Alien Baca Novel: 1984 oleh George Orwell

6
250
views
[flickr.com] Ilustrasi asli oleh Ben Jones (Will-50Watts)

Mari membicarakan tulisan visioner George Orwell. Karya sastra yang belakangan mulai ramai dibuka lagi oleh muda-mudi generasi millenial. Fiksi yang mengimajinasikan kehidupan masa depan dari pandangan seorang novelis Britania di tahun 1949. Khayalan yang diberi label semakin jadi nyata dan relevan di sepanjang jalan melewati abad ke-20.

Ada apa dengan literatur klasik ‘1984’?

SPOILER ALERT, lebih baik Anda mengingat lebih dulu narasi ‘1984’.

RINGKASAN

‘1984’ berfokus pada kehidupan Winston Smith, seorang pria paruh baya tanpa kekasih yang tinggal di kota London. Sayangnya, London di keseharian Winston bukan seperti London yang Anda kenal sekarang. London di keseharian Winston justru lebih pantas jadi narasi pembuka ‘V for Vendetta‘. Kota dengan gaya pemerintahan totaliter dan penguasa partai yang misterius, hanya dikenal dengan nama Big Brother.

Partai pimpinan Big Brother punya segudang macam jenis peraturan ketat untuk menjaga loyalitas setiap penduduk. Mereka memasang teleskrin – layar besar merangkap kamera dan microphone pengawas – hampir di setiap sudut kota, bahkan sampai pada wilayah-wilayah privasi, seperti ruang tamu atau kamar tidur pribadi. Lalu ada juga barisan-barisan polisi pikiran yang bertugas untuk menangkap penduduk dengan kecenderungan berontak pada pemerintahan Big Brother.

Sederhananya, BIG BROTHER IS WATCHING YOU. Kapan pun dan dimana pun.

Winston sendiri merupakan seorang kaum proletar di Kementerian Kebenaran. Pekerjaannya sehari-hari adalah sebagai pengubah rekam jejak pemerintah agar selalu terlihat postif di hadapan penduduk Oceania – ya, pada ‘1984’, London berada di bawah kuasa Oceania.

Winston juga sebenarnya adalah penduduk yang memiliki kecenderungan berontak pada partai pemerintah. Kenyataan itu diceritakan pada saat ia sedang menuliskan perasaan kesal pada lembaran kertas buku diari. Dia tulis, “Dear Diary… 2+2=5…”

Anyway, pada hari-hari selanjutnya Winston tiba-tiba menerima surat rahasia dari wanita muda bernama Julia yang juga bekerja di Kementerian Kebenaran. Isinya adalah ungkapan rasa sayang. Lalu karena hawa nafsu masih normal, Winston lantas mengiyakan ajakan hubungan cinta oleh Julia. Salah satu jenis kegiatan yang dilarang oleh partai, terlebih Julia adalah anggota Liga Anti-Sex.

Winston dan Julia kemudian sering bertemu di tempat rahasia, seperti hutan atau kamar apartemen milik seorang penjual barang bekas. Di setiap kesempatan bergumul memadu cinta, pemikiran berontak pada kepala mereka berdua semakin kuat. Mereka pun memimpikan dunia yang bebas dari perang dan tekanan Big Brother.

Mereka kemudian bertemu O’brien, salah satu anggota pemberontak. O’brien lantas mengajak Winston dan Julia agar ikut serta bergabung dengan Persaudaraan. Sebagai permulaan, O’brien memberi hadiah buku yang membahas tentang asal usul masyarakat Oceania, untuk menunjukkan kalau pemberontakan pada partai adalah mungkin. Hari-hari pun lalu berlanjut dengan Winston membaca buku tersebut bersama Julia di kamar apartemen tempat rahasia mereka berdua menjalin kasih.

Suatu hari, sejumlah polisi pikiran tiba-tiba datang menggeledah kamar tersebut dan menangkap mereka berdua. Winston dan Julia pun lantas masuk tahanan sebagai pemberontak dan dipisahkan satu sama lain.

Pada saat interogasi, Winston terkejut, ia melihat sosok O’brien, yang ternyata adalah polisi pikiran yang sedang menyamar. O’brien lalu menjelaskan kalau ia sudah cukup lama mengamati pergerakan Winston dan Julia, dan kamar apartemen rahasianya sudah dipasangi teleskirn tersembunyi di balik bingkai lukisan.

Selanjutnya, Winston dan Julia dihukum serta disiksa berkepanjangan agar kembali loyal pada paham Big Brother. Winston sendiri berhasil melawan segala siksaan dan mempertahankan teguh niat berontak pada partai, sampai akhirnya ia dimasukkan ke dalam kamar 101. Dimana kepalanya diikat menjadi satu dengan kandang tikus – Winston punya rasa takut berlebih pada tikus. Karena sudah tidak kuasa lagi menahan ancaman tikus pengerat tepat di muka matanya, Winston pun memohon pada O’brien supaya berhenti menyiksanya dan berganti menyiksa Julia saja.

