Alien Bertemu Anselm, Gaunilo, Kant, dan Nietzsche

3
Nietzsche Kant Gaunilo Anselm
[No Homers]

Kurang lebih tiga bulan sebelumnya kami tiba di planet Bumi. Menumpang sementara sebab rumah kami, planet Sigur, sudah hancur berantakan oleh perang saudara dengan humanoid Romulan, yang bermula dari saling hina di antara pendukung Edward Gluten dan Jacob Plek. Sekarang kami terpaksa melebur dan beradaptasi dengan makhluk-makhluk galaksi bernama manusia.

Setelah enam minggu berhasil menyamar sebagai penduduk lokal dan mengelilingi Bumi, lalu sampai di Indonesia, kami tanpa sengaja menemukan sesuatu yang menarik.

Sebagian dari umat manusia ternyata masih terjebak di dalam satu perang argumen berkepanjangan tanpa akhir. Bukan, bukan tentang Israel atau Palestina, bukan tentang Korea Utara atau Selatan, Ahok atau Oke-Oce, Oasis atau Blur, Nirvana atau Pearl Jam, Raisa atau Danilla, Ryan Gosling atau Ryan Reynolds, legalisasi ganja atau tidak.

Tapi tentang eksistensi Tuhan atau ateis.

Baca juga Petualangan Rick dan Morty: Petualangan Kembali ke Titik Nol

Sebagian umat manusia memang menyebut agama adalah area yang tidak membutuhkan argumen – rasa percaya saja sudah cukup. Tapi sayang, sebagian lain masih memerlukan jawaban lebih dari sekadar keyakinan. “Kalau saya percaya 2+2=5, kalian mau apa? Sebut saya mabuk? Toh, yang penting saya percaya,” begitulah kira-kira bela diri sarkastik dari pihak skeptis.

Bagi si kelompok ragu-ragu, semua hal butuh kebenaran nyata. Termasuk eksistensi Tuhan sekalipun.

Bukti dan pendapat kuat lantas diperlukan oleh sudut religius. Sudut yang percaya betul akan kehadiran Tuhan. Namun pilihan mereka terbatas, di hadapan para manusia skeptis argumen mereka tentu sudah lemah kalau hanya mengandalkan kitab suci semata. Mereka tidak bisa menggunakan apapun yang tertulis pada sebuah buku, untuk menunjukkan kebenaran dari buku itu sendiri. Mereka butuh bukti dari luar.

Berarti kubu ateis lebih unggul?

Kami pikir begitu.

Sampai akhirnya kami berkenalan dengan Anselm of Canterbury, salah satu manusia yang menulis argumen cantik kalau Tuhan adalah nyata.

Kami mengenal Anselm ketika singgah sejenak di perpustakaan kecil bernama Song Two Wuhuu. Anselm menyampaikan pendapatnya pertama kali lewat tulisan yang berjudul The Proslogion di tahun 1078. The Proslogion memberi paragraf deduktif tentang eksistensi Tuhan, berdasarkan apa yang Anselm pahami tentang karateristik Tuhan, atau definisi Tuhan menurut agama, juga menurut ateis.

Dia pun bertanya lebih dulu, “Menurutmu seperti apakah Tuhan?”

Apa Tuhan tak bisa digambarkan? Apa Tuhan berada jauh di luar batas imajinasi manusia? Apa Tuhan seperti astronot dari planet Namek?

Beragam jawaban memang, tapi semua penduduk bumi terlihat sepakat kalau Tuhan berdasarkan definisi adalah dengan sesuatu yang jauh lebih baik daripada yang terbaik, yang jauh lebih hebat daripada yang terhebat, dari yang dapat dibayangkan oleh umat manusia. Yang terbaik.

Kalau manusia dapat membayangkan apapun yang bersifat keren, mengagumkan, dan menakjubkan di pikirannya, Anselm menyebut definisi Tuhan akan jauh lebih megah daripada khayalan tersebut.

Tuhan adalah yang terbaik.

“[GOD IS] THAT THAN WHICH NO GREATER CAN BE CONCEIVED.”

Kalau sudah begitu, bagaimana?

