Iankanlah, Pekarya yang Tak Mengejar Tenar

0

Adakah pekarya yang tak terlalu menginginkan ketenaran? Jawaban untuk pertanyaan ini adalah, ada.

Iankanlah. Nama pria berbadan gempal ini sempat melambung ke permukaan pertengahan tahun 2013 lalu. Saat itu, dirinya memutuskan untuk menggabungkan bakat bermusik miliknya dengan bakat berkomedi milik komika Uus dengan membentuk duo Kocakustik Realistik bernama Sepuluhtura.

Ian yang sejak awal adalah seorang pemusik di sebuah kafe di Bandung, menapaki kesuksesan baru bersama grup musik komedi ini. Namun di saat pekarya atau pemusik lain mendamba ketenaran, Ian meminta kepada Uus untuk mengistirahatkan Sepuluhtura, justru di saat grup tersebut berada di puncak keberhasilannya.

“Gue ngomong sama Uus, Sepuluhtura ini sudah terlalu industri, sudah terlalu banyak tekanan-tekanan untuk harus lucu, Gue males,” ungkap Ian dalam sebuah program video obrol-obrol youtube #MukeeTalk, yang diunggah Februari 2017 lalu.

[MukeeTalk]
Sepuluhtura kemudian menghilang tak berbekas. Uus melanjutkan kariernya sebagai komedian tunggal dan meraih keberhasilan yang jauh lebih besar, sedangkan Ian memilih kembali menjalani rutinitas bermusiknya di cafe semula dimana kariernya berawal..

Meski sempat didaulat menjadi host beberapa program dari stasiun TV nasional, pria bernama asli Ian Zuliantama ini toh tetap berkeliling menjajakan keahlian bermusiknya dari kafe ke kafe. Merilis single project solo miliknya, dan menggabungkan diri dalam sebuah grup orkes dangdut tanpa segmen, Datasemen 69.

Belakangan, brand Iankanlah yang dikenal sebagai seorang solois, justru ia transformasikan menjadi sebuah band.

“Teman-teman, sekarang saya sedang dalam proses menggarap single baru saya. Diusahakan rilis sebelum Ramadhan. Ini akan jadi single ke-4 saya setelah #NaskahHidup (2014), #LaguKita (2015) & #Licik (2017). Single saya yang baru ini berjudul ‘MayaCitra’ , Di #MayaCitra saya sebisa mungkin mengupgrade petualangan musikal saya. Salah satunya dengan meninggalkan gitar akustik, melupakan lirik-lirik khas pop balada cengeng, memasukkan unsur drum, melibatkan pedal distorsi. Ya, mulai dari #MayaCitra , ‘Iankanlah’ adalah sebuah band.” Begitu cuitan yang diungkapkannya via Twitter.

Ketenaran barangkali bukan merupakan sebuah tujuan untuk pria yang saat ini menjadi penyiar di sebuah stasiun radio di kota Bandung ini. Ian masih tetap bermusik dan berkarya, tapi tetap memilih menjauhkan diri dari lampu sorot ketenaran yang berlebihan. Karena mencintai musik, tak berarti harus selalu mendapatkan sorotan silau di atas panggung, bukan?