Nevermind oleh Nirvana: dari Titik Terendah Menuju “Berpengaruh”

14
Nevermind oleh Nirvana
[flickr.com] Foto oleh Jeff Egnaczyk

Pernah tampil, satu fotograf unik di dalam sejarah industri musik. Menampilkan bayi laki-laki yang sedang berenang dengan wajah terlihat senang(?), sambil mengejar selembar uang bermata Dollar AS. Sepintas memberi rasa ngeri dan geli. Apalagi ketika perhatian tersadar kalau kertas 1 Dollar itu terkail pada seutas benang pancing.

Metafora indah. Satire yang tajam.

Kurang lebih seperti itulah gambaran sampul album Nevermind. Album kedua dari kelompok musik Nirvana. Satu album yang kemudian membawa trio Aberdeen menuju panggung internasional. Satu album yang kerap disebut sebagai salah satu album musik terbaik di sepanjang masa. Satu album yang acap kali juga disebut mengubah laju industri musik. Satu album yang sering disebut penting dalam komunitas punk-rock. Satu album yang tidak henti-hentinya diperbincangkan oleh pencinta musik.

Berlebihan? Mungkin saja. Kami tidak tahu pasti. Tapi rasa-rasanya kita bisa sepakat kalau Nevermind layak diberi predikat “berpengaruh”.

Bertanggung jawab pada hadirnya Smells Like Teen Spirit, Come As You Are, In Bloom, Polly, dan Lithium. Terjual sampai lebih dari 30 juta kopi dalam skala worldwide. Mendapat penghargaan platinum dengan hanya membutuhkan waktu 9 minggu dari hari perilisan. Lalu, mampu menggeser posisi album Dangerous dari Michael Jackson di puncak US Billboard.

Bagaiamana bisa album dari skena punk-rock bisa menendang popularitas album dari seorang King of Pop?

Ibarat bom atom, Nevermind meledak besar di periode pembuka 1990-an. Benar, benar, benar besar.

Kenapa bisa?

Ironi memang karena kami yang sedang menulis tentang Nevermind nyatanya baru singgah di planet Bumi pada kisaran tahun 1992 dan 1993. Kami bahkan tidak tahu siapa Kurt Cobain ketika dia sudah meninggal. Kami bahkan lebih dulu mengenal Foo Fighters daripada Smells Like Teen Spirit.

Tapi, hei, ini bisa menjadi bukti nyata mengapa Nevermind masih  menjadi salah satu album musik terbaik dan berpengaruh.

Maka, mari coba telaah mengapa.

Baca juga 1984 oleh George Orwell: Fiksi yang Menjadi Nyata

MENCAPAI KATA “Persetan!”

Memulai Nevermind, Kurt Cobain, Krist Novoselic, dan Dave Grohl berangkat dari latar belakang yang tidak sempurna.

Dave Grohl, seorang laki-laki muda yang berlabelkan high-school-drop-out dan datang dari skena punk-rock Washington DC dengan karir musik yang belum menunjukkan cerah sama sekali. Satu kesempatan manis ketika Kurt dan Krist mengajaknya bergabung untuk bermain drum.

Tidak jauh berbeda dengan Dave, Kurt pun punya latar belakang yang buruk. Bahkan bisa dikatakan jauh lebih buruk. Kurt adalah tipikal anak muda broken-home yang selalu terikat dengan masalah. Kehidupan remajanya sebagian besar habis hanya untuk berpindah dari satu masalah ke masalah lainnya. Perkelahian, vandalisme, mabuk-mabukan di tempat umum, sampai narkoba pernah jadi catatan buruknya. Ia juga selalu berpindah-pindah rumah, akibat keluarga ayah dan keluarga ibunya selalu tidak tahan oleh ulah-ulah kenakalan Kurt.

Sementara Krist adalah satu-satunya personel Nirvana era Nevermind yang berhasil menyelesaikan bangku SMA. Sayang, perbedaan status pendidikan tidak lantas berhasil menjadikan Krist sebagai anggota dengan latar belakang yang jauh lebih baik daripada Kurt atau Dave. Meski sudah berhasil merilis Bleach dan menjalankan beberapa tur, nyatanya Krist masih tetap harus bekerja sebagai tukang bersih-bersih untuk bisa bertahan hidup.

Bleach boleh jadi pijakan penting Nirvana di dunia musik, tetapi Bleach masih belum dapat mengangkat Krist dan Kurt ke tingkatan hidup yang lebih baik.

Sebelum Nevermind dirilis, Kurt, Krist, dan Dave adalah contoh nyata dari ucapan-ucapan sinis, “Kalau jadi anak band, kamu mau makan apa?”

Hidup di jalanan, hanya mengenal uang pas-pasan, kadang makan pun harus mengemis iba.

Sebelum Nevermind dirilis, Nirvana belum meninggalkan jauh titik nol level kehidupan, dan musik adalah satu-satunya pilihan mereka untuk merangkak naik.

Kondisi kelam yang melahirkan teriakan “Fuck!” dari mulut mereka dengan jujur. Bukan sekadar lagam di atas panggung. Bukan sekadar berpura-pura bersandiwara.

REPRESENTASI “KELAS BAWAH”

Seperti pepatah lama, “music is an outburst of the soul,” Nevermind adalah teriakan keras tiga anak muda yang hidupnya sudah diberi cap gagal. Seperti perceraian orang tua, drop out, patah hati, penolakan oleh berbagai macam bentuk lingkungan, berpindah-pindah tempat tinggal di sepanjang emperan toko, atau bekerja cuma sebagai tukang bersih-bersih.

Kurt, Krist, dan Dave menerjemahkan segala bentuk kegagalan tersebut pada Nevermind. Bukan, mereka menumpahkannya pada Nevermind. Mereka adalah bentuk kegagalan yang dimaksud.

