Yockie Suryo Prayogo: Pemberi Nyawa Musik Lintas Genre

1
[Gencil]

Tidak banyak musisi yang bisa mencintai lebih dari satu atau dua genre musik dalam waktu yang sama. Almarhum Yockie Suryo Prayogo adalah salah satunya.

Oleh beberapa manusia Indonesia, namanya sering dianggap kutu loncat, lantaran jarang setia dengan satu band atau proyek yang sama dalam satu waktu. Namun kesetiaan jelas bukan tolak ukur kualitas bermusik.

Baca juga: Charles Dickens – Delapan Novel dan Nilai Kekayaan

Sering, humanoid Bumi kelahiran Demak, 14 September 1954 tersebut menyusun aransemen musik yang pada akhirnya melahirkan karya serupa makhluk hidup – bernyawa.

Ada rasa seolah karya-karyanya masuk menelusup ke dalam diri, lalu mempermainkan emosi, hingga menghipnotis mereka semua, telinga-telinga yang mendengarkan.

Dengarkan saja kemegahan ‘Badai Pasti Berlalu’, nuansa rock simbolis pada ‘Menjilat Matahari’,  hingga ‘Sri Kustinah’ yang kental akan muatan reggae.

Dengan daya otak jenius dan nilai rasa mendalam pada setiap karya yang diciptakan, tentu bukan masalah besar apabila Yockie sering berpindah-pindah dari satu band ke band lain. Ibarat guru besar, dia perlu berkelana menyebarkan ilmu dari satu tempat ke tempat lainnya, memberi inspirasi pada musisi-musisi lainnya.

Berawal dari les piano yang ia ikuti di usia anak-anak, Yockie yang memiliki love-hate-relationship dengan unit rock legendaris Indonesia, God Bless, pada awalnya tidak disetujui oleh sang ayah untuk menjadi musisi.

Nilai-nilainya terus jeblok, dan dia harus susah payah merampungkan Sekolah Menengah Atas sebab lebih sering bermain musik daripada belajar di kelas. Bagi ayahnya, menjadi musisi berarti meninggalkan kemapanan, rela hidup tanpa kepastian, bahkan bisa saja suatu saat berakhir di jalanan.

Tapi Yockie berhasil membuktikan kalau keraguan ayahnya hanyalah mitos. Bergabung dengan God Bless pada tahun 1972, permainan kibornya dianggap unik dan memberikan nafas ikonik bagi God Bless. Aksen klasik pada setiap denting nada.

Belum lagi jika mengingat daya cipta yang luar biasa dari denyut-denyut otaknya. Pantas saja kritikus-kritikus musik Indonesia sering menyebut Yockie adalah motor musik kelas atas.

Puas dengan rock, Yockie menuju ranah pop. Memang janggal, tapi bukan berarti langkahnya terjegal. Mulai dari gelaran Lomba Cipta Lagu Remaja di tahun 1970-an hingga menulis lagu untuk almarhum Chrisye, semua dikerjakan Yockie dengan sentuhan yang manis.

Bila pop Indonesia pada saat itu identik oleh nada-nada mendayu nan klise, Yockie bersama para kolaboratornya justru tampil berbeda. Ia tampil dengan aransemen yang lebih simfonik, hingga pada akhirnya gaya bermusiknya sering disebut pop kreatif.

Bukan sekadar nada pop dan rock, pada akhir dekade 1980-an, oleh Setiawan Djody, Yockie diajak agar bergabung dengan Kantata Takwa, satu proyek kreatif yang melibatkan sejumlah seniman legendaris.

Bersama Kantata Takwa, Yockie berbaur dan bertukar pikiran dengan berbagai macam seniman. Seperti WS Rendra dan Iwan Fals, mencipta karya-karya balad yang sarat akan muatan sosial.

Yockie Suryo Prayogo adalah harta karun langka, manusia Bumi yang dibekali otak kreatif, penuh daya cipta, dan cerdas interpersonal. Sayangnya tidak ada keindahan yang pernah abadi.

Pada 5 Februari 2018 lalu, Yockie menghembuskan nafas terakhir setelah mengidap diabetes selama 15 tahun dan sirosis hati. Humanoid lelaki yang tak bisa tahan sehari pun tanpa merokok itu pergi meninggalkan keluarga dan barisan karya monumental di industri musik Indonesia.

Yockie Suryo Paryogo, musisi pelintas genre dari planet Bumi. Seperti para pejalan di luar angkasa, karya-karyanya pun mampu melintas ruang dan waktu, memberi rasa serta inspirasi di setiap nada.

Rasa. Itulah pesan Yockie. Nada bukanlah sekadar suara, bukan sekadar keluar saja dari instrumen musik atau tenggorokan. Lebih dalam lagi, nada perlu sentuhan rasa. Lihat Yockie, yang sedikit demi sedikit memberi jiwa dan nyawanya pada setiap karya.