Liner Notes: Meteora oleh Linkin Park

3
8
views
[flickr.com]

Di tahun 2000, Linkin Park tiba-tiba datang dan mencuri perhatian dunia musik dengan merilis ‘Hybrid Theory’. ‘Papercut’, ‘Crawling’, ‘In The End’ menjadi lagu-lagu andalan yang berhasil membantu album debut Mike Shinoda dan kawan-kawan meraih penjualan sampai angka 10 juta kopi.

Pertanyaannya kemudian, apa yang bisa dilakukan Linkin Park untuk meneruskan sensasi?

Pada 25 Maret 2003, penikmat musik lantas mendapatkan jawabannya. Linkin Park kembali melanjutkan momentum sukses dengan merilis ‘Meteora’.

‘Somewhere I Belong’, ‘Faint’, ‘Breaking The Habbit’, ‘Session’, lalu ‘Numb’.

Memulai ‘Meteora’, Linkin Park mengakui kalau mereka menyelipkan ‘Reanimation’ (album remix ‘Hybrid Theory’) sebagai pengaruh utama, agar dapat membantu gaya bermusik mereka bereksperimen lebih jauh daripada masa-masa ‘Hybrid Theory’.

“We got to see a lot of different styles of writing that we ordinarily wouldn’t have explored. I think that really helped to evolve our writing process,” kata Brad Delson (gitaris) pada MTV di waktu perilisan.

Dia pun menambahkan, “We really learned the meaning of pressure. But it wasn’t pressure from outside people. It was artistic pressure from ourselves. You can’t control the commercial success of a record, so there’s no point in investing energy in that. But the quality of your record is entirely up to you, and you can’t blame anyone else if you write crappy songs.

Before we did ‘Meteora’, I listened to ‘Hybrid Theory’ and ‘Reanimation’, and I was like, ‘Dude, I’m really proud of these records. I don’t remember how we did it, and I don’t know how we’re gonna do it again. We’re kind of screwed. Then, fortunately, we were able to invest ourselves fully in the process for 18 months, and that helped us make a really great record.”

Kalau pun sebelumnya sempat ada kekhawatiran terhadap potensi sukses ‘Meteora’, semua gelisah tersebut sirna ketika single ‘Somewhere I Belong’ meroket pesat ke jajaran atas tangga lagu bulan Maret tahun 2003.

Suara gitar yang tebal, padat, dan kasar, permainan scratching yang memaniskan distorsi, rapping yang bercampur melodi vokal penuh tenaga, ‘Somewhere I Belong’ menjadi pembuka sempurna untuk 5 menit pertama ‘Meteora’. Menjebak telinga-telinga pendengar agar terus mencoba lagu-lagu selanjutnya.

‘Meteora’ kemudian menjadi kepingan album musik tersukses untuk perihal pemutaran jumlah lagu dalam satu album di radio-radio rock alternative pada periode 2003-2004. ‘Meteora’ lantas juga membantu Joe Hahn meninggikan karirnya sebagai sutradara di industri video musik.

 

Mengikuti jejak ‘Somewhere I Belong’, berputarlah ‘Faint’, track lagu dengan intro pembuka yang begitu menarik, dan selalu dikenang sepanjang masa – seuntai aransemen violin yang dituliskan Mike Shinoda dan David Campbell. Lalu dilanjutkan oleh suara gitar pulse-pushing hasil olahan Brad Delson, serta kombinasi alunan bass keras Dave “Phoenix” Farrell dan ketukan deras nan cepat Mister Rob Bourdon, sebelum teriakan ikonik Chester Bennington memulai keistimewaan lagu.

‘Meteora’ kembali menghadirkan 2,5 menit yang berkualitas.

Dikutip dari Artist Direct, Chester Bennington sempat menyatakan, “We knew what we wanted, and we knew how to execute to a certain degree. However, we were also just going for it. We didn’t really care about what anybody else was doing. We also didn’t care whether or not the songs fit together stylistically as a whole or a collection of songs.

It was more like, ‘This riff is sick!’ Then, we’d just scream over it, and the next song would be a mid-tempo ballad and you’d sing the way that song needed to be sang. We were testing. We were students in college. We were in the lab, and we happened to stumble across something everybody liked and it worked. I think ‘Meteora’ was an extension of that.”

Hit terbaik selanjutnya dari ‘Meteora’, tentu saja ‘Numb’. Lagu penutup pada album kedua Linkin Park yang sempat singgah selama 12 pekan di puncak tangga lagu Modern Rock sekitar akhir tahun 2003 sampai awal tahun 2004, serta mendapat penghargaan Grammy untuk kategori Best Rap/Sung Collaboration sebagai bagian dari “Numb/Encore” bersama Jay-Z di Collision Course album.

Now, Grammy mungkin memang bukan patokan tepat untuk mengatakan yang terbaik, tapi kami yakin bila semua pecinta rock-alternatif pastilah sepakat kalau kombinasi beat elektronik, alunan nada dramatis sederhana, dan teriakan Chester Bennington, merupakan salah satu karya terbaik di planet Bumi.

Track besar ‘Meteora’ lainnya yang pantas dikunjungi adalah ‘Breaking The Habit’, satu lagu yang disajikan ke pasar industri musik dengan video bergaya anime dari Joe Hahn dan Studio Gonzo. Meski tidak terlalu menonjolkan karisma teriakan Chester Bennington, ‘Breaking The Habit’ mampu menunjukkan diri sebagai salah satu single ‘Meteora’ yang bertenaga penuh. Malahan, bagi sebagian penggemar, ‘Breaking The Habit’ dinilai sebagai klimaks ‘Meteora’.

“For the last five years, I’ve been wanting to write this song,” jelas Mike Shinoda pada Rolling Stone sebelum perilisan ‘Meteora’.

“It’s about some friend of mine that had some really awful events happen to his family. It’s kind of dark. It’s not something people will hear on the radio, but it’s important to us.”

Seperti yang kita ketahui sekarang, komentar Mike Shinoda justru terlihat menilai rendah selera radio-radio pada masa-masa kejayaan rock-alternatif.

‘Breaking The Habit’ justru menyusul ‘Numb’, ‘Faint’, dan ‘Somewhere I Belong’.

Melengkapi hit-hit terbaik ‘Meteora’, ada ‘Lying From You’. Berisikan sampel suara violin dan mobil terbakar, lagu ini jelas memberikan warna berbeda bagi telinga para pencinta dunia musik rock-alternative. Mike Shinoda kemudian mengungkapkan kalau ‘Lying From You’ bercerita tentang seorang yang sedang menjauhkan diri dari seseorang lainnya dengan cara membuat kebohongan lebih dulu, sehingga bisa memancing amarah.

‘Meteora’ juga menghasilkan beberapa track menarik lainnya – ‘From The Inside’ yang cukup tragis dan ‘Session’, salah satu track instrumental yang mendapat penghargaan nominasi Grammy untuk kategori Best Rock Instrumental Performance di tahun 2004.

Tapi, terlepas dari segala unsur teknis, salah satu alasan yang tak bisa dikesampingkan, mengapa ‘Meteora’ mampu menjadi karya musik yang populer dan berkualitas, adalah tentu karena perihal koneksinya dengan para pendengar. Sudah hukum rimbanya. Sudah jadi syarat dan ketentuan berlaku. ‘Nevermind’, ‘OK Computer’, ‘Wasting Light’, ‘Kisah Klasik Untuk Masa Depan’, ‘Bintang Di Surga’ bisa jadi contoh-contoh klasiknya.

Membicarakan proses penulisan lagu, Chester Bennington sempat menjelaskan pada MTV, “We don’t talk about situations, we talk about the emotions behind the situations. Mike and I are two different people, so we can’t sing about the same things, but we both know about frustration and anger and loneliness and love and happiness, and we can relate on that level.”

Don Gilmore (co-produser) pun mengakui kalau koneksi Chester Bennington dan Mike Shinoda dengan para pendengar ketika menyanyikan emosi adalah salah satu keunggulan utama ‘Meteora’.

“We wanted a group of songs that would sit well together because we wanted to make a record that you could pop into your CD player and, from beginning to end, there would never be a spot where you start daydreaming,” tambah Rob Bourdon pada MTV di waktu perilisan.

Misi tercapai, ‘Meteora’ kini menjadi salah satu album terbaik di abad 21 dan masih sering diputar oleh para pencinta musik di planet bumi.

Terutama oleh mereka, yang kecewa pada karya-karya terbaru Linkin Park.