Filosofi Musik: Thomas Matthew DeLonge

1
106
views
[flickr.com] Foto oleh Ian T. Macfarland

Tanya Radiohead? Jawabnya Thom Yorke. Tanya Nirvana? Jawabnya Kurt Cobain. Tanya Efek Rumah Kaca? Jawabnya Cholil.

Sulit menolak argumen yang mengatakan kalau peran vokalis itu lebih dari sekadar bersuara menyanyikan lagu. Hampir setiap manusia tahu kalau peran vokalis juga besar pengaruhnya pada profil sebuah band. Dari genre yang diusung, cara berpakaian, potongan rambut, atau sampai gerak dansa di atas panggung.

Lain kata, seorang vokalis punya tanggung jawab hampir 50 persen dari wajah sebuah band.

Stigma yang semakin mengadiksi setelah kami coba mendengarkan dua single terbaru Blink-182 pada pertengahan tahu kemarin, Bored To Death dan Rabbit Hole.

Ya, kalian sudah tahu sendiri arah tulisan kami akan menuju kemana.

Thomas Matthew DeLonge, Jr.

Sekilas tak ada yang salah dengan lagu-lagu Blink-182 selepas kepergian atau diusir halusnya Tom DeLonge. Tidak ada yang janggal dengan ketukan-ketukan Travis Barker di belakang drum-set, dan tidak ada yang canggung juga dengan jari-jari Mark Hoppus di sepanjang instrumen bass.

Generally speaking, those two songs are good.

Tapi sayang, entah kenapa, nihilnya Tom Delonge masih menyisakan sumbang cukup kentara di telinga. Apa karena pepatah ‘alah bisa karena biasa’? Boleh saja jadi.

Apa karena Tom Delonge seorang vokalis bersuara emas? Kami pun tertawa – semua penikmat musik tahu kalau Tom bukanlah penyanyi handal, bahkan suara Ahmad Dhani pun masih lebih berkualitas daripada suara kucing Tom DeLonge.

Lalu kenapa?

Boleh jadi karena memang masalah stigma vokalis dan profil band itu sendiri. Boleh juga karena memang keberadaan Tom di Blink-182 bukan sekadar menyajikan vokal emo-namun-gagal.

Boleh juga karena…

PERMAINAN GITAR YANG IKONIK

Bukan berarti Matt Skiba adalah gitaris yang buruk.

Justru menurut kami, Skiba jauh lebih terampil daripada DeLonge. Baik itu pada saat rekaman atau sedang live performance, permainan gitar Skiba selalu terdengar jauh lebih bersih dibanding si pencinta alien dari San Diego. Hanya saja yang jadi masalah, yang mengganggu adalah, when it comes to writing, melodi-melodi yang dihasilkan oleh Thomas justru lebih punya warna sendiri.

Kalau kata juri-juri acara pencarian bakat sih… punya karakter.

Entah itu ketika di Blink-182, atau Box Car Racer, atau juga di saat bersama Angels And Airwaves, you can always hear the strokes telling you, “Hey! It’s me, Thomas Matthew DeLonge from San Diego.” Suatu nilai plus pengganggu daripada suara gitar yang bersih namun cenderung serupa dengan suara-suara lain pada genre yang sama.

ARANSEMEN LAGU

Menurut kami komposisi musik adalah keahlian terbesar Thomas DeLonge. Dari menentukan ragam musik yang ingin dihasilkan, menentukan detail warna sound di saat menyusun rekaman, sampai membentuk struktur lagu yang ingin diciptakan.

Mustahil kalau kami pernah tahu bagaimana cerita di balik karya-karya Blink-182. Bagaimana kontribusi Tom, Mark, Travis, atau Scott Raynor saat bekerja di studio atau siapa yang punya kredibilitas lebih besar di departemen aransemen. Cuma, kalau telinga-telinga kami menilai di saat mereka bekerja terpisah, rasa-rasanya DeLonge memang lebih handal.

Coba saja bandingkan Angels And Airwaves atau Box Car Racer dengan +44.

LIRIK

Ah, benar sekali, riskan kalau membahas kualitas lirik. Membicarakan sebaris lirik itu menarik atau tidak, besar pengaruhnya kalau lirik itu beresonansi atau tidak dengan si pendengar. Itu mengapa tak jarang ada yang mendewakan lirik-lirik Justin Bieber dan Meghan Trainor, tapi ada juga yang lebih memuja permainan diksi Efek Rumah Kaca atau Radiohead.

Tentu subjektif, dan biarkan sajalah sudah, di benak kami Thomas Matthew DeLonge punya nilai lebih tinggi di media kata. Bahkan seringkali kami menasbihkan DeLonge sebagai underrated lyricist. Yang terus berevolusi sejak periode mudanya dengan Blink-182 sampai lalu dengan Angels And Airwaves, dari yang selalu menulis toilet-humor-jokes, sampai lalu berubah imajinatif, pintar memainkan diksi, terkadang pula melankolis namun enggan cengeng.

VOKAL

Stigma vokal pada akhirnya, mau tak mau, suka tidak suka, betul-betul jadi sumber masalah.

Sama juga seperti permainan gitarnya, begitu pula vokal Tom selama berkarya dengan Blink-182. Kelas suaranya jauh di bawah Adele, bahkan tidak mendekati level Boyce Avenue. Sering sumbang saat live performance – ya, benar sekali, tidak ada suara sumbang justru jadikan Blink-182 terdengar sumbang, sering terdengar seperti tangisan balita, atau suara kucing yang ekornya terjepit di pintu pagar.

Tapi sekali lagi, seperti permainan gitarnya, pendengar akan selalu tahu kalau sebuah lagu itu milik Blink-182 atau bukan jika sudah mendengar kontras di antara vokal Hoppus dan DeLonge.

Sungguh ironi kalau mengingat Matt Skiba punya teknik vokal yang jauh, jauh, jauh lebih baik daripada Tom.

Ah… poor Skiba

Susah ditolak lagi, vokalis memang punya andil besar terhadap profil band. Mendengar nama Blink-182, ekspetasi jadi tak bisa jauh dari ingatan kontrasnya musikalitas Mark dan Tom yang asik.

Kalau saja Hoppus, Barker, dan Skiba lebih sedia membawa nama baru daripada menjaga legasi, Rabbit Hole dan Bored To Death pasti akan terdengar jauh lebih menarik.

Penutup, mari siram perihnya rindu akan alien bangsa Vulcan dengan Tunnels.