Liner Notes: Damon Albarn, Blur, dan Gorillaz

0

Tepat setengah abad yang lalu, lahir satu talenta terbaik musik Britania, Damon Albarn. Salah satu alumni kebanggaan Goldsmith University of London, tempat dimana ia membentuk Seymour, yang sekarang populer dengan nama Blur.

Britpop, skena baru pasca Madchester yang diharapkan oleh umat manusia pencinta musik dapat memberi jawaban kepada Seattle Sound yang kala itu memang dominan di dunia musik populer. Damon Albarn bersama Blur adalah salah satu pialang perlawanan dari Britania. Sayang, dominasi Seattle Sound sudah terlalu kuat.

Albarn dan Blur kurang beruntung, selalu berada di bawah bayang-bayang band lainnya. Setelah Seattle Sound, pada tahun 1995 ranah musik Britania dihebohkan dengan ‘Battle of Britpop’ – Blur dan Oasis merilis single terbaru mereka ‘Country House’ dan ‘Roll with it’ pada hari yang sama. Perang dimulai, dan singkat cerita dimenangkan oleh Albarn dan Blur dengan skor 274.000 copy, menjadikan ‘Country House’ sebagi track nomor satu pada chart musik Britania Raya.

Tapi sebaliknya, album mereka di tahun 1995 gagal menyaingi ‘What’s The Story?(Morning Glory?)’ milik Oasis yang sukses secara global. Media pun ramai-ramai menyebutnya “winning the battle, but losing the war.

Albarn mulai frustrasi, ia terobsesi akan kesuksesan internasional Oasis dan kekasihnya pada waktu itu, Justine Frischmann dari Elastica. Konon hal tersebut memicu hubungan Frischmann dan Albarn kandas.

Hubungan di antara Albarn dan Coxon pun mulai memanas juga, perbedaan visi jadi penyebab. Albarn mulai terpengaruh gaya musik Afrika-Amerika, sedangkan Coxon mulai terobsesi dengan musik underground Amerika yang terdengar lebih berisik.

Albarn mengalah, memberi Coxon kuasa lebih untuk penggarapan album self titled Blur, dan woohoo! Lahirlah lagu berdurasi 2 menit 2 detik, ‘Song 2’ yang diberi sentuhan noisy pada aransemen-nya, hingga dapat dinikmati oleh publik secara global. ‘Song 2’ lantas sempat merajai tangga lagu Billboard selama beberapa waktu.

Blur, lalu identik dengan teriakan “Woohoo.” Tapi, lagi-lagi dan lagi, album tersebut tidak mampu berbuat banyak di perebutan tahta terbaik album Britpop.

Blur butuh jeda 2 tahun untuk dapat meluncurkan album berikutnya, berharap dapat menjawab semua kritik media yang menyebut Blur hanya “jago kandang.” Coxon kembali mengambil kontrol penuh untuk album bertitel ’13’.

Cerita lama berulang lagi. Sukses merilis single ‘Coffee & TV’ dan ‘Tender’, tapi tetap tidak mampu berbuat banyak pada level album secara keseluruhan.

Pasca ’13’, butuh waktu empat tahun bagi Blur untuk melahirkan album kembali. ‘Think Tank’ yang dikerjakan tanpa kehadiran Graham Coxon, sang gitaris. Coxon memutuskan hengkang dari di saat penggarapan album.

Blur kembali bereuni di tahun 2008, menyelenggarakan beberapa tur dan baru kembali merilis album pada tahun 2015, ‘The Magic Whip’, untuk mengobati rindu para pencinta Britpop, yang sebelumnya sudah tenggelam selama bertahun-tahun. Dikerjakan di Hongkong, ‘The Magic Whip’ hadir dengan nuansa Asia Timur yang kental.

JENIUS di BALIK GORILLAZ

Albarn mulai menunjukan kejeniusan ketika hadir bersama Gorillaz, band virtual hasil kolaborasinya dengan artis buku komik, Jamie Hewlett. Sebagai komposer utama, Albarn pertama kali memikirkan ide membentuk Gorillaz ketika menyaksikan acara musik pada salah satu stasiun televisi ternama, dan kartun yang kebetulan juga sedang tayang bersamaan.

Sederhana memang, tapi ide brilian ide itu lahir begitu saja. Sudah malang melintang di industri musik, Albarn menyajikan Gorillaz dengan atmosfer musik yang jauh berbeda dari Blur – Gorillaz lebih condong pada nuansa hip-hop.

Pada mulanya, banyak pendengar yang tidak menyangka jika Albarn adalah komposer dan pengisi vokal 2-D, meski terdengar familiar. Membawa semangat eksplorasi, Gorillaz juga menjadi wadah kolaborasi bagi musisi-musisi kenamaan dan kelas rintisan, entah untuk mecoba hal-hal baru atau untuk unjuk gigi.

Snoop Dogg, De La Soul, Bobby Womack, DARE, Lou Reed, bahkan rival pada masa-masa Britpop, Noel Gallagher, pernah menjadi berduet dengan Albarn, di bawah bendera Gorillaz. Noel sempat berkata pada Albarn, jika ia ingin menjadi kolaborator Gorillaz berikutnya, dan ya, Noel lalu muncul pada track ‘We Got The Power’.

Berbeda dengan Blur yang kesulitan untuk masuk ke pasar musik internasional, Gorillaz berhasil meraih kesuksesan global. Di tengah gempuran punk-rock, Gorillaz lalu menjadi salah satu band tersukses pada periode awal 2000-an.

Daftar putar pada Winamp umat manusia muda hampir tidak pernah lepas dari track ‘Feel Good Inc’ dan ‘Clint Eastwood’. Merajai sejumlah tangga lagu Billboard dan UK, menyabet banyak penghargaan, sukses secara global adalah bukti kejeniusan Albarn sebagai musisi. Meski harus menunggu waktu bersama Gorillaz.

KARIR SOLO

Selain Blur dan Gorillaz sebagai wadah utama bermusik, Albarn juga sempat berkolaborasi dengan musisi asal Mali, Afel Bocoum dan Toumani Diabate, meluncurkan album bernuansa Afrika, ‘Mali Music’, semakin menegaskan bahwa Albarn adalah musisi yang eksperimental .

Pada tahun 2005 setelah ‘Demon Days’, Damon Albarn juga membentuk super-grup bersama Paul Simonon (The Clash), Simon Tong (The Verve) dan Tony Allen, menelurkan satu album, ‘The Good, The Bad and The Queen’

Sayang proyek tersebut kurang mendapat apresiasi. Sebagaimana klise super-grup dengan tingkat ‘excitement’ tinggi pada awal informasinya, tapi berbalas reaksi biasa saja dari publik.

Pada tahun 2014, Albarn mencoba merilis album solo pertamanya, ‘Everyday Robots’, dengan track andalan ‘Mr. Tembo’, ‘Everyday Robots’ dan ‘Hostile’. Terbaru, Albarn turut berpartisipasi pada perilisan lagu ‘One Day’ dari The Child of Love.

Popularitas Albarn memang tidak sebanding dengan nama-nama ikonik dari Seattle Sound, jauh tertinggal oleh masifnya perhatian media pada Kurt Cobain atau Dave Grohl. Tapi sebagai musisi eksperimentalis, kata “jenius” adalah pujian tepat untuknya, si penyandang gelar OBE dari kerajaan Inggris atas determinasinya di dunia musik.

Selamat Ulang tahun, Damon Albarn! Tetap muda! Tetap berkarya, menghasilkan musik musik berkualitas, tetap menjadi ‘Godfather’ bagi musisi musisi kelas rintisan!