Mengenang Chris Cornell, Salah Satu Pentolan ‘The Seattle Big Four’

2
16
views
Ilustrasi oleh: Satria Bayu

Vokalis Soundgarden dan Audioslave, yaitu Chris Cornell meninggal dunia pada Rabu, 17 Mei 2017 kemarin di Detroit, Michigan.

Menurut sejumlah laporan, kematian dari salah satu ikon Seattle Big Four tersebut merupakan kejadian yang tiba-tiba dan tak terduga.

Belum ada pernyataan resmi dari kepolisian setempat perihal penyebab kematian, namun investigasi dilakukan dengan dugaan bunuh diri.

“When officers went to the room they found Chris Cornell laying in his bathroom, unresponsive, and he had passed away. We are investigating it as a possible suicide but we need to wait on the medical examiner to determine the cause and manner of death,” sebut Michael Woody, salah satu juru bicara dari kepolisian Detroit (via Independent).

Beberapa jam sebelum kematiannya, Chris Cornell baru saja tampil penuh memainkan 20 lagu bersama Soundgarden, bertempat di Fox Theatre.

MENGENANG CHRIS CORNELL

Lahir dan tumbuh besar di kota Seattle, Chris Cornell merupakan salah satu musisi yang bertanggung jawab atas pergerakan masif skena musik grunge di periode awal 90-an, dengan Nirvana, Pearl Jam, dan Alice In Chains.

Menulis musik bersama Kim Thyail sebagai gitaris dan Hiro Yamamoto sebagai pembetot bass, Chris membentuk Soundgarden sebagai band profesional pertamanya di tahun 1984.

Soundgarden kemudian menjadi band pertama dari skena musik grunge yang berhasil menembus major label – membuka gerbang lebih lebar untuk band-band lain dari ranah serupa.

Superunknown’ di tahun 1994 adalah salah satu album terbaik dari Soundgarden. Terjual lebih dari 9 juta kopi, dan sempat duduk di peringkat satu tangga album Amerika Serikat, serta menginspirasi sejumlah musisi-musisi lain di belahan dunia yanh jauh dari wilayah Seattle. Sebut saja seperti Cupumanik atau Navicula.

Pada tahun 1997, Soundgarden memutuskan untuk bubar (sebelum kembali reuni di tahun 2010 sampai sekarang). Chris Cornell kemudian membentuk Audioslave, berkolaborasi dengan Tom Morello, Tim Commerford, dan Brad Wilk dari Rage Against The Machine.

Di bawah bendera Audioslave, Chris Cornell menghasilkan 3 buah album yang selalu mendapatkan kritik positif dan terjual sampai menyentuh sertifikasi emas. ‘Be Yourself’ dan ‘Like A Stone’ adalah sebagian kecil dari catatan hebat Audioslave di industri musik.

Berganti tahun 2007, Chris Cornell memutuskan pergi dari Audioslave untuk mencoba fokus pada karir musisi solo, sebelum menginisiasi kembalinya Soundgarden di tahun 2010. ‘You Know My Name’ yang merupakan lagu latar serial James Bond ‘Casino Royale’ menjadi salah satu tanda keperkasaannya di dunia musik sebagai pelaku solo.

Setelah meraih sejumlah prestasi di dunia musik, pada tahun 2012, ditemani oleh istrinya, Vicky, Chris Cornell kemudian mendirikan The Chris & Vicky Cornell Foundation – bekerja untuk kegiatan-kegiatan amal terhadap anak-anak kurang mampu.

Namun sayang, meski menorehkan tinta emas di catatan industri musik dan kemanusiaan, Cornell memang sudah lama terkenal memiliki masalah serius dengan obat-obatan dan alkohol.

Sempat menjalani rehabilitasi di tahun 2003, kepada majalah Spin ia sempat mengatakan, “I actually like rehab a lot. It’s like a school; it’s interesting. I’m learning that I can be teachable at age 38. – I would sometimes drink before we played. It wasn’t a big deal. It became a bigger deal when I stopped doing the other things I liked to do.”

Sampai jumpa, Chris!

Thank you for the music! Yes, we do know your name!

You rock!