Selanjutnya di Rock and Roll Hall of Fame

2
[flickr.com] Foto oleh Bob Hall

Sudah ada Chuck Berry, The Everly Brothers, Buddy Holly, ABBA, B.B. King, The Beatles, Led Zeppelin, Jimmy Hendrix, Janis Joplin, Queen, Nirvana, Deep Purple, Neil Young, David Bowie, AC/DC, dan Greenday.

Sejak tahun 1986, setiap satu tahun sekali, Rock And Roll Hall Of Fame selalu memberikan status abadi pada sejumlah musisi internasional. Menasbihkan profil legenda, memberi pengakuan tinggi terhadap karya-karya mereka selama di dunia musik. Ada yang sebagai performer, produser, sound engineer, atau penulis lagu. Siapapun yang punya jasa besar pada industri rock and roll.

Nama-nama di awal adalah sebagian kecil yang sudah beruntung. Identitas mereka sudah dapat jaminan lestari.

Nah, belakangan, pada beberapa tahun terakhir, pada hari-hari menjelang malam apresiasi Rock And Roll Hall of Fame sering terjadi perdebatan. Baik di kalangan kritikus musik, pelaku musik, atau sampai kaum penikmat (kasual) musik juga. Siapa-siapa saja yang seharusnya masuk ke dalam lingkaran Hall Of Fame.

Tak ada yang salah dengan perdebatan itu, bahkan menurut kamui memang sudah seharusnya terjadi. Mengingat ada banyak sekali nama yang kami duga sudah dipatrikan di museum Hall Of Fame, namun ternyata belum.

Oleh sebab itu, maka biarkan selera kami menawarkan nama-nama yang harus segera ikut serta abadi pada barisan Hall Of Fame.

Untuk catatan, hanya kategori performer saja, humani.

Here they are!

THE SMITHS

Kuartet asal kota Manchester ini punya setiap persyaratan untuk menerima prestise Hall Of Fame. Usia album perdana mereka sudah lebih dari 25 tahun dan mereka pun punya peran besar pada identitas rock and roll, utamanya sub-genre post-punk. Periode aktif mereka boleh saja tidak lama – hanya di medio 80-an, dan hanya 4 buah album studio – tapi, tapi, pengaruh mereka sangat besar untuk popularitas galaksi brit-indies. Majalah kenamaan NME saja sudah memberi sebutan “Most Influential Artist Ever” pada tahun 2002.

Yang mungkin sering jadi pertimbangan adalah bagaimana cara menghadirkan The Smiths dalam kondisi utuh. Mengingat hubungan setiap personelnya sudah tidak terlalu sedap lagi akibat konflik royalti pasca membubarkan diri.

Recommended songs : There Is A Light That Never Goes Out; Please, Please, Please, Let Me Get What I Want; Panic; Heaven Knows I’m Miserable Now, Girlfriend In A Coma.

NINE INCH NAILS (NIN)

Majalah Spin pernah mendeskripsikan Trent Reznor sebagai ‘the most vital artist in music’. Bukan gelar sembarangan kalau kalian melihat bagaimana pengaruh NIN untuk sub-genre industrial rock serta dark ambient. Tanpa NIN bisa jadi suara-suara synth dan elektronik hanya pantas untuk musisi pop saja. Kalau tak percaya dengarkan saja Head Like A Hole.

Pada tahun 2014 dan 2015 kemarin NIN sudah sempat masuk nominasi. Namun sayang, entah mengapa tempat untuk Trent Reznor berdiri di atas panggung Hall Of Fame masih harus ditunda.

Recommended songs : Closer, Head Like A Hole, Survivalism, Sin, The Hand That Feeds.

THE CURE

Membicarakan The Cure tak akan bisa lepas dari Friday I’m In Love. Mereka yang mengaku generasi 90-an biasanya akan mudah sekali mengenali lagu tersebut. Salah satu kreasi terbaik yang Robert Smith dan kolega pernah tuliskan pada sejarah musik post-punk.

The Cure sebenarnya sudah pernah mendapat kesempatan nominasi pada tahun 2012. Namun seperti NIN, predikat Hall Of Fame tak kunjung datang sampai sekarang. Bisa jadi karena penampilan Robert Smith yang selalu gothic dan menyeramkan.