Menurut Anselm, ada dua jalan untuk suatu entitas dapat dikatakan ada hadirnya. Pertama, hadir hanya di kepala, hanya di khayalan. Seperti misalnya kuda bercula satu, atau pasangan hidup yang atraktif, seksi, baik, cerdas, punya selera musik yang sama, dan tahan lama. Atau misalnya lagi, Manchester United menjadi raja sepakbola liga Inggris dalam waktu dekat.

Kedua, dapat hadir sebagai fantasi di siang bolong, tapi juga di realitas. Seperti Danilla, Raisa, Vino G. Bastian, Ryan Reynolds, Ryan Gosling, pizza, nasi goreng, atau indomi rebus pakai telur di saat cuaca dingin hujan lebat.

Kondisi mana yang lebih baik?

Anselm sebut nomor dua. Sesuatu akan jadi lebih baik, lebih hebat, lebih menakjubkan daripada apapun di seluruh galaksi kalau bukan cuma hadir di imajinasi, tapi juga di kehidupan nyata.

Kuda bercula satu? Tentu akan lebih menarik lagi kalau benar-benar nyata.

Pasangan hidup yang atraktif, seksi, baik, cerdas, punya selera musik yang sama, dan tahan lama? Tentu akan lebih baik lagi kalau benar-benar nyata.

Tuhan? Energi paling hebat yang dapat dibayangkan oleh umat manusia? Tentu akan lebih hebat lagi kalau benar-benar nyata.

Maka, Tuhan haruslah nyata. Sebab kalau hanya khayalan, Tuhan bukanlah definisi sesuatu yang jauh lebih baik daripada yang terbaik, yang jauh lebih hebat daripada yang terhebat, dari yang dapat dibayangkan oleh umat manusia.

Relijius jadi pemenang?

Tunggu sebentar.

Di tengah-tengah perbicangan dengan Anselm of Cantebury, datanglah dua manusia lainnya yang merupakan teman sepermainan Anselm, yaitu Gaunilo dan Immanuel Kant.

Gaunilo menyanggah argumen Anselm dengan analogi yang sama, namun dengan subjek yang berbeda. Gaunilo berpendapat logika The Proslogion akan dapat berlaku sama untuk membuktikan keberadaan apapun yang belum pasti.

“Pulau terbaik yang bisa aku bayangkan adalah pulau dimana aku bisa berenang dan bersantai dengan angin tropis, dan dimana aku bisa bermain ski di atas salju sekaligus. Aku bisa bayangkan pulau tersebut. Maka, pulau tersebut haruslah nyata. Kalau cuma khayalan, maka pulau tersebut bukanlah pulau yang terbaik,” bantah Gaunilo di muka Anselm.

“Aku bisa pakai The Proslogion untuk menunjukkan semua khayalanku adalah benar adanya di dunia nyata.”

Anselm menyeruput kopi lalu membalas, “Kau melewatkan poin utamanya, Gau. Argumenku cuma berfungsi tepat untuk entitas yang diperlukan, yang mana cuma ada satu – Tuhan.”

Kami pun bingung.

Melihat kami linglung, Anselm lalu menjelaskan lebih detail maksud ucapannya. “Dengan menambahkan gagasan “entitas yang diperlukan” ke dalam definisi Tuhan, maka eksistensi Tuhan adalah bagian dari definisi Tuhan.”

Mendengar argumen tersebut, giliran Immanuel Kant yang berseru, “Eksistensi bukan predikat!”

“Misal, kalau sebuah bangun segitiga disebut ada, tentu dia memerlukan tiga sisi. Tapi itu juga bisa berarti kalau tak ada bangun segitga sama sekali. Gagasan tentang eksistensi segitiga bukanlah bagian dari bagaimana kita mendefinisikan bangun segitiga.”

Sekarang kami mengerti logika yang diperdebatkan.

Kant menganggap ucapan Anselm of Cartebury sudah menghadirkan argumen yang berputar dan mengundang sendiri kelemahan The Proslogion.

“Kalau Tuhan benar-benar ada, maka Dia tentu saja entitas terhebat yang manusia dapat bayangkan – tapi bukan berarti benar kalau Dia adalah nyata,” perjelas Kant sambil membenarkan resleting celana panjangnya.

