suara-suara ketukan disco, synth-pop, atau elektronika.

Satu tahun dari kematian Ian Curtis, New Order kemudian merilis LP pertama mereka, Movement, yang mendapat apresiasi tinggi dan kritik positif, baik itu dari penikmat musik umum atau penggemar Joy Division terkhusus.

THE HAÇIENDA

This was the place, people!

The rise and the fall of the MADchester scene.

Menyusul kecermelangan album perdana New Order, Tony Wilson dan Rob Gretton mengembangkan sayap Factory Records lebih lebar lagi dengan membuka sebuah klub malam, yang tentunya ada di kota Manchester. The Haҫienda resmi dibuka di tahun 1982, dengan musisi-musisi Factory Records yang lebih sering menjadi pengisi panggung acara untuk permulaan.

The Haҫienda bukanlah sukses yang instan seperti ‘Unknown Pleasures’ di tahun 1979. Faktanya, di beberapa bulan pertama Tony Wilson dan Rob Gretton harus berjuang dengan krisis finansial akibat The Haҫienda tak kunjung ramai. Beruntung penjualan album dari Joy Division, New Order, dan beberapa band lainnya masih cukup tinggi di pasaran, sehingga mereka jauh dari ancaman bangkrut. The Haҫienda akhirnya mulai ramai pengunjung ketika semakin banyak musisi dari luar Factory Records yang membuat pertunjukkan di sana, seperti The Smiths, Madonna, Mike Pickering, atau The Stone Roses.

[flickr.com oleh Bernt Rostad] The Hacienda yang sudah berubah

HAPPY MONDAYS, THE STONE ROSES, THE CHARLATANS, INSPIRAL CARPETS

Di tahun 1983, New Order telah menjadi kiblat baru bagi pencinta musik rock alternatif. Hits-hits seperti ‘Blue Monday’, ‘Age of Consent’, ‘Your Silent Face’, ‘Ecstasy’, sudah mulai meracuni sebagian besar pencinta musik di Manchester, Inggris, Skotlandia, United Kingdom, Eropa, Amerika, hampir di seluruh penjuru dunia.

Nuansa rave, beat-beat yang katanya funky, sentuhan disko yang enerjik, lalu atmosfer psychedelia, dan ditambah dengan alunan yang groovy mulai dirasa segar oleh manusia-manusia yang sebelumnya lebih sering mendengar Black Sabbath atau Led Zeppelin. New Order pun lantas jadi pengaruh utama lahirnya musisi-musisi baru di kota Manchester. Seperti The Charlatans, Inspiral Carpets, 808 State, The Mock Turtles, dan Happy Mondays.

Ya, Happy Mondays, band yang direkrut oleh Tony Wilson ketika The Haҫienda sedang mengadakan kontes the battle of bands. Pada waktu itu, menurut pengakuannya, Tony Wilson tertarik pada nuansa soul, acid house, funky sound yang ditawarkan oleh Shaun Ryder (vokalis) dan kawan-kawan.

Tak cuma itu, Tony Wilson juga yakin kalau Happy Mondays akan jadi pasar yang menjanjikan di barisan tangga lagu radio-radio pada saat itu. Dan benar saja, rilisan perdana Happy Mondays di bawah label Factory Records pada tahun 1987 langsung mencuri perhatian khalayak.

Sementara itu juga, di label seberang, Geffen Records, ikut serta meramaikan skena musik Manchester dengan mendukung The Stone Roses sebagai andalan. Band yang juga datang dari kota Manchester dan kemudian juga jadi besar oleh karena album self-titled di tahun 1989. – Ketika kami menyebut besar, maksud kami adalah besar sekali. Lihat saja logo-logo lemon-Stone-Roses yang sering berkeliaran di tempat-tempat atau kaos para pencinta musik.

Kemunculan Happy Mondays dan The Stone Roses inilah yang lalu menjadi alasan mengapa jurnalis-jurnalis di Britania menyebut skena musik di Manchester sebagai MADchester. Sebab oleh kemunculan kedua band itu, skena musik di Manchester menjadi luar biasa populer dan eksplosif. Semakin dikenal oleh orang-orang di luar Manchester, di luar Eropa, mungkin juga di luar planet Bumi. Seakan-akan MADchester bukan lagi sekadar skena musik, tapi menjadi sub-genre yang baru di bawah identitas rock.

ECSTASY

Kami bukannya ingin memasarkan penggunaan ekstasi. Kami cuma mau beritahu kalau salah satu faktor utama skena Madchester jadi eksplosif adalah karena pada masa-masa tersebut ekstasi juga sedang populer penggunaanya. Kalau kata Tony Wilson sendiri sih,

“The music, the people, and the drugs come together.”

Ekstasi dan joget sampai mampus memang kombinasi tepat. Mungkin. Ah, kami tak tahu pasti. Kami alien. Alien tak suka mabuk di bumi. Mabuk bintang di angkasa saja sudah cukup.

BANGKRUT

Wahai manusia! Ingat! Setelah narkoba, terbitlah bangkrut.

Benar, benar, benar sekali manusia, narkoba adalah salah satu alasan utama mengapa skena Madchester lantas berubah menjadi relik sejarah.

Factory Records dan The Haҫienda melewati periode 90-an sebagian besar dengan berjuang menghadapi ancaman krisis finansial, yang kebanyakan disebabkan oleh pemakaian ekstasi tingkat tinggi di lingkungan Manchester.

Musisi-musisi yang menjadi tulang punggung pemasukkan, justru sedang mengalami periode mati karya karena efek kecanduan. Sebutlah Happy Mondays salah satunya, yang terus-menerus minta biaya rekaman pada Tony Wilson, namun justru menghabiskan uang yang diberikan untuk pesta ekstasi dan heroin di Barbados.

New Order pun tak lagi bisa menjadi andalan menghadapi derasnya gempuran Seattle Sounds (Nirvana, Pearl Jam, Alice In Chains, Soundgarden) dan BritPop (Blur, Oasis, Suede, Pulp, Radiohead) yang memang sedang memulai masa keemasannya di industri musik. Lalu di kubu pendukung, The Smiths membubarkan diri akibat konflik internal; The Stone Roses juga tidak kunjung menyelesaikan album mereka yang kedua, sampai akhirnya baru dirilis pada Desember 1994; Geffen Records pun perlahan membawa perhatiannya jauh pergi dari Manchester. Wajar kalau kemudian penikmat musik mulai menyebut Madchester sudah binasa, dan yang tersisa cuma asa.

Dasar narkoba. Dipakai malah undang mati, tak dipakai? Malah tak punya ide menulis lagu.

Well, people, itulah Madchester. Terima kasih sudah ikut melihat ke belakang. Terakhir mari kita nikmati karya terbaru dari The Stone Roses di tahun kemarin.