Liner Notes: The Dark Side of the Moon oleh Pink Floyd

0
[Rock and Roll Garage]

“Pemikiran filsafat yang dituangkan ke dalam mahakarya musik,” seperti itulah cara menggambarkan album ‘The Dark Side of The Moon’, karya besar dari unit rock-progresif dan psikedelik asal Inggris, Pink Floyd.

Meski berawal dari eksperimen, musik-musik yang berkumpul di dalam album tetap saja ditulis dengan sepenuh hati oleh manusia-manusia penuh talenta dan intelektual. Ikonik dan unik pantas menjadi hasil akhirnya – lihat bagaimana dari sampul album saja, ‘The Dark Side of The Moon’ sudah mampu mencuri perhatian mata.

Sebagaimana mempelajari filsafat, begitu pula mendengar dan menikmati album ke-8 dari Pink Floyd tersebut. Butuh kejernihan hati, pikiran dan konsentrasi.

Baca juga: Alien Mengenal Indonesia – Lily of The Valley

[Ilustrasi album oleh Khusna]
Album dimulai oleh track ‘Speak to Me’, dengan durasi hanya 1 menitan saja. Pembuka berupa dentum kick bass, berlanjut dengan bebunyian kisruh, seperti teriakan, gelak tawa, rantai, hingga detak jam, yang turut serta mengawali track kedua, ‘Breathe’, seraya membelai lirih telinga para pendengar.

Masih memiliki notasi yang dipengaruhi blues, permainan gitar akustik David Gilmour yang lembut lantas diikuti oleh suara Roger Waters yang menghanyutkan. ‘Speak to Me’ dan ‘Breathe’ adalah dua lagu yang tepat untuk membuka kemegahan album.

Kemegahan album belum berhenti pada ‘Breathe’, track ketiga ‘On the Run’ masih menyajikan permainan gitar yang indah dari David Gilmour, dan juga sentuhan memukau jari-jari Richard Wright di atas synthesizer. Atmosfer track pun dibangun menjadikan para pendengarnya seakan-akan melihat seorang manusia yang tengah berlari, dikejar oleh kehidupan yang absurd, terengah-engah dan tak tahu arah.

Terus bimbang, si manusia bukan hanya dikejar absurditas, tapi juga dikejar oleh waktu, layaknya track nomor empat, ‘Time’.

Diawali oleh denting jam, bebunyian bel, dan khas jam lainnya, yang saling tumpang tindih, ‘Time’ merupakan salah satu track terpanjang di dalam album, dengan durasi sampai 7 menit.

Panjangnya durasi bukan masalah, ‘Time’ memiliki ketukan yang dinamis, cepat lantas berganti lamban, lalu kembali ke cepat. Apalagi kalau mengingat bagaimana indahnya bassline, paduan suara, dan synthesizer menyambut sayatan melodi, sebelum berlalu pada permainan drum solo. Lagi-lagi, The Dark Side of The Moon menegaskan kemegahannya.

‘The Great Gig in the Sky’ boleh disebut sebagai kesempatan emas Richard Wright berlagak pemeran utama. Permainan manis jari-jarinya di atas tuts melebur syahdu dengan improvisasi vokal Clare Torry. Nyanyian tanpa kata, hanya senandung, ibarat bercerita bahwa di atas langit, akan ada kehidupan lainnya yang menyambut roh manusia setelah mati.

Pantas kalau ‘The Great Gig in the Sky’ ada di piramida teratas album. Puncak dari album, ketika emosi dan semua perasaan meluap di dalamnya. Hasil eksperimen yang sempurna.

Akhir dari ‘The Great Gig in the Sky’, bukan berarti akhir dari kemegahan album. Track-track berikutnya, seperti ‘Money’, ‘Us and Them’, dan ‘Any Colour You Like’ tentu punya peran yang sama pentingnya di dalam album.

Bahkan ‘Any Colour You Like’ juga mampu memberi alasan kalau Pink Floyd memang memiliki talenta instrumental di atas rata-rata. Lagi-lagi, seperti pada track sebelumnya, mereka mampu bersuara elok tanpa perlu kata-kata.

Penutup album, ‘Brain Damage’ dan ‘Eclipse’ yang ditulis oleh Roger Waters menjadi andalan. Dibaluti harmoni vokal David Gilmour, kedua track tersebut adalah penutup yang sempurna.

Sebelum ‘The Dark Side of The Moon’ dirilis, Pink Floyd memang sudah lama dikenal memiliki karya-karya yang tidak biasa, tidak normal. Sentuhan sci-fi dan electronic sound yang masih langka di tahun 1970-an, menjadikan mereka sebagai pusat perhatian yang baru.

Memang butuh ketenangan dan fokus untuk menyelami ‘The Dark Side of The Moon’, tapi keduanya mampu hadir dengan sendirinya ketika albumnya berputar. Paradoks yang unik, nan ciamik.