Filosofi Album: Nevermind oleh Nirvana

12
199
views
[flickr.com] Foto oleh Jeff Egnaczyk

Pernah tampil, satu fotograf unik di dalam sejarah industri musik. Menampilkan bayi laki-laki yang sedang berenang dengan wajah terlihat senang(?), sambil mengejar selembar uang bermata Dollar AS. Sepintas memberi rasa ngeri dan geli. Apalagi ketika perhatian tersadar kalau kertas 1 Dollar itu terkail pada seutas benang pancing.

Metafora indah. Satire yang tajam.

Kurang lebih seperti itulah gambaran singkat sampul album ‘Nevermind’. Album kedua dari kelompok musik Nirvana. Satu album yang kemudian membawa trio Aberdeen menuju panggung internasional. Satu album yang kerap disebut sebagai salah satu album musik terbaik di sepanjang masa. Satu album yang acap kali disebut mengubah laju industri musik. Satu album yang sering disebut penting dalam komunitas punk-rock. Satu album yang tidak henti-hentinya diperbincangkan oleh pencinta musik.

Over-rated? Mungkin saja. Kami tidak tahu pasti.

Tapi rasa-rasanya kita bisa sepakat kalau ‘Nevermind’ layak diberi predikat ‘berpengaruh’.

One of the most influential albums in music history.

Bertanggung jawab pada hadirnya hit-single ‘Smells Like Teen Spirit’, ‘Come As You Are’, ‘In Bloom’, ‘Polly’, dan ‘Lithium’. Terjual sampai lebih dari 30 juta kopi dalam skala worldwide. Mendapat penghargaan platinum dengan hanya membutuhkan waktu 9 minggu dari hari perilisan. Lalu, mampu menggeser posisi album ‘Dangerous’ dari Michael Jackson di puncak US Billboard.

Can you believe that?

Album dari skena punk-rock bisa menendang popularitas album dari seorang King of Pop.

Ibarat bom atom, ‘Nevermind’ was pretty big in early 90’s. Really, really, really big.

Kenapa bisa?

Ironi memang karena kami yang sedang menulis tentang ‘Nevermind’ nyatanya baru lahir di kisaran tahun 1992 dan 1993. Kami bahkan tidak tahu siapa Kurt Cobain ketika dia sudah meninggal. Kami bahkan lebih dulu mengenal Foo Fighters (Nirvana ex-drummer’s new band) daripada ‘Smells Like Teen Spirit’.

But, hey! This could be a cool evidence why ‘Nevermind’ is still one of the greatest, dan berpengaruh.

So, let’s talk ‘why’.

ACHIEVING ‘FUCK IT’.

Memulai ‘Nevermind’, Kurt Cobain, Krist Novoselic, dan Dave Grohl berangkat dari latar belakang yang tidak sempurna.

Dave Grohl, seorang laki-laki muda yang berlabelkan high-school-drop-out dan datang dari skena punk-rock Washington DC dengan karir musik yang belum menunjukkan cerah sama sekali. Satu kesempatan manis ketika Kurt dan Krist mengajaknya bergabung untuk bermain drum.

Tidak jauh berbeda dengan Dave, Kurt pun punya latar belakang yang buruk. Bahkan bisa dikatakan jauh lebih buruk. Kurt adalah tipikal anak muda broken-home yang selalu terikat dengan masalah. Kehidupan remajanya sebagian besar habis hanya untuk berpindah-pindah dari satu masalah ke masalah lainnya, dari perkelahian, lalu vandalisme, kemudian mabuk di tempat umum, sampai pada narkoba. Berpindah-pindah rumah dan keluarga pun turut serta jadi pengalamannya. Baik keluarga ayah atau keluarga ibunya selalu tidak tahan oleh ulah-ulah nakal Kurt.

Sementara itu, berbeda dengan Kurt dan Dave, Krist adalah satu-satunya personel Nirvana era Nevermind yang berhasil menyelesaikan bangku SMA. Sayang, perbedaan itu tidak lantas menjadikan Krist sebagai anggota dengan latar belakang yang jauh lebih baik daripada Kurt atau Dave. Meski sudah berhasil merilis Bleach dan menjalankan beberapa tur, nyatanya Krist masih tetap harus bekerja sebagai tukang bersih-bersih untuk bisa survive. Bleach boleh jadi pijakan penting Nirvana di dunia musik, tapi Bleach tidak menjadikan ia dan Kurt lantas bergelimang dollar.

