Senja Bagi Pengantar Minum Racun

0
[Grid] Johnny Iskandar (nomor tiga dari kiri)

Berhasil mempelopori genre musik baru, berjaya menjual jutaan copy album dan karyanya, lalu muncul kembali setelah lebih dari sepuluh tahun menghilang. Kini, lagi-lagi OM PMR datang dengan kabar mengejutkan.

Akhir tahun 2017 dunia musik lokal Indonesia digegerkan dengan kabar cabutnya Mohammad Istiqamah Djamad, atau yang dikenal dengan nama Mas Is dari Payung Teduh. Meski pada akhirnya nasib Payung Teduh baik-baik saja dan tetap berkarya, agaknya popularitas band yang sempat dijuluki “Raja Pensi” ini mulai meredup sejak ditinggal Mas Is yang terlanjur menjadi ikon grup tersebut.

Orkes Moral Pengantar Minum Racun sepertinya punya peluang untuk bernasib sama. Setelah beberapa kali tampil tanpa kehadiran Jhonny Iskandar sebagai ikon, Aji Cety Bahadursyah, pemain perkusi dari grup musik dangdut jenaka ini akhirnya mengumumkan kabar mengejutkan bahwa Jhoni sudah tidak lagi menjadi personil OM PMR.

Dalam keterangan singkatnya, Aji hanya menyampaikan bahwa saat ini, OM PMR sudah tidak lagi bergabung dengan Jhonny Iskandar. Untuk sementara, posisi vokal digantikan oleh Ijul, vokalis dari band Jiung yang didaulat menjadi vokalis tamu.

“Doakan saja PMR tetap berkarya dan maju terus,” ungkapnya lebih lanjut.

Pengantar Minum Racun: Kejenakaan yang Panjang

Orkes Moral Pengantar Minum Racun adalah grup dangdut jenaka yang terkenal pada era 1980-an. Mengawali karier sebagai grup musik pendamping bagi trio lawak legendaris Warkop DKI pada tahun 1977, OM PMR kemudian secara mengejutkan justru memiliki nama besarnya sendiri, setelah sepuluh tahun berikutnya berhasil melepas album perdana bertajuk ‘Judul-judulan’.

Selain karya-karya asli milik PMR, album tersebut juga berisi lagu-lagu berformat plesetan dari lagu-lagu yang saat itu sedang terkenal.

Orkes Moral Pengantar Minum Racun bahkan mengilhami banyak orang untuk membuat grup musik dengan konsep yang sama, yakni grup orkes dangdut jenaka. Beberapa grup musik tersebut adalah Orkes Pensil Alis, Orkes Pemuda Harapan Bangsa, dan Orkes Detasemen 69.

Perjalanan karier bermusik grup yang digawangi oleh Jhonny “Madumatikutu” (vokal), Aji Cety Bahadursyah (perkusi), Yuri Mahippal (mandolin), Budi Padukone (gitar), Imma Maranaan (bass) dan Hari Mukekapur (kendang/minidrum) ini bisa dibilang penuh liku.

Kesuksesan mereka sempat diboikot oleh pemerintah Indonesia. Harmoko, sebagai Menteri Penerangan era Orde Baru memerintahkan pencekalan album-album musik milik OM PMR karena liriknya dianggap tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Sontak, kebijakan sepihak tersebut langsung menyulut pro dan kontra di masyarakat dan kalangan musisi pada saat itu.

Setelah berhasil menjual album lebih dari 2 juta copy dan menggelontorkan setidaknya 15 album penuh dan 7 album kompilasi, pada pertengahan tahun 1990-an OM PMR sempat menghilang dan vakum di era tahun 2000-an. Sampai pada akhirnya, OM PMR muncul kembali pada bulan Juni tahun 2013 di Borneo Beerhouse setelah lebih dari 10 tahun absen berkarya.

Kemunculan kembali OM PMR, disambut oleh anak-anak muda pada saat itu, yang pada akhirnya membuat mereka dilirik oleh label musik independen dan mengeluarkan sebuah mini album berisi materi-materi baru berkonsep lawas. Mini album bertajuk ‘Orkeslah Kalau Bergitar’ tersebut memplesetkan kembali lagu-lagu milik musisi-musisi lain, diantaranya milik band Naif, Efek Rumah Kaca, dan Seringai.

Jhonny Iskandar adalah ikon dari Orkes Moral Pengantar Minum Racun. Vokalis gaek berkacamata ini sempat bersolo karier dan melejit dengan single-single terkenal seperti ‘Bukan Pengemis Cinta’ dan ‘Secangkir Kopi’.

Kini Jhonny Iskandar sang pemimpin grup tersebut telah memutuskan untuk hengkang. Sampai dengan dilansirnya artikel ini, Aji Cety Bahadursyah yang kami hubungi masih belum memberikan penjelasan kenapa Jhonny memilih keluar dari OM PMR.

Apakah hengkangnya Jhonny menandakan bahwa grup musik ini akan menghadapi senjakalanya? Kita lihat nanti.