The Polyphonic Spree: Evolusi Grunge Menuju Orkestra

0

Saat krisis grunge mendera Bumi di penghujung 1990-an, kelompok orkestra super-orgasme pop rock The Polyphonic Spree lahir.

Grunge identik dengan kord aneh (kombinasi kord punk yang diselewengkan) serta bayangan Nirvana. Sekalipun banyak band yang mengusung aliran grunge, dengan corak risinil, tetap saja penghuni Bumi tidak bisa melepaskan image kental Nirvana. Tentu berbahaya bagi popularitas grunge itu sendiri. Sejak kematian Kurt Cobain, popularitas grunge meredup dan perlahan bergeser dari setiap mata penghuni Bumi. Contohnya, dari layar MTV.

Sekalipun singkat, riwayat grunge tidak bisa disepelekan. Grunge membentuk identitas unik dari musik rock pada dekade 1990-an. Hampir semua band yang berjuang untuk ketenaran, terkena pengaruhnya. Di Amerika Serikat, ada satu band bernama Tripping Daisy, yang mengusung psych-rock, namun tidak adem-adem psikedelik juga layaknya Pink Floyd. Tebak sendiri musiknya terdengar seperti apa? Grunge.

Tripping Daisy dipimpin oleh vokalis berambut ikal bernama Tim De Laughter. Dalam lagunya, terdapat kombinasi kord aneh ala grunge. Mereka cukup digemari di Amerika Serikat karena keisengan yang muncul dalam lirik-lirik lagunya dan raut wajah sang vokalis.

Tripping Daisy berjaya di tiga albumnya, ‘Bill’ (1992), ‘I Am an Elastic Firecracker’ (1995), dan ‘Jesus Hits Like the Atom Bomb’ (1998). Album pertama membuat Tripping Daisy menjadi bintang di tempat kelahirannya, Dallas. Album kedua membuat mereka melejit menjadi bintang nasional Amerika Serikat. Penjualan album mereka mendapat skor emas di negeri sendiri dan platinum di Kanada. Setahun setelah album ketiga, duka menimpa Tripping Daisy dan menghambat langkah mereka. Gitaris band, Wes Berggren meninggal pada tahun 1999.

Evolusi dari Zaman Grunge

Krisis grunge mendera. Banyak musisi grunge yang mencoba mempertahankan diri, namun hanya bertaji di kancah lokal. Banyak juga yang beralih aliran. Hanya band besar seperti Pearl Jam yang mampu bertahan.

Frontman Tripping Daisy, Tim De Laughter, masih terjebak dalam melankolia karena sang gitaris meninggal overdosis. Satu album lagi bercorak grunge ditelurkan berjudul ‘Tripping Daisy’ (2000), namun euforia yang mengikuti tidak lagi sama.

Tim De Laughter dan sisa personel Tripping Daisy lainnya, tetap berkarya. Mereka melepas corak grunge tetapi bertahan dengan sentuhan psikedelik. Sembari tenggelam dalam melankolia ditinggal sang gitaris, De Laughter melakukan eksperimen yang cukup berbahaya. Dia mengganti unsur grunge dari musiknya, menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda dan mungkin belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah musik planet Bumi. Corak grunge itu berevolusi menjadi orkestra.

Eksperimental De Laughter tersebut bernama The Polyphonic Spree, dan dibentuk secara kolektif. Musisi dari bermacam band dicaplok untuk bergabung. Personel The Polyphonic Spree berjumlah belasan orang. Album pertama The Polyphonic Spree direkam di studio yang sudah dikontrak sebelumnya atas nama Tripping Daisy.

Musik eksperimental yang diusung oleh The Polyphonic Spree sulit dibahasakan. Coba dengar saja bagaimana mereka meracik ‘Lithium’, salah satu track populer dari Nirvana, dengan orkestrasi psikedelik.

Orkestrasi Penuh Aksi

Siapa sangka, era pasca-grunge justru menjemput hawa gemilang untuk Tim De Laughter dan kawan-kawan. Setelah tampil pertama kali sebagai band pembuka, untuk band indie Grandaddy di Dallas pada pertengahan 2000, tawaran manggung dari berbagai daerah menghampiri mereka. Personel dengan angka berjibun membuat The Polyphonic Spree harus pergi konser dengan bus sekolah.

Jumlah personel pun lantas berkembang, yang semula berjumlah 13 lantas bertambah menjadi 25 orang. Mereka pun memulai ekspansi ke luar Amerika Serikat. Jepang, menjadi salah satu tujuannya.

The Polyphonic Spree tampil seperti sebuah sekte. Mereka secara kompak memakai daster kaum hippies dan menyuarakan kebahagiaan duniawi secara keroyokan. Berbagai macam alat musik dimainkan di atas panggung, mulai dari alat musik zaman post-modern, synthesizer, sampai alat musik dari zaman dewa-dewi Yunani kuno ribuan tahun lalu, harpa.

Dasar dari sebuah band rock pun tetap ikut serta–drum, gitar listrik, dan bass elektrik. Lagu-lagu The Polyphonic Spree menggunakan kord yang umum, ala pop rock. Namun dilapisi dengan melodi belasan alat musik dari berbagai genre. Nuansa yang dihasilkan lantas beragam dan positif. Sebuah musik pop orkestra super-orgasme dengan lirik-lirik kebahagiaan.

Tak pelak, sang vokalis, Tim De Laughter, kerap menari lepas di atas panggung, seiring orkestrasi musik psikedelik memuncakkan hormon oksitoksin, dan beberapa perempuan berambut panjang membentuk kelompok backing vocal di baris belakang. Mereka menari serentak mengikuti orkestra, sambil menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri. Rambut mereka terbang ke segala arah, sementara vokal mereka dengan merdu melapisi vokal De Laughter.

Bukan hanya itu, para musisi lain juga diberi microphone, diberi kesempatan menjadi backing vocal. Bermusik ramai-ramai, bernyanyi ramai-ramai, penonton tentu turut bernyanyi.

Sungguh sebuah aksi keroyokan yang ikonik. Spirit rock ditarik sampai ke tapal batas terluas. Mesik personel di setiap panggung sering berganti, akibat kesibukan di luar band, tak pernah membuat pesta psikedelik dihentikan. The Polyphonic Spree terus menapaki tangga evolusi dari penghujung zaman grunge, hingga lebih dari 15 tahun sejak masa kelahirannya.