Alien Baca Novel: ‘Moby Dick’ oleh Herman Melville

1
[flickr.com] Foto oleh Emmanuel Polanco (Will-50watts)

‘Moby Dick’, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih artinya… ah, kalian sudah tahu sendiri.

Setelah minggu sebelumnya kami bicara seputar ‘The Old Man and The Sea’, kami ingin kembali berpetualang ke luasnya lautan. Kembali menikmati kisah dari para pria perkasa pemburu ikan.

Baca juga: Alien Baca Novel – ‘The Old Man and The Sea’ oleh Ernest Hemmingway

Lainnya, bukan ikan marlin lagi yang jadi peran utama, tapi ikan paus putih berkepala kotak, atau lebih dikenal akrab dengan sebutan ikan paus sperma.

RINGKASAN

“Panggil aku Ishmael,” begitu Tuan Melville memulai narasi. Ishmael adalah seorang manusia muda dari kota Manhattan, telah pergi melaut sebanyak empat kali sebagai awak kapal perdagangan, tapi masih memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar pada petualangan memburu ikan paus.

Suatu malam di bulan Desember, ia pergi ke Massachusetts untuk memburu rasa ingin tahunya dan menginap di Spouter-Inn, New Bedford lebih dahulu. Di penginapan, Ishmael bertemu dengan seorang pelempar seruit, Queequeg, yang kemudian mengajaknya agar ikut berlayar bersama kapal Pequod, dinahkodai Kapten Ahab beserta dua orang asistennya, Starbuck dan Stubb.

Sebelum mendaftarkan diri menjadi awak kapal, Ishmael sempat mendengar beberapa rumor tentang Kapten Ahab. Ada beberapa orang yang mendeskripsikannya sebagai pria berwibawa, cerdas, sedikit bicara namun bermakna, sempurna serupa Tuhan, tapi ia juga seorang kanibal. Ada pula yang bercerita kalau Kapten Ahab memiliki dendam kesumat pada seekor ikan paus besar berwarna putih bernama Moby Dick, karena ikan paus itu telah mengambil kaki kiri si nahkoda pada pelayaran sebelumnya.

[Animal Wild Life]

Bukan hanya rumor, Ishmael dan Queequeg pun juga sempat mendengar ramalan tentang pelayaran Kapten Ahab selanjutnya. Seorang laki-laki tua di pelabuhan, berbaju kusut dan terlihat seperti orang gila, bernama Elijah, memberitahu Ishmael bahwa, “Akan datang saatnya engkau mencium bau daratan di tengah laut, padahal di sekitarmu tidak ada daratan. Suasananya sunyi senyap dan Kapten Ahab akan tewas, tetapi dia terlihat hidup dan terus memanggil seluruh awak kapal agar menaklukkan Moby Dick. Semua orang akan mati, yang selamat hanya salah seorang diantara mereka.”

Setelah semua awal kapal berkumpul, Starbuck dan Stubb lantas memulai pelayaran kapal Pequod, sementara sosok Kapten Ahab masih tetap tersembunyi keberadaannya. Pada awal pelayara, kapal Pequod berhasil mendapatkan beberapa ekor ikan paus dalam rentang waktu yang singkat. Tujuan pelayaran kapal Pequod sendiri memang memburu ikan-ikan paus, guna dimakan dan diolah menjadi bahan bakar di perkampungan.

Tujuan mulia kapal Pequod lantas berubah cepat ketika Kapten Ahab tampil untuk pertama kalinya ke hadapan seluruh awak kapal. Hadirlah sosok pria paruh baya dan karismatik, memiliki bekas luka akibat sengatan petir, menjalar dari wajah sampai seluruh badan, serta satu kaki prostetik berbahan tulang ikan paus.

Kapten Ahab berteriak kencang, menjanjikan sekeping uang emas Spanyol kepada awak kapal Pequod yang pertama kali berhasil menemukan Moby Dick. Tujuan utama kapal Pequod pun berganti, menjadi pelayaran balas dendam.

Starbuck sempat menentang keputusan Kapten Ahab. Ia mengingatkan kalau tujuan utama kapal Pequod adalah mencari daging dan minyak ikan paus demi kehidupan di desa pesisir. Meski begitu, Kapten Ahab tetaplah si pemegang kendali. Karisma Kapten Ahab terlalu kuat, kuasanya begitu besar. Seluruh awak kapal berhasil terpengaruh dan melanjutkan arah pelayaran kapal Pequod kepada si ikan paus berkepala kotak.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, kapal Pequod telah berlayar tenang sampai menelusuri pantai selatan Afrika. Kapten Ahab berpatokan pada peta perjalanan ikan paus kepala kotak, yang telah lama ia pelajari sebelum pelayaran. Menurutnya, Moby Dick akan berada di Laut Pasifik di saat bulan purnama muncul.

Selama perjalanan, kapal Pequod diserang banyak bencana, dan menurut Ishmael kondisi tersebut adalah tanda bahwa kapal Pequod telah melenceng dari tugas mulianya. Mulai dari jatuhnya si pengawas menara ke laut, tiba-tiba lenyap seperti ditelan samudera, dan bersamaan dengan itu, cuaca di lautan juga tiba-tiba berubah cepat. Lalu temannya sejak di Spouter-Inn, Queequeg, menderita sakit parah dan terancam kehilangan nyawa.

Queequeg bahkan sudah sempat meminta tukang kayu di kapal Pequod agar segera menyediakan sampan berbentuk peti mati. Beruntung, di saat seluruh awak kapal sudah kehilangan harapan, Queequeg menolak mati, berjuang hidup, lalu segera sembuh.

Setelah cukup lama mengambang di lautan, Kapten Ahab dan awak kapal Pequod akhirnya berhasil menemukan tanda-tanda keberadaan si ikan paus Moby Dick. Mereka melihat sekawanan burung camar, yang memang biasa mengitari tempat munculnya Moby Dick, sedang terbang berputar-putar di salah satu titik di lautan.

Sebelum bertemu Moby Dick, kapal Pequod sempat lebih dulu berjumpa dengan kapal laut bernama The Rachel. Kapten Ahab dan kapten kapal The Rachel lalu saling menyapa dan bertukar informasi seputaran berita dari daratan supaya tidak terisolasi, karena sudah terlalu lama melaut.

Kapten kapal The Rachel juga sempat meminta tolong Kapten Ahab untuk membantunya mencari perahu kecil yang ditumpangi oleh putra sang kapten, tapi ditolak mentah-mentah oleh Kapten Ahab. Ambisi Kapten Ahab membalaskan dendam sudah terlalu tinggi dan ia enggan membuang waktu lebih lama lagi untuk menemui Moby Dick.

Kembali melanjutkan pencarian, Kapten Ahab akhirnya menemukan Moby Dick. Senyum senang menyeringai di bibirnya, kontras dengan awak kapal Pequod yang justru tampak putus asa seketika. Moby Dick memiliki tubuh yang begitu besar. Besar sekali. Melebihi ukuran ikan-ikan paus yang pernah mereka taklukkan.

Mereka pun berpikir kalau Moby Dick bukanlah ikan paus putih biasa, melainkan seekor ikan paus suci.

Melihat awak kapalnya gentar, Kapten Ahab lalu memancing semangat setiap awak kapalnya agar muncul kembali. Ia lagi-lagi berteriak seperti Raja Théoden di saat memimpin perang di Helm’s Deep.

Seluruh awak kapal, termasuk Starbuck yang sempat berselisih paham dengan Kapten Ahab – bahkan Starbuck sempat ingin membunuh Kapten Ahab – kemudian kembali bersemangat membantu Kapten Ahab untuk menuntaskan dendam.

Moby Dick memang bukan ikan paus biasa, Moby Dick adalah ikan paus buas dan juga besar. Dia susah ditaklukkan. Ikan paus kepala kotak itu justru segera melawan gempuran seruit dengan balik menyerang kapal Pequod, mengahancurkan badan kapal berkeping-keping menjadi puing-puing kayu tanpa arti, menewaskan seluruh awak kapal Kapten Ahab.

Melihat kapal lautnya luluh lantak serta awak kapalnya terombang-ambing tanpa nyawa, Kapten Ahab semakin bersemangat menuntaskan dendamnya. Dia mempersiapkan seruit dan tali tambang sebagai senjata terakhirnya. Ia segera melompat ke punggung si ikan paus, lalu menancapkan seruit itu kuat-kuat sampai menembus kulit punggung