Rayssa Dynta: Mencari Jati Diri Lewat ‘Prolog’

2

Belum banyak jumlah telinga manusia yang pernah mendengar namanya. Tapi bukan berarti Rayssa Dynta hanya akan sekadar lewat.

Meski EP pertamanya baru dirilis pada akhir bulan Januari 2018 yang lalu, secara teknis ‘Prolog’ bukanlah debut Rayssa Dynta di industri musik Indonesia. Sebelum merilis karya kolektifnya sendiri, dia sudah lebih dulu meminjamkan suara lembutnya kepada sejumlah produser dan musisi lainnya, seperti Arrio, Artificial, dan Emir Hermono.

Pop elektronik yang diusung oleh Rayssa Dynta memang sudah cukup banyak penunainya di industri musik modern, dan ia tahu betul kenyataan tersebut. Menariknya, dia juga tahu betul kalau musik serta karakter suaranya pun punya daya jual unik yang mampu bersaing dengan musik-musik lainnya dari ranah serupa.

Baca juga: Franz Ferdinand – Rock, Post-Punk, Dansa, Retro, dan Indie

Dengar saja ‘Something About Us’, salah satu track dari ‘Prolog’ yang sudah lebih dulu dirilis pada bulan Desember 2017. Bercanda dengan gema dimana-mana, Rayssa Dynta memaksa para pendengar linglung mencari tahu darimana datangnya suara lembut bidadari yang mengayun-ayun khayal.

Rayssa Dynta tampaknya bukanlah musisi sentimental. Bagaimana dia membungkus kalimat “Something about us kept coming back” bisa jadi alasannya – bukan dengan aransemen rapuh mengundang melankoli, melainkan atmosfer semangat mengajak beranjak pada sesuatu yang baru.

Tanpa mengindahkan lirik menyayat hati, ‘Something About Us’ justru berwajah asyik.

Seperti titelnya sendiri, ‘Prolog’ menjadi senjata perkenalan Rayssa Dynta di industri musik Indonesia. Bersama label Double Deer, ia menyajikan lima buah track yang akan membawa para pendengar seperti bersantai di sore hari, sambil memahami identitas bermusiknya.

Baik ‘Hands’, ‘Sparks’, ‘Best Tonight’, ‘Be Alone’, dan tentu juga ‘Something About Us’, seluruh track pada ‘Prolog’ adalah cara Rayssa Dynta mengajak para pendengarnya larut dalam petualangan yang berbeda.

Bukan sekadar pop sederhana dengan beat-beat digital dan efek elektronik, tapi juga inspirasi perjalanan seorang manusia yang sedang mencari jati diri. Menjadi emosi tepat untuk mengawali cerita yang baru.

Prolog sudah dapat didengar via iTunes dan Spotify.