Tujuh Video Musik Berkonsep One Long Shot

0

Sebagai sarana pemasaran, tentu banyak cara dilakukan oleh para musisi untuk menciptakan video musik yang menarik. One long shot adalah salah satu alternatif yang unik.

One long shot merupakan teknik pengambilan gambar berkesinambungan dalam satu periode. Mulai dari awal sampai akhir hanya dalam satu kali take. Tanpa ada pengambilan banyak adegan yang kemudian bisa di-edit dan diselaraskan menjadi satu video dengan hasil akhir sempurna.

Teknik pengambilan gambar one shot tentu membutuhkan kreatifitas dan perhitungan detail, agar tidak terjadi kesalahan pada saat pengambilan gambar. Sekali saja terjadi kesalahan, maka proses pengambilan gambar harus kembali diulang dari awal.

Baca juga: Liner Notes – Viva Hate oleh Steven Patrick Morrissey

Meski begitu, konsep video one long shot tetap digemari oleh banyak pelaku musik. Selain memiliki tantangan tersendiri, teknik one long shot merupakan salah satu media publikasi yang hemat biaya produksi. Yup, teknik one long shot termasuk gaya produksi low budget. Tantangannya adalah bagaimana seorang sutradara dengan konsep yang terbatas mampu menghasilkan kreatifitas di luar batas.

Less is more. Coba simak tujuh video musik one long shot berikut!

‘1234’ oleh Feist

Penyanyi wanita asal Kanada, Feist, merilis video musik untuk single ‘1234’ pada tahun 2007. Video ‘1234’ memiliki latar sebuah ruangan luas yang sederhana dan cukup untuk menampung sekumpulan penari dengan baju warna-warni, serta koreografi unik yang menonjolkan sang penyanyi dengan dress biru tua.

Sampai sekarang, video ‘1234’ masih memiliki misteri tentang bagaimana para penari latar tiba-tiba menghilang pada bagian akhir video. Apa memang rekayasa video atau justru ada jalan keluar yang rasional?

‘SUBTERRANEAN HOMESICK BLUES’ oleh Bob Dylan

Video ‘Subterranean Homesick Blues’ sebenarnya merupakan potongan klip dari dokumenter berjudul ‘Don’t Look Back’. Pada video, Bob Dylan tampak hanya memegang cue cards yang bertuliskan potongan-potongan lirik dari lagu ‘Subtteranean Homesick Blues’.

Melalui frame yang nampak sederhana dan natural dengan efek hitam putih itu, terlihat juga dua pria yang sedang mengobrol santai pada latar belakang. Video ‘Subterranean Homesick Blues’ merupakan generasi awal video berkonsep one long shot yang menginspirasi para musisi generasi selanjutnya agar membuat video serupa.

‘HERE IT GOES AGAIN’ oleh Ok Go

Ok Go adalah unit rock-alternatif asal Amerika Serikat yang memang selalu langganan merilis video musik dengan konsep one long shot. Mulai dari tarian-tarian sederhana di halaman belakang rumah, hingga koreografi memukau di halaman sekolah di negeri Jepang yang diambil menggunakan kamera drone.

Salah satu yang ikonik adalah ketika mereka merilis video ‘Here It Goes Again’. Selain bernyanyi dan bermain instrumen, nampaknya para personil Ok Go juga memiliki bakat lainnya, yaitu menari. Dalam video, para personel Ok Go melakukan koreografi di atas treadmill yang menyala, dan hanya dengan sekali proses pengambilan gambar, tanpa kesalahan atau terpleset!

‘YELLOW’ oleh Coldplay

Every cloud has a silver lining. Pepatah yang tepat untuk Coldplay ketika mengerjakan video musik ‘Yellow’. Sejak awal, video memang direncanakan berkonsep one long shot, dengan para personil Coldplay berjalan di tepi pantai bersama pemandangan sunset yang sesuai merepresentasikan lirik dari lagu.

Namun sesaat sebelum hari yang telah dijadwalkan untuk pengambilan gambar, salah satu personil Coldplay mengalami musibah. Ibu dari Will Champion (drummer) meninggal, dan prosesi pemakamannya digelar pada hari yang sama. Pihak manajemen band lantas memperbolehkan Champion untuk absen dan mengubah rencana awal.

Pada hari pengambilan gambar, cuaca di sekitar pantai pun tampak mendung, dan seluruh tim sempat merasa was-was tidak dapat mengambil gambar yang sempurna. Beruntung tepat di saat pengambilan gambar terakhir mereka berhasil menangkap pemandangan sunset yang menawan.

‘OPEN YOUR EYES’ oleh Snow Patrol

Seperti ‘Subtteranean Homesick Blues’ dari Bob Dylan, video ‘Open Your Eyes’ oleh Snow Patrol juga bagian dari sebuah film, dari Perancis, yang bertitel ‘C’était un rendez-vous’

Pengambilan gambar dilakukan dengan meletakan kamera pada bagian depan mobil yang sedang melintasi jalanan di kota Paris, beserta arsitektur klasiknya. Sinkronisasi di antara musik dan kecepatan laju mobil pun terasa begitu tepat dan mampu membuat kita terpesona oleh pemandangan yang menawan, dan diiringi lirik romantis.

‘LONELY BOY’ oleh The Black Keys

Memilih “konsep sekali ambil” boleh disebut sebagai upaya The Black Keys menyelematkan video musik yang gagal. Setidaknya, begitulah menurut pendapat mereka dan kru. Kurang lebih selama sebulan, kru telah melakukan banyak pengambilan gambar di Los Angeles, namun menurut mereka hasilnya tidak ada yang maksimal. Mereka menginginkan video musik ‘Lonely Boy’ lebih memiliki unsur humor.

Akhirnya mereka merubah konsep keseluruhan video, hanya dengan teknik one long shot – menampilkan pria berkulit hitam yang menari dan menyanyi sepanjang video. Terdengar membosankan? Coba simak lebih dulu.

‘Everything That You’ve Come to Expect’ oleh The Last Shadow Puppets

Pada video ‘Everything That You’ve Come to Expect’, Miles Kane dan Alex Turner harus menyanyi dalam keadaan seluruh badan yang terpendam oleh pasir di tepi pantai, dan diiringi seorang penari wanita bergaya kontemporer. Satu karya visual yang estetis.

Berbekal pemandangan dan suara gemuruh laut di ujung senja, kreasi The Last Shadow Puppets mampu menegaskan kesan melankolis yang sesuai dengan ‘Everything That You’ve Come to Expect’.