Kemeja flannel kusam, sweater kusut kebesaran, cardigan bercorak tanah, celana jeans sobek di berbagai sudut, dan rambut panjang kusut tidak pernah keramas adalah sebuah penampilan yang lebih tepat untuk seorang penebang kayu daripada seorang musisi pada masa kejayaan hair-metal. Sebuah penampilan yang lebih mudah ditemui di antara kaum buruh daripada lingkungan berbintang lima. Kurt Cobain begitu lekat dengan penampilan tersebut.

Layaknya vokalis pada hukum rimbanya, Kurt berpengaruh besar pada profil Nirvana. Penampilan sang frontman begitu nyata merepresentasikan identitas Nirvana pada masa perilisan Nevermind. Darimana mereka bermula, cerita apa yang mereka nyanyikan, dan masalah apa yang mereka alunkan. Dari tempat yang tidak lebih dianggap dari sekadar pecundang.

Mereka adalah bagian nyata dari kelas bawah, kelas pekerja, komunitas buruh, anak-anak muda yang sering dipandang sebelah mata. Lalu sudah menjadi sifat alami manusia jika selalu gemar dengan figur yang merepresentasikan identitas mereka.

Komunitas pekerja dan anak muda tentu adalah faktor penting jika sebuah band ingin menjadi besar. Sebab mereka adalah jumlah terbesar dari lapisan manusia di bumi. Lihat bagaimana besarnya Slank di Indonesia. Saking besarnya, siapa pun bintang utama dari sebuah festival musik, pasti akan selalu ada bendera Slank yang berkibar di barisan penonton.

DEPRESI TIDAK PERLU DISEMBUNYIKAN

Tidak adil memang kalau selalu berfokus pada Kurt Cobain. Tapi mau apalagi, suka tidak suka, Kurt adalah frontman, dia adalah ikon Nirvana, meski tidak secara langsung.

Kurt punya tanggung jawab besar pada penulisan lirik dari setiap lagu pada Nevermind. Lirik-lirik yang dianggap bernuansa gelap, penuh amarah, caci, dan tangis. Lirik-lirik yang dianggap komunitas kelas bawah mewakili emosi mereka. Hampir semua pendengar Nevermind yakin kalau lagu-lagu tersebut mewakili emosi Kurt atas kisah-kisah kelamnya. Entah perceraian orang tua, konflik pribadi dengan ayahnya, patah hatinya dengan Tobi Vail, derita menghadapi bipolar, atau mungkin masalah sakit perutnya yang kronis berkepanjangan.

Memang tidak pernah dipastikan darimana Kurt mendapat ide menulis lagu-lagu Nevermind. Kurt sendiri memang tak pernah memberi konfirmasi resmi. Tapi yang menarik adalah lirik-lirik tersebut merupakan nuansa baru pada industri musik rock.

Kurt tidak menulis gembiranya pesta pora sampai pagi. Kurt tidak menulis eloknya tubuh wanita dari ujung rambut sampai kaki. Kurt tidak menulis manisnya bercinta hingga habis hawa nafsu. Kurt tidak menulis mewahnya kemenangan atau glamornya narkoba. Kurt justru menyatakan depresinya. Menumpahkan tanda tanya atas keterpurukaannya. Seperti Ian Curtis, Kurt memaniskan depresi. Mengubah pahit menjadi karya seni.

MELODI POP SEDERHANA.

Kalau berkarya sebagai musisi apalagi yang dijual kalau bukan melodi.

Pada masa-masa sebelum kemunculan Nevermind, industri musik rock dikatakan sedang menuju kebosanan. Lagu-lagu pada radio dan televisi dikatakan memberi kesan biasa dan banal. Mellodi kompleks yang berkepanjangan. Hair-metal bukan lagi kesukaan seluruh umat manusia.

Kemunculan Nevermind lantas dinilai unik dan beda. Mereka hadir dengan harmoni sederhana. Bahkan beberapa trek pada Nevermind ditulis hanya dengan dua kord dasar saja.

Baik Dave, Krist, atau Butch Vig (produser) pun mengakui jika kesederhanaan lagu adalah hal yang selalu ditekankan Kurt. Kesukaan Kurt pada karya-karya The Beatles boleh jadi pengaruh melodi-melodi pop sederhananya.

RIGHT TIME, RIGHT PLACE

Menilik rilisan album dan artikel-artikel musik pada akhir periode 1980-an, ungkapan, “right time, right place,” berjasa besar pada popularitas Nevermind.

Skena post-punk dan disko sedang ramai-ramainya dan menuju banal. Ada The Smiths, The Cure, dan New Order sebelum Nevermind dilahirkan. Sederhana dan sarat dengan melankoli juga, namun terlalu lekat dengan riasan wajah serta tatanan rambut yang mewah. Tak ada pula ketukan bertenaga, apalagi teriakan jujur seperti Kurt. Skena hair-metal pun penuh oleh gitaris terlalu handal. Keras, bertenaga, namun tidak sederhana, tidak pop. Sebut saja Guns N’ Roses, Skid Row, Van Halen, Aerosmith, Kiss, atau Pantera. Saking ramainya justru terdengar dekat dengan bosan. Apalagi pada awal periode 1990-an mitosnya perilaku pengamat musik, kritikus musik, serta jurnalis musik juga sedang terpusat pada skena musik di Seattle. Tentu kondisi tersebut menjadi faktor kuat dan penting mengapa akhirnya Nevermind meledak cepat serta kemana-mana.

Nevermind hadir tepat di pusat perhatian media, di tengah-tengah kebosanan penikmat musik pada skena yang semua sama.