Sebelum ‘Nevermind’ dirilis, Kurt, Krist, dan Dave adalah contoh nyata stereotype ‘Kalau jadi anak band, kamu mau makan apa?’.

Hidup di jalanan, hanya mengenal uang pas-pasan, kadang makan pun harus mengemis iba.

Sebelum ‘Nevermind’ dirilis, mereka sedang berada pada titik nol level kehidupan, dan musik adalah satu-satunya pilihan mereka untuk merangkak naik.

Kondisi kelam yang menjadikan teriakan ‘Fuck’ dari mulut mereka benar-benar jujur. Tidak sekadar lagam di atas panggung. Bukan sekadar berpura-pura bersandiwara.

“Fuck, let’s do it!”

“Fuck you people!”

“Fuck you government!”

“Fuck you society!”

Ah… benar-benar punk-rock sekali.

REPRESENTASI ‘KELAS BAWAH’.

Seperti pepatah lama “music is an outburst of the soul”, ‘Nevermind’ adalah teriakan keras anak muda yang hidupnya sudah diberi cap gagal. Seperti perceraian orang tua, high-school-drop-out, patah-hati-masalah-klasik-remaja, penolakan oleh berbagai macam bentuk lingkungan, berpindah-pindah tempat tinggal di sepanjang emperan toko, atau bekerja cuma sebagai tukang bersih-bersih.

Kurt, Krist, dan Dave menerjemahkan segala bentuk kegagalan tersebut pada ‘Nevermind’.

Nay, mereka menumpahkannya pada ‘Nevermind’. Mereka adalah bentuk kegagalan yang dimaksud.

Kemeja flannel kusam, sweater kusut kebesaran, cardigan bercorak tanah, celana jeans sobek di berbagai sudut, lalu rambut panjang kusut tidak pernah keramas. Ya, sebuah penampilan yang lebih tepat untuk seorang penebang kayu daripada seorang musisi. Sebuah penampilan yang lebih mudah ditemui di antara kaum buruh daripada lingkungan berbintang lima.

Kurt Cobain sangat lekat dengan penampilan tersebut.

He was the one who always looked like a horse shit.

Layaknya vokalis pada hukum rimbanya, Kurt berpengaruh besar pada profil Nirvana. Penampilan sang frontman sangat jelas merepresentasikan identitas Nirvana. Darimana mereka bermula, cerita apa yang mereka nyanyikan, dan masalah apa yang mereka alunkan.

Dari tempat yang tidak lebih dianggap dari sekadar pecundang hidup.

Mereka adalah bagian nyata dari kelas bawah, kelas pekerja, komunitas buruh, anak-anak muda yang disebut punya masa depan suram. Dan sudah menjadi sifat alami manusia jika selalu gemar dengan figur yang merepresentasikan identitas mereka.

Dan benarkan kami jika salah, menurut kami komunitas pekerja dan anak muda adalah faktor penting, faktor utama jika sebuah band ingin menjadi besar. Sebab mereka adalah jumlah terbesar dari lapisan manusia di bumi. Lihat bagaimana besarnya Slank di Indonesia. Saking besarnya, tidak peduli siapa bintang utama festival musiknya, pasti akan selalu ada bendera Slank yang berkibar di barisan penonton.

DEPRESSION IS OKAY.

Ah, tidak adil rasanya kalau selalu menjadikan Kurt Cobain sebagai tolak ukur melihat Nirvana, tapi mau apalagi, suka tidak suka, the famous Cobain is the icon.

Kurt punya tanggung jawab besar pada penulisan lirik dari setiap lagu album ‘Nevermind’. Lirik-lirik yang dianggap bernuansa gelap, penuh amarah, caci, dan tangis. Lirik-lirik yang dianggap setiap komunitas ‘kelas bawah’ mewakili perasaan mereka. Hampir semua pendengar ‘Nevermind’ yakin kalau lagu-lagu tersebut mewakili emosi Kurt atas kisah-kisah kelamnya. Perceraian orang tuanya, konflik pribadi dengan sang ayah, patah hatinya dengan Tobi Vail, deritanya menghadapi bipolar, atau mungkin masalah sakit perutnya yang kronis berkepanjangan.