Recommended songs : Boys Don’t Cry, Friday I’m In Love, Pictures Of You, A Letter To Elise, Primary.

MOTORHEAD

Jika pada bulan April tahun yang lalu Hall Of Fame memiliki satu tempat untuk Motorhead, tentu akan menjadi lagam yang sangat keren untuk mengucap sampai jumpa pada Lemmy Kilmister. Tapi sayang, Hall Of Fame jarang sekali melirik sub-genre yang masih terpengaruh aliran metal. Padahal kalau dipikir-pikir kembali, Motorhead adalah salah satu contoh komplit pecinta rock and roll sejati.

Terus aktif berkarya dari tahun 70-an sampai abad 20. Menelurkan 22 album studio, dengan Ace Of Spades jadi bukti nyata keganasan Motorhead di industri rock. Penikmat musik tinggal menunggu hari kapan Hall Of Fame menutup perdebatan ‘saat yang tepat Motorhead naik panggung Hall Of Fame’.

Recommended songs : Ace Of Spades, Overkill, Killed By Death, Orgasmatron, Bomber.

BON JOVI

Siapa yang tak kenal single It’s My Life? Atau single You Give Love A Bad Name? Overrated? Mungkin.

Sering dikaitkan dengan popularitas hair metal, Bon Jovi sudah sepantasnya berada di dalam satu klub dengan The Beatles dan Elvis. Lupakan perdebatan apakah mereka overrated atau tidak, karena perang argumen semacam itu sudah biasa datang ketika band sudah berada pada level stardom yang menjulang tinggi.

Recommended songs : It’s My Life, Livin’ On Prayer, You Give Love A Bad Name, I’ll Be There For You, Bad Medicine

ELLA FITZGERALD

Semua pencinta musik tahu kalau Ella Fitzgerald adalah The Queen Of Jazz. Tapi bukan berarti dia tak punya peluang untuk ikut serta berbaris di jajaran legenda rock and roll. Kalau dilihat-lihat sekali lagi, sudah ada nama-nama musisi jazz lainnya yang duduk di Rock And Roll Hall Of Fame, seperti Jelly Roll Morton dan Billie Holiday.

Jadi, apa salahnya?

Salah satu persyaratan Rock And Roll Hall Of Fame adalah pengaruh. Itu mengapa Ella Fitzgerald berhak diperhitungkan. Sama seperti argumen yang mendukung Jelly Roll Morton dan Billie Holiday, The First Lady Of Song sudah menginspirasi banyak penyanyi di dunia musik. Tak terkecuali mereka yang bernyanyi dengan identitas rock and roll.

Recommended songs : Mack The Knife, It’s Only A Paper Moon, Night And Day, The Lady Is A Tramp, Gone With The Wind.

JOY DIVISION / NEW ORDER

Post punk lagi, new wave lagi, gloomy lagi. Kalau bosan, maaf maaf saja. Semua karena pada daftar Rock And Roll Hall Of Fame sedikit sekali yang mewakili genre ini. Memang ada nama-nama seperti Sex Pistol dan The Clash, namun mereka lebih mewakili identitas punk rock. Lebih sering menyuarakan kritik sosial daripada memaniskan depresi.

Seperti The Cure, Joy Division punya andil besar juga mempopulerkan post-punk dan new wave di akhir 70-an. Namun mereka terpaksa berhenti cepat setelah sang vokalis dan penulis lagu, Ian Curtis, ditemukan tewas menggantung diri di tahun 1980. Tepat sebelum keberangkatan mereka melakukan tur ke Amerika Serikat pertama kali. Setelahnya, personel tersisa tetap melanjutkan kecemerlangan profil Joy Division dengan nama baru, yaitu, New Order.

Recommended songs : Love Will Tear Us Apart, Dead Souls, Bizzare Love Triangle, Blue Monday, The Perfect Kiss.

Yep! That’s all folks!

Itulah nama-nama yang menurut kami harus segera dapat jaminan abadi. Kalau selera berlainan, kalian sudah ingat harus salahkan siapa.

Penutup, karena tahun ini akan jadi tahunnya Eddie Vedder dan kawan-kawan, mari kami ingatkan kembali pada penampilannya saat mengisi pos yang ditinggalkan oleh Jim Morrison.