Mesin Waktu: Alien Mengenal Kaset Kulcha

1
[Sajid Algar]

“[..] tapi tetap saja analog yang juara,” seru Jimi Multhazam menyuarakan semangat umat manusia pencinta gaya lama. Kaset Kulcha adalah salah satunya.

Morfem memang berbicara tentang dua anak manusia berbeda hobi pada track ‘Planet Berbeda’, tapi sepenggal lirik di atas pun cukup beresonansi dengan gairah dari sejumlah manusia-manusia muda dari pulau Bali. Mereka menyebut diri mereka, Kaset Kulcha.

Baca juga: Alien Mengenal Indonesia – Mesin Waktu Bernama Suara Disko

Adalah M. Maruf (Rauf), sesosok manusia berkacamata yang berhasil membawa perhatian kami, dari balik jendela Spotify kepada Kaset Kulcha. Seperti Merdi dan Aat, duet Diskoria Selekta dari Suara Disko, Kaset Kulcha pun bermula dari semangat kolektor. Sekelompok umat penggila musik rilisan fisik, sekawanan humani pencinta kaset pita.

Rauf memulai Kaset Kulcha bersama Nicodemus Freddy pada awal tahun 2015. Pertemuan keduanya terjadi tidak jauh juga dari aksi-aksi perburuan album-album musik dalam format kaset pita di sekitaran pulau Bali. Setelah merasa kurang puas hanya sebagai kolektor, keduanya lantas mencoba aksi yang lebih – membentuk Syndicate Cassette Selectors Bali, atau DJ Kaset dalam bahasa populer.

Rauf (kanan) sedang bersiap-siap di gelaran Temu Terampil Sekawan Vol. 1

“Dulu tuh nyari kaset pita susah banget. Kalau perkara tempatnya dimana, ya di kota-kota mana aja pasti sama. Nah, di Bali tuh yang bikin lebih susah lagi gara-gara komunitasnya nggak ada – mungkin aja sebenernya ada, tapi nggak terdeteksi,” jelas Rauf membuka cerita pembentukan Kaset Kulcha di sela-sela persiapannya beraksi pada suatu malam di panggung Temu Terampil Sekawan Vol. 1.

“Setelah ngobrol-ngobrol lagi sama Freddy, mulai lah ada ide buat ngangkat ke permukaan budaya rilisan kaset pita lagi. Kita bentuk sindikat cassette selector – semacam Diskoria Selekta [Suara Disko] juga, kita DJ, kita puter lagu dari 1980-an, dari 1990-an, sampe awal 2000-an, tapi kita pake kaset. Kalau pake vinyl belum kuat modal, Pak,” lanjut Rauf bergurau, sementara kami cuma tertegun dipanggil bapak. Alien tidak punya alat kelamin, tidak bisa menjadi bapak.

Kondisi para kolektor kaset pita yang berada di antara nyata dan khayalan tentu bukan sambutan baik bagi awal karir Kaset Kulcha. Rauf dan Freddy harus berpeluh-peluh dan bersusah payah memperkenalkan kembali nilai eksotik musik dari kaset pita kepada humani-humani muda Bali – apalagi di tengah gempuran layanan digital.

Beruntung konsisten selalu berbuah positif. Setelah bersuara dari satu panggung ke panggung lainnya, setelah harus meminjam gear kesana-kemari demi menjaga performa, satu per satu penggila kaset pita yang sebelumnya tersembunyi, mulai menampakkan batang hidungnya, ikut berkumpul, seakan membentuk komunitas baru.

Kaset Kulcha bukan lagi kegiatan di waktu senggang, tapi dinantikan hadirnya di panggung-panggung pertunjukkan seni. Malah, beberapa di antaranya ikut beraksi juga di bawah bendera Kaset Kulcha – turut terinspirasi, tercandu menjadi selektor kaset. Nova dan Enggohoi adalah dua nama manusia yang menyusul antusias Rauf dan Freddy.

“Pasti beda ya sama band – emang bukan band juga. Siapa yang jadwalnya bisa main, ya udah dia yang tampil – nggak harus semuanya bisa. Mirip-mirip manajemen band kali ya,” terang Nova singkat tentang metode kerja Kaset Kulcha. Kalau kami bisa menyebut aksi mereka sebagai pekerjaan.

Antusias pengunjung Temu Terampil Sekawan Vol. 1 menyaksikan Kaset Kulcha

“Kerja” memang kata yang terlalu sadis untuk mewakili tingkah polah Kaset Kulcha di kancah industri musik lokal Bali. Mereka hanya bermula dari ide sederhana sekelompok manusia muda pencandu musik gaya analog. Sekelompok manusia muda penggila musik rilisan fisik. Pencinta bising dari kaset pita. Yang pada akhirnya berhasil memberi warna baru pada industri musik lokal Bali, mesin waktu berupa kaset pita.

Mencipta dari apa yang dicinta, Rauf dan Freddy boleh tersenyum bangga. Ide mereka membentuk Kaset Kulcha telah berujung inspirasi. Nova dan Enggohoi adalah contoh kecil. Pertunjukkan mereka yang selalu ramai adalah bukti nyatanya.