Alien Mengenal Indonesia: Mesin Waktu Bernama Suara Disko

3
Suara Disko Featured Image_1
[Foto oleh: Vidi]

Suara Disko. Ambisi mereka cuma satu, agar musik Indonesia juga diterima di lantai dansa.

Bagi umat penduduk planet Bumi kebanyakan, mesin waktu bukanlah fakta. Kedua kata itu hanyalah entitas fiksi yang rutin bekerja di imajinasi. Memiliki mesin waktu adalah sekadar mimpi dan terus dinanti nyata oleh para manusia.

Tapi premis di atas mungkin tidak berlaku untuk Merdi dan Aat. Dua manusia militan penggila piringan hitam, yang juga berkarir sebagai disc jockey. Dua manusia dengan peran besar di balik lahirnya atmosfer lokal di lantai-lantai dansa Indonesia sejak tahun 2015. Dua manusia yang berhasil membawa millenium 2000 kembali pada masa-masa kejayaan groove-funk-disko di periode 1980-an.

Baca juga Dolores O’Riordan: Wajah Tangguh The Cranberries

Berawal dari sering “diperingati” oleh para pengelola klub-klub dansa di sekitaran kota Jakarta agar tidak memainkan lagu-lagu Indonesia ketika tampil, Merdi dan Aat kemudian mengumpulkan semangat dan rencana agar musik-musik kesukaan mereka dapat berputar di tempat mereka mencari nafkah.

Benar, Merdi dan Aat cinta sekali dengan musik dari negeri mereka sendiri.

“Gue lupa gimana detailnya ya – ‘Tidak boleh memainkan lagu-lagu Indonesia’ – kira-kira semacam itu deh surat peringatan pamungkasnya, dan itu ditempelnya di DJ-set kita. Nah, kalo gue inget-inget lagi mungkin malam itu jadi momen pertama tercetus ide untuk mulai Diskoria, lanjut Suara Disko,” jelas Merdi ketika menyempatkan diri untuk mengobrol dengan kami pada bulan September lalu.

Suara Disko Featured Image_2
[Foto oleh Vidi]

Sebelum diterima seperti sekarang, Merdi dan Aat tahu betul permasalahan utama yang harus dihadapi oleh musik disko Indonesia adalah edukasi. Seperti ucapan Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca), “Pasar bisa diciptakan,” mereka berdua sadar pekerjaan utama yang harus segera dilakukan adalah memperkenalkan kembali Fariz RM, The Groove, dan musisi lain dari kategori serupa.

“[…] kita pake’ deh nama Diskoria Selekta di Soundcloud, Spotify, sama apalagi ya. Lupa. Pokoknya dari awal gue yakin, kalo orang-orang udah dengerin, udah kenal, mereka pasti bakalan nyadar musik disko Indonesia tuh asik banget. Ga’ kalah sama yang dari luar. Apalagi kalo pake’ bahasa Indonesia ‘kan pasti lebih berasa deket, lebih relateable, lebih click. Sekarang liat sendiri, antusiasnya bahkan bisa datang dari anak-anak muda yang belum lahir di era 80-an,” lanjut Merdi dengan semangat.

Benar ucapannya. Setelah memperkenalkan dan berhasil membangun kembali antusias terhadap skena disko Indonesia di sejumlah lingkungan dan komunitas, Merdi dan Aat pun bekerja sama dengan Daiva “Deva” Prayudi untuk terus menyebarluaskan candu dari musik-musik disko Indonesia. Bersama beberapa muda-mudi penduduk Bumi lainnya, mereka lantas memulai Suara Disko.

Suara Disko Featured Image_2
[Foto oleh Vidi]

Terlalu rendah kalau kami menyebut Suara Disko sebagai pesta keliling dari satu lantai dansa ke lantai dansa lainnya. Mereka boleh terlihat hanya seperti mengadakan pesta dan bersenang-senang saja di kasat mata, tapi nyatanya Suara Disko juga membawa semangat positif lebih dari sekadar kata hura-hura.

“Edukasi keliling” menurut kami boleh disematkan pada salah satu deskripsinya.

Suara Disko, yang sudah digelar bukan di kota Jakarta saja, tapi juga sampai di kota Denpasar, berhasil memperkenalkan Fariz RM, The Groove, Chrisye, Sheila Majid, Vina Panduwinata, Gombloh, dan Warna hingga kepada penduduk Bumi yang masih di usia remaja. Yang bahkan cikal-bakal bentuknya pun belum terpikirkan oleh orang tua mereka masing-masing di masa 1980-an.

Kami melihat sendiri ketika Suara Disko menyambangi tepian pantai Kuta pada bulan September lalu. Mereka yang sebagian besar datang bukan lagi manusia-manusia kelahiran tahun 1970-an atau 1980-an, justru didominasi oleh kelahiran 1990-an dan awal 2000. Dan dari balik DJ-set kami bisa melihat Merdi dan Aat begitu menikmati kemenangan dan kebebasan mereka.

Mereka, keseluruhan tim di belakang Suara Disko berhasil total. Musik dari negeri mereka sendiri akhirnya bisa diterima di lantai dansa. Musik disko Indonesia bukan lagi harmoni asing di rumah mereka sendiri. Semua berkat mesin waktu yang mereka ciptakan untuk generasi terbaru.