Sinestesia: Permainan Warna oleh Efek Rumah Kaca

0

Setelah hampir 7 tahun berselang dari ‘Kamar Gelap’, Efek Rumah Kaca membayar tuntas antisipasi panjang para penggemar dengan ‘Sinestesia’.

Apa kalian percaya kalau semua entitas di alam semesta memiliki warna? Percaya atau tidak, begitulah sensasi yang dirasakan oleh para pengidap sinestesia. Sinestesia adalah kondisi di saat manusia Bumi menghubungkan segala hal yang ditangkap oleh panca inderanya dengan warna.

Kondisi inilah yang menjadi inspirasi Efek Rumah Kaca ketika menulis album ketiga mereka, ‘Sinestesia’. Memiliki enam track, dan diberi judul dengan nama-nama warna, seperti ‘Biru’ dan ‘Putih’ yang sudah dirilis terlebih dahulu sebagai single. Bukan sekadar nama, ibarat sindrom, ada pula warna-warna yang ikut bermunculan ketika satu per satu track ‘Sinestesia’ berputar.

Baca juga: Album Konsep – Bercerita dengan Musik

Warna-warna tersebut adalah warna-warna yang bermunculan ketika para pendengar ‘Sinestesia’ melihat kondisi sosial dan politik Indonesia – setidaknya menurut versi Efek Rumah Kaca. Merah mewakilkan geram, biru menjadi wajah dari mimpi akan kebebasan, kuning yang menyalak terang, jingga menyajikan rindu, serta putih bercerita tentang pasrah dan ikhlas.

‘Sinestesia’ memang cukup sentimentil, dan dapat membangkitkan sisi emosional para pendengarnya. Utamanya mereka, manusia-manusia Bumi lokal Indonesia.

Tapi tentu juga, meski kaya akan warna, tidak semua pendengar ‘Sinestesia’ akan mengecap meriah yang sama. Masih ada banyak humani pembosan. Manusia-manusia yang hanya menginginkan lagu-lagu ringan bernafas pendek untuk menghilangkan penat setelah beraktivitas seharian, atau memperbaiki suasana hati agar berdamai dengan kenyataan. Sedangkan pada kesempatan album ketiga, Efek Rumah Kaca sedang bergairah tinggi untuk bereksperimen.

Warna-warni di dalam ‘Sinestesia’ begitu unik – musikal dan punya nafas yang begitu panjang. Bayangkan, track pertama, ‘Merah’ punya durasi sepanjang 11.20 menit, lalu track ‘Biru’ berdurasi 9.53 menit, ‘Jingga’ dengan 13.25 menit, ‘Hijau’ dengan 7.46 menit, ‘Putih’ dengan 9.46 menit, dan yang terakhir, ‘Kuning’ melantun sepanjang 12.16 menit. Dengan ‘Sinestesia’, Efek Rumah Kaca mencoba agar setiap track memiliki dua bagian utama. Butuh kesabaran dan kekhidmatan untuk menikmati seluruhnya.

Bukan rekomendasi tepat untuk kalian, apabila baru saja patah hati atau terlibat masalah dengan manajer di tempat kerja.

Menariknya, Efek Rumah Kaca yang telah berkarir sejak tahun 2001 juga menyadari tentang anomali tersebut. Mereka pun memberi peringatan jujur ketika merilis ‘Sinestesia’. Ibarat obat, album ketiga mungkin akan mengobati pemikiran manusia-manusia bumi, tetapi juga punya efek samping: terkadang menyebabkan kantuk.

Terlepas dari durasi panjang dan lirik yang pelik, tetap saja, musik adalah selera. Humanoid-humanoid Bumi penggemar Efek Rumah Kaca sejak lama akan menganggap ‘Sinestesia’ serupa lukisan post-impressionisme, nyata dan penuh permainan “warna”, sementara mereka yang lebih suka mendengarkan musik sebagai alat pembunuh waktu, akan lebih memilih pergi dari eksperimen Efek Rumah Kaca.