The Velvet Underground & Nico: Kesempurnaan Rock ‘n Roll

2
The Velvet Underground & Nico Andy Warhol
[flickr.com] Foto orisinil oleh Daniel Hartwig.

Kalau The Velvet Underground & Nico pernah mengajarkan sesuatu, maka sesuatu itu adalah kesempurnaan di dunia rock ‘n roll berlaku sebaliknya dari kesempurnaan di dunia biasa.

Ketika dirilis pada tahun 1967, sedikit jumlah manusia yang dapat menerima suara agresif dan lirik-lirik provokatif dari Lou Reed dan kawan-kawan. Namun, beberapa tahun setelah perilisannya, The Velvet Underground & Nico menjadi salah satu kunci pergerakan sub-genre punk, dan sekarang, setelah mempengaruhi sejumlah musisi indie lintas generasi di planet Bumi, album perdana yang terkenal akan catatan buruk penjualannya tersebut, justru berubah menjadi ikon penting di sejarah dunia musik.

Baca juga Beauty and The Beast (1991): Bercerita dengan Plin-Plan

Andy Warhol merupakan satu-satunya nama produser yang tertera pada catatan album, meski sebenarnya ia tidak terlalu banyak membantu musikalitas band ketika proses rekaman, layaknya produser-produser lain pada umumnya.

Walau begitu, beberapa orang menilai Andy Warhol memiliki pengaruh besar terhadap kesuksesan The Velvet Underground & Nico. Warhol membantu Lou Reed menemukan sejumlah subjek untuk dituliskan sebagai lirik dan lagu. Seperti mengusulkan nama Eddie Sedgewick, yang lantas menginspirasi track Femme Fatale, dia juga meyakinkan The Velvets untuk merekrut seorang model dari negeri Jerman, bernama Nico, untuk membantu pengerjaan album, dengan mengisi peran vokalis kedua.

Sebelum berkolaborasi dengan The Velvets, Nico memang sudah dikenal baik oleh lingkungan rock ‘n roll pada masa itu. Dia sudah lebih dulu bekerja sama dengan Brian Jones dari Rolling Stones, Jimmy Page dari Led Zeppelin, lalu sempat merekam lagu oleh Bob Dylan dan Serge Gainsbourg. Nico juga pernah menyelesaikan beberapa proyek seni sebagai seorang aktris, ia tampil secara singkat pada La Dolce Vita karya Frederico Fellini.

Pada saat pengerjaan album, The Velvets sempat mengalami sejumlah masalah. Salah satunya pada saat sebagian besar detail album rekaman sempat hilang atau terlupakan letak penyimpanannya. Lantas memaksa mereka merekam kembali materi-materi lagu secara terpisah di New York, L.A., dan kota-kota lainnya, dan menyesuaikan biaya rekaman tersisa.

Ketika rampung, mulanya, rekaman asli The Velvet Underground & Nico pernah ditolak oleh sejumlah label rekaman, seperti Columbia, Atlantic, Elektra, sebelum akhirnya diadopsi oleh label rekaman dengan orientasi pada genre traditional-jazz, Verve Records. Bahkan ketika akhirnya sudah menyetujui kerjasama, Verve Records masih memaksakan beberapa perubahan agar rekaman tersebut memiliki nilai komersil yang lebih tinggi. Salah satunya adalah dengan menambahkan single Sunday Morning ke dalam album.

Perilisan album pun juga sempat tertahan selama satu tahun dari rencana awalnya, dan penyebab penundaannya seringkali diarahkan kepada Andy Warhol, yang pada saat itu juga berperan sebagai co-manager, meski sebelumnya tidak pernah sekali pun memiliki pengalaman mengasuh sebuah band. Lalu, di puncak masalah ‘kurangnya pengalaman’, sampul album bergambarkan kulit pisang yang ia desain sendiri, justru memerlukan mesin khusus untuk produksinya. Beruntung Verve Records menyetujui penundaan perilisan album, sebab mereka percaya bila art-work dari Andy Warhol akan membantu tingginya angka penjualan album.

Yang terjadi?

Sampul album The Velvet Underground & Nico lantas menjadi ikon penting di sejarah dunia musik, khususnya rock n roll. Membantu The Velvets mendulang pundi-pundi Dollar lewat penjualan sejumlah merchandise.

Tapi sayang, desain sampul album oleh Andy Warhol kemudian juga menghasilkan dua tuntutan hukum. Pertama, datang beberapa saat setelah perilisan album, dari aktor Eric Emerson, yang lukisan wajahnya terpakai tanpa izin resmi pada sampul bagian belakang. Dan yang kedua, di tahun 2012, dari anggota-anggota tersisa The Velvet Underground, perihal klise, yaitu pembagian royalti.

Kesan album yang unconventional bukanlah penyebab utama cacatnya penjualan album di awal mula perilisan. Promosi album justru sempat terkendala oleh konten lirik pada sejumlah lagu, dimana stasiun-stasiun radio sering dilarang oleh pemerintah setempat untuk memutarkannya dan juga mendesak majalah-majalah musik agar menolak ide untuk memasarkannya. Sehingga kemudian memaksa The Velvet Underground & Nico hanya dapat duduk di nomor 171 tangga album Billboard.

Namun seiring waktu berjalan, album perdana The Velvets semakin beredar luas di pasaran, menjadi inspirasi, dan panutan berarti bagi para musisi muda. Telah dirilis ulang beberapa kali, termasuk dalam bentuk super deluxe box-set yang terdiri dari 6 keping CD di tahun 2012. Lalu ditambah dengan kenyataan pada tahun 2002, ketika rekaman demo yang sempat ditolak oleh sejumlah label kembali ditemukan di pasar loak Manhattan, dan berhasil dijual via eBay sampai menyentuh angka lebih dari 25000 USD.

Album yang tak pernah diinginkan oleh siapapun pada kelahirannya, ternyata kini sama berharganya dengan keping-keping emas.