Sudut religius pun mulai digoyahkan.

Sesosok pria paruh baya tiba-tiba ikut bergabung ke meja kami, dan langsung ikut berbicara dengan aksen kota London yang begitu kental, “Orang-orang tua, kalian semua terpaku pada logika berpikir.”

Pria itu lalu mengeluarkan secarik kertas penuh corat-coret dari saku celananya, “Coba dengarkan dongeng singkat ini sebentar. Jauh lebih mencerahkan daripada diskusi logika yang kalian mainkan.”

“Oh, silakan saja, wahai pria tanpa nama yang langsung nimbrung-nimbrung saja,” balas Immanuel Kant dengan nada menyindir.

“Ah! Panggil aku John Wisdom, dan berikut adalah The Parable of The Invisible Gardener, karya manusia super tampan dari negeri Ratu Elizabeth,” jawab si pria London menunjuk wajahnya sendiri.

“Dua orang penjelajah tanpa sengaja menemukan lahan terbuka di tengah hutan,” Wisdom langsung saja mulai bercerita. “Di lahan terbuka tumbuh subur bunga-bunga serta rumput-rumput hijau. Salah satu penjelajah, sebut saja Damon Lakban, menduga, “Lahan ini pasti dirawat baik oleh seorang tukang kebun.” Tapi penjelajah satu lagi, sebut saja Geraham Putra Ayam, ragu akan pendapat temannya.

Mereka berdua lantas membangun tenda di lahan tersebut, menunggu kedatangan si tukang kebun, dan memastikan keberadaannya.

Malang nasib mereka, sudah lama menunggu, justru tak ada satu pun tanda-tanda penampakan seorang tukang kebun. “Mungkin dia adalah tukang kebun yang transparan. Tak terlihat oleh kasat mata,” ucap Damon Lakban mengembangkan dugaannya. Lalu mengajak Geraham agar memasang kawat-kawat berduri yang dialiri listrik di sekitar lahan. Mereka pun juga berpatroli dengan bantuan anjing-anjing pemburu.

Hasilnya? Kembali nihil. Tak ada gerakan yang tertangkap oleh kawat-kawat berduri. Tak ada bau-bau manusia yang tercium oleh anjing-anjing pemburu. Tak ada suara-suara mencurigakan. Tak ada sosok apapun tertangkap oleh mata-mata telanjang.

Damon Lakban masih kukuh pada dugaannya, “Pasti ada tukang kebun! Dia transparan, tak terlihat, tak berwujud, tak bisa disentuh kejut-kejut listrik, tak punya bau, bergerak tanpa suara. Dan dia datang dengan sembunyi-sembunyi, merahasiakan cinta dan pedulinya pada bunga-bunga ini.”

Bosan mendengar temannya terus menyebut keberadaan si tukang kebun, Geraham Putra Ayam lalu bertanya, “Transparan, tak terlihat, tak berwujud, tak bisa disentuh, tak punya bau, tak bisa dideteksi sama sekali keberadaannya…

Apa bedanya dengan ‘tidak ada sama sekali’, Mon?”

Layar hitam, dan… tamat!”

John Wisdom senyum-senyum girang melipat kembali kertas corat-coretnya. Wajahnya riang berpikir sudah menyelesaikan perdebatan logika di antara penulis-penulis berusia senja di hadapannya. Sementara Anselm, Gaunilo, dan Kant hanya diam kagum mendengar balada si tukang kebun.

Kedudukan kembali imbang. Sudut religius punya The Proslogion, manusia-manusia skeptis punya balada si tukang kebun.

Mual, muak, dan ingin muntah mendengar perdebatan para penulis tadi, kami lantas pergi dari perpustakaan. Lalu duduk menunggu angkutan umum di halte terdekat bersama satu pria berkumis super tebal, dengan mata yang begitu tajam memandang horizon.

Dia seketika tersenyum, tanpa basa-basi segera menyeletuk dalam bahasa Jerman, “Saat mereka sampai di lahan terbuka, tukang kebunnya sudah mati, Yen.”

“Yen”? Penyamaran kami terbongkar.