Hanster and The Singlet Army: Mengusung Rockabilly Lewat Pita Kaset

0
Sumber: Indie Kota Tua Jakarta

“Saya percaya bahwa musik akan lebih terdengar sempurna pada rilisan fisik, tidak pada rilisan digital.” – Hans Pardede

Arena gelaran Record Store Day Indonesia 2018 di Kuningan, Jakarta Selatan, riuh redam. Pengunjung sibuk menguras kocek dengan beringas. Memburu rilisan fisik musik lama maupun baru yang layak koleksi. Diantara kaset-kaset terbitan terbaru tersebut, terselip rilisan milik band beraliran rockabilly, Hanster And The Singlet Army. Album berjudul ‘Ini Waktu Kita Rockabilly milik band asal Jakarta tersebut memang secara khusus dilepas rilis dalam keriaan tahunan ke-7 ini.

Di Indonesia, jumlah band beraliran rockabilly hanya bisa dihitung jari. Borock N Roll asal Jakarta dan The Hydrant asal Bali, misalnya.

Hanster And The Singlet Army sebetulnya adalah sebuah proyek solo seorang pria bernama Hans Pardede, dikawal 10 orang pemusik The Singlet Army, Hans memekik lagu-lagu berirama rockabilly khas Boogywoogy era 80’an.

[HATSA]
“Sebetulnya ini adalah proyek solo, The Singlet Army adalah teman-teman yang secara bergantian membantu saya mengisi musiknya, jadi kalau kita main secara live pun, antara satu panggung dan panggung lain, pasti beda-beda personil” Cetus Hans serius, saat saya mewawancarainya secara khusus pada hari itu.

Hans memperdengarkan kepada saya lagu-lagu miliknya. Delapan lagu berirama ceria mengalun di telinga, membuat saya nyaris tak bisa menahan untuk ikut menganggukan kepala mengikuti irama.

“Ini proyek lama, materi sudah ada sejak 2004-an. Waktu itu formatnya masih murni sebuah band. Lalu bubar tanpa sempat lagu-lagu karya saya ini direkam,” lanjut Hans.

“Kemudian akhir tahun 2017 lalu, banyak dari teman-teman bermusik dulu datang dan menyarankan untuk merekam lagu-lagu itu. Bertemu dengan anak-anak dari Senang Company, Mukee Cloth & Merch , Reallist Management dan lain-lain, akhirnya kejadian juga karya-karya saya ini dirilis. Semua materi direkam di satu studio, namanya Play Record. Beberapa ada yang merupakan rekaman live kita main. November lalu lah album ini kelar,” pungkas Hans.

[HATSA]
Menurut informasi yang saya dapatkan, pada gelaran Record Store Day 2018 di Jakarta kali ini, ada lebih dari 38 band dan pegiat musik yang merilis karya, baik berupa single, mini album maupun album penuh. Di antaranya ada band ska Monkeyboots dan band indiependen kawakan, The Adam.
Untuk album berformat pita kaset milik Hans, dilepas rilis setidaknya di 5 kota, yaitu Jakarta, Bali, Semarang, Tangerang dan Jogjakarta. Semua masih dalam keriaan Record Store Day Indonesia 2018. Kepercayaannya kepada budaya rilisan fisik, membuatnya enggan melepas karya via platform digital.

Hans mengaku beruntung memiliki jaringan pertemanan yang luas, sehingga bisa mudah mendistribusikan album perdana miliknya ke berbagai kota di Indonesia. Untuk urusan promosi, pria berdarah batak ini hanya mengandalkan media sosial dan melakukan promosi di radio-radio yang mengundangnya.

Selamat, Hans. Semoga musik rockabilly dalam negeri, menggeliat kembali.