Mengenal Sudjiwo Tedjo, Sang Pemusik Kata

0

Ketika tak ketika tak, kata-kata tak kita ketikkan tak kita titikan, kata-kata ketakutan,” Sepetik syair dari pemusik kata, Sudjiwo Tedjo.

Agus Hadi Sudjiwo, seorang dalang wayang kulit kelahiran Jember, 31 Agustus, 55 tahun lalu ini lebih dikenal dengan panggilan Sudjiwo Tedjo. Nama ini merupakan sebuah nama panggung yang ia bentuk sebagai penghormatan kepada ayahnya yang juga seorang dalang wayang kulit, Sutedjo.

Selain aktif di dalam dunia pewayangan, tak banyak orang tahu kalau ayah dari Rembulan Randu Dahlia, Kennya Rizky Rinonce dan Jagad ini juga merupakan seorang pemusik handal. Selain menguasai Saksofon dan Gitar, seniman nyeleneh ini amat pandai menggubah dan menyanyikan lagu.

Album musik perdananya dirilis pada tahun 1998, bertajuk ‘Pada Suatu Ketika’. Untuk album ini, beliau menggandeng banyak sekali maestro musik dalam proses kreatif dan produksi. Salah satunya adalah gitaris beraliran jazz Tohpati yang mengisi gitar pada nomor ‘Anyam-anyaman Nyaman’ dan ‘Goro-goro’.

Album tersebut mendapat apresiasi yang luar biasa dari kalangan pecinta dan pengamat musik. Klip Video dari single berjudul sama dari album tersebut bahkan sempat mendapat penghargaan dari MTV Asia.

“Video klip lagu ‘Pada Suatu Ketika’ digarap oleh Riri Riza dan Mira Lesmana, dan langsung dinyatakan sebagai klip terbaik di Indonesia saat itu, setahun kemudian masuk kategori Most Wanted juga di MTV,” kenang Sujiwo Tejo, yang kami kutip dari website pribadinya.

Sampai dengan pengujung tahun 2017, setidaknya Mbah Jiwo, panggilan akrab beliau, sudah merilis 6 Album penuh, dan beberapa single seperti ‘Jancuk’, ‘Semacam Riang’, dan ‘Sugih Tanpo Bondo’. Beliau juga tercatat pernah menggelar konser tunggal karya-karya-nya bertajuk ‘Mahacinta Rahwana’ pada tahun 2013 di Taman Ismail Marzuki. Konser tunggal tersebut digelar selama 2 hari berturut-turut, dan melibatkan banyak musisi dari berbagai kalangan usia dan aliran musik seperti Bintang Indiarto, Glen Fredly, Anji, Sruti Respati dan Putri Ayu.

[Sujiwo Tejo]

Musikalitas Sudjiwo Tedjo termasuk yang memberi dampak cukup baik dalam pelestarian musik etnik lokal Indonesia. Dalam album-album musiknya, Mbah Tejo selalu memadukan unsur khas indonesia, seperti bunyi-bunyian alat musik jawa, sumatera dan lain-lain, bahasa jawa, memasukkan unsur keroncong, cengkok madura dan lain sebagainya.

Selain daripada ciri khas unsur etnik lokal, Sudjiwotedjo juga menyebut dirinya sendiri sebagai pemusik kata. Oleh karenanya, banyak dalam lagu-lagunya, beliau selalu lebih terdengar meracau ketimbang menyanyi. Namun anehnya, rangkaian kata yang seolah tak beraturan tersebut justru mencipta nada-nada dan syair-syair yang menggetarkan.

“Bahasa tidak sebatas soal arti, arti dalam bahasa dan kata hanya bekerja di dalam logika dan imajinasi manusia. Selain itu, bahasa dan kata sesungguhnya adalah bunyi, musikal. Dengan begitu, tanpa harus tau arti, bahasa dan kata juga bekerja secara estetis dalam batin manusia,demikian penjelasan Sudjiwo Tedjo dalam akun Twitternya.