O’brien lantas berhenti menyiksa Winston, malah ia pun mengembalikan Winston kembali ke masyarakat. O’brien percaya, dengan berhasil membuat Winston mengkhianati Julia, ia sudah berhasil menghilangkan semangat Winston untuk memberontak kuasa Big Brother.

Bersyukur sudah dibebaskan, Winston lantas mengembalikan kesetiaan dan komitmennya pada partai. Cerita lalu berakhir di saat Winston dan Julia bertemu lagi di Chesnut Tree, namun tanpa ada rasa cinta, bahkan berubah seperti tidak saling mengenal satu sama lain.

[flickr.com oleh Abner Dean] Ilustrasi Winston dan Julia

Sekarang, mari kita kembali pada perihal jadi nyata dan relevan.

EDWARD SNOWDEN

Edward Snowden bukanlah Winston Smith di kehidupan nyata – tapi kalau digali lebih dalam lagi mungkin akan ada paralelisme-nya. Tujuan kami menaruh nama Snowden adalah sekadar memancing ingatan pada cerita si mantan pegawai NSA dan CIA itu di tahun 2013 silam, dimana ia membocorkan banyak sekali rahasia NSA seputar program-program surveillance yang dijalankan atas nama keamanan negara. Seperti menyadap panggilan telepon seluruh warga AS tanpa pengecualian satu pun, mengakses server perusahaan-perusahaan besar, mematai-matai kepala negara, sampai mengawasi setiap aktivitas pengguna dunia maya.

Program-program NSA inilah yang memulai anggapan kalau tulisan George Orwell sudah menjadi nyata.

Di dalam ‘1984’, Big Brother mengawasi ketat setiap gerak-gerik penduduk Oceania. Teleskrin dipasang di setiap sudut sampai mengintimidasi wilayah privasi. Polisi pikiran berkeliaran dimana-mana memberatas doktrin pemberontakan. Tujuannya juga serupa seperti NSA, yaitu keamanan negara. Winston pun harus mati-matian mencuri celah untuk sekadar menulis “2+2=5” pada catatan hariannya, atau sekadar melepas hawa nafsu sebagai humani dengan Julia.

Sudah susah payah pun ternyata ujungnya masih ketahuan juga.

Meski (mungkin) belum sampai di Indonesia, cerita si Edward Snowden bisa jadi salah satu alasan kenapa ‘1984’ disebut mulai dekat dengan pintu realitas. Amerika dan NSA-nya jadi begitu serupa dengan Oceania versi George Orwell, sama-sama seperti pacar yang possesif, yang selalu minta password Facebook, yang selalu minta lihat handphone, yang selalu mengintip chat history, demi alasan menjaga kuasa.

BERITA PALSU

“… Does the past exist concretely, in space? Is there somewhere or other a place, a world of solid objects, where the past is still happening?”

“No.”

“Then where does the past exist, if at all?”

“In records. It is written down.”

“In records. And- ?”

“In the mind. In human memories.”

“In memory. Very well, then. We, the Party, control all records, and we control all memories. Then we control the past, do we not?”

Percakapan di atas terjadi di saat O’Brien sedang menyiksa Winston habis-habisan. O’brien bermaksud mempertegas tujuan dari Departemen Kebenaran pada ingatan Winston, yaitu sebuah kontrol absolut. Yang kalau menurut slogan partai sendiri adalah,

“Who controls the past controls the future. Who controls the present controls the past.”

Pekerjaan Winston di Kementerian Kebenaran bukanlah cuma tulis-menulis biasa, tapi menulis ulang sejarah yang merekam setiap jejak kebijakan partai. Misalnya, memperbahurui catatan-catatan pidato Big Brother di masa lalu dan menyesuaikannya dengan kondisi terbaru, atau mengubah catatan pendapatan ekonomi agar selalu terlihat sejahtera, atau juga sampai menulis ulang sejarah Oceania, yang entah sebenarnya sedang berperang dengan Eurasia atau Eastasia.

Kehidupan di fiksi ‘1984’ kurang lebih sama dengan stereotype kehidupan manusia-manusia di Korea Utara.

Lalu bagaimana lagi dengan dunia nyata?

Selain stereotype Korea Utara? Ah, tak perlu contoh spesifik. Kewajiban manusia untuk selalu memeriksa sumber dan kebenaran berita sudah bisa menjelaskan mengapa ‘1984’ berdiri di muka pintu realitas.

Dari usia kami yang masih sering menonton Digimon pun ucapan klasik ditipu media sudah sering berkeliaran. Yang membedakan hanyalah, semakin bertambah tahunnya, manusia semakin banyak punya pilihan alternatif agar dipermainkan oleh media. Boleh ditipu oleh portal berita asal-asalan atau yang sudah lama dipercaya, atau juga oleh situs bau kencur yang membahas musik, film, dan novel.

DOUBLETHINK

Ingatlah kembali pada ucapan O’brien di saat menyiksa Winston,

“Doublethink goes on forever, with the lie always one step ahead of the truth.”

This… where s**t got real.

Entah memang direncanakan atau tidak, ‘1984’ bukanlah sekadar lamunan George Orwell di siang hari. Nyatanya, kalau kita melihat karya-karya Goerge Orwell yang lain, kita bisa menduga kalau ‘1984’ adalah tulisan satire yang memang sudah direncanakan matang. ‘1984’ tak cuma menunjukkan imajinasi seputar kekuatan teknologi modern, tapi justru menjurus peringatan keras untuk umat manusia.

Duh… berat mas… [en.oxforddictionaries.com]

Orwell menghabiskan sebagian besar dari masa hidupnya di era keemasan Adolf Hitler dan juga Joseph Stalin. Dua nama ikonik yang sering dikaitkan dengan pemerintahan totaliter dan propaganda. Nama-nama yang ikut muncul kalau humani sedang ingin membicarakan doublethink atau mengubah realitas. Nama-nama yang kemudian (mungkin) jadi pengaruh besar di saat Orwell menulis ‘1984’.

Dengan kebiasaanya yang menulis fiksi-satire, menurut kami Orwell ingin sekali menyampaikan bahaya doublethink di masa mendatang, yang dari kacamatanya di tahun 1949, pasti akan lebih mudah dilakukan. Teleskrin, polisi pikiran, pengawasan ketat oleh Big Brother, mengubah realitas, lalu menulis ulang catatan sejarah adalah pemanis ‘1984’, doublethink adalah bahaya utama yang ingin disampaikan.

Lihat bagaimana Orwell memperkenalkan doublethink lewat ‘1984’. Ia memberi nama ‘Kebenaran’ pada kementerian yang bertugas mengubah rekam jejak partai; memberi nama ‘Cinta Kasih’ pada kementerian yang bertugas menjaga loyalitas penduduk lewat tekanan, rasa takut, dan sistem cuci pikiran di kamar 101; memberi nama ‘Perdamaian’ pada kementerian yang bertanggung jawab pada kekuatan militer selama di medan perang; dan lalu memberi nama ‘Tumpah Ruah’ pada kementerian yang bertugas menekan kesejahteraan penduduk Oceania, agar selalu mudah dikendalikan isi pikirannya.

Yep, Orwell menanamkan kontradiksi di kepala kita. Sweet tricky little devil.

Ini mengapa konflik puncak di ‘1984’ berpusat pada momen ketika O’brien mencuci pikiran Winston agar kembali pada paham Big Brother. Ini juga mengapa Winston menuliskan “2+2=5” saat sedang kesal-kesalnya pada Big Brother di awal cerita. Pernyataan itu adalah konyol dan pasti akan ditolak mentah-mentah oleh setiap orang, tapi kalau setiap hari ditekan terus oleh partai, disiksa habis-habisan di kamar 101, mau apalagi?

2 ditambah 2 pun menjadi 5. Bertahan hidup lantas jadi alasan Winston mengiyakan omong kosong. Bebas lepas dari jerat hukuman lantas jadi motivasinya kembali setia pada partai, meski sudah tahu dan sadar kalau Big Brother adalah tipuan terbesar bagi penduduk Oceania.

Menurut Orwell doublethink adalah kejam. Doublethink bisa membuat kepala Anda berpikir dua arah yang kontradiksi dalam waktu bersamaan. Anda percaya kalau informasi yang Anda terima adalah omong kosong, namun Anda justru menolak kepercayaan itu, meski sebenarnya informasi tersebut memanglah bualan semata.

Semacam orang-orang yang menolak percaya kalau kitab suci bukanlah non-fiksi, tapi ujung-ujungnya tetap saja beragama. Atau orang-orang yang tidak percaya kalau uang bukanlah sumber utama kebahagiaan, tapi ujung-ujungnya tetap saja bernyanyi “kerja keras bagai kuda….”

Anyway, doublethink sendiri memang sudah terlihat nyata di sekitaran humani abad 20. Mungkin belum sama kejamnya dengan fiksi ‘1984’, karena kita tidak terkurung dalam tempurung seperti penduduk Oceania, tidak harus menerima satu sumber berita saja, yaitu Big Brother. Kita sedikit beruntung karena memiliki banyak pilihan sumber informasi untuk membuka mata.

Ya, beruntung, tapi sayang, bukan berarti akan terus begitu. Ingat, kalau kata Jim Morrison,

“Whoever controls the media, controls the mind.”

Misalnya seperti pada masa-masa lagu melayu melantun di bumi Indonesia. Manusia-manusia yang mengaku penggila musik, pastilah sering mencibir ST12 atau Hijau Daun. Tapi kalau lagunya sudah diputar dimana-mana, di radio mobil ketika sedang diantar berangkat ke sekolah, di swalayan-swalayan ketika mengantar ibu belanja bulanan, di layar televisi ketika jadi soundtrack-soundtrack iklan atau sinetron, pada akhirnya… mulut pun jadi ikut, “Jangan, jangan, kau menolak cintaku… Jangan, jangan kau ragukan hatiku…”

Glad it’s already in the past.

Well, people… that’s our two cents about ‘1984’.

Bagaimana? Sudah muak? Kalau begitu, silakan obati dengan Radiohead yang menyanyikan tribute untuk George Orwell.