Memang tidak ada yang tahu pasti darimana Kurt mendapat ide menulis lagu-lagu ‘Nevermind’. Kurt sendiri memang tak pernah memberi konfirmasi resmi. Tapi yang menarik adalah lirik-lirik tersebut merupakan nuansa baru pada industri musik rock. Unik dan beda.

Kurt tidak menulis gembiranya pesta pora sampai pagi. Kurt tidak menulis eloknya tubuh wanita dari ujung rambut sampai kaki. Kurt tidak menulis manisnya bercinta hingga habis hawa nafsu. Kurt tidak menulis mewahnya kemenangan atau glamornya narkoba. Kurt justru menyatakan depresinya. Menumpahkan tanda tanya atas keterpurukaannya.

Seperti Ian Curtis di kota Manchester, Kurt memaniskan depresi. Mengubah pahit menjadi karya seni.

Seperti ending cerita ‘Inside Out’, Kurt menegaskan pernyataan ‘it’s okay to feel a bit depressed.’

But well… pada akhirnya kita tahu tingkat depresi Kurt terlalu tinggi.

MELODI POP SEDERHANA.

Kalau berkarya sebagai musisi apalagi yang dijual kalau bukan melodi.

Pada masa-masa sebelum kemunculan ‘Nevermind’, industri musik rock dikatakan sedang mulai mati. Lagu-lagu yang beredar di radio dan televisi dikatakan memberi kesan yang sama. – Melodi panjang naik turun di berbagai macam bentuk kord gitar.

Dan sekali lagi, kemunculan ‘Nevermind’ pun dianggap pembeda.

Kami tentu tidak tahu kalau pernyataan itu benar atau tidak. Kami baru lahir di penghujung tahun 1992.

Tapi kami tahu jika ‘Nevermind’ memang punya lagu-lagu yang musiknya sederhana. Hampir keseluruhan album ‘Nevermind’ terdiri dari melodi-melodi gitar ‘dua-kord-saja’. Coba dengarkan ‘About a Girl’, iramanya begitu sederhana.

Baik Dave atau Krist atau Butch Vig (produser) pun mengakui jika kesederhanaan lagu adalah hal yang selalu ditekankan Kurt Cobain. Kesukaan Kurt pada karya-karya The Beatles boleh jadi pengaruh melodi-melodi pop sederhananya.

Semakin menguatkan keunikan ‘Nevermind’, pop songs mixed with punk’s attitude.

RIGHT TIME, RIGHT PLACE.

Entah cuma mitos atau nyata, mustahil kami tahu pasti.

Tapi jika menilik rilisan album dan artikel-artikel musik pada akhir tahun 80-an kami pikir ‘right time, right place’ bisa saja ada benarnya.

Skena post-punk dan disko (mungkin) sedang ramai-ramainya. Ada The Smiths, The Cure, atau New Order sebelum Nevermind goin’ worldwide. Sederhana juga, serupa ‘Nevermind’. Tema melankoli juga, persis ‘Nevermind’. Tapi sayang, tak ada harmoni groovy alunan bas khas Krist Novoselic. Tak ada pula ketukan superpower milik Dave Grohl, apalagi teriakan Kurt Cobain yang ikonik.

Skena hair-metal yang penuh oleh gitaris terlalu handal (mungkin) juga sedang ramai. Keras, bertenaga, tapi.. ya tidak sederhana, tidak pop. Sebut saja, Guns N’ Roses, Skid Row, Van Halen, Aerosmith, Kiss, atau Pantera. Saking ramai (mungkin) jadi terdengar membosankan. Layaknya perihal boyband dan girlband.

Pada awal tahun 90-an mitosnya pun perilaku pengamat musik, kritikus musik, serta jurnalis musik sedang terpusat pada skena musik di Seattle. Jika benar, tentu kondisi tersebut menjadi faktor kuat dan penting mengapa akhirnya ‘Nevermind’ meledak cepat serta kemana-mana.

Nevermind hadir tepat di pusat perhatian media, di tengah-tengah kebosanan penikmat musik pada skena yang semua sama. Macam Pak Ahok atau Kang Emil di antara pejabat negara yang sudah biasa santun serta kaku.

Well, that’s it. Kalau beda pendapat… yasudah, silakan salahkan Tuhan saja – tanggung jawab Tuhan yang cipta manusia beda-beda.

Terakhir, mari kita tonton Daniela Andrade menyanyikan ‘Smells Like Teen Spirit’. Bukan musisi handal kalau menurut kami, tapi yang penting enak dilihat sajalah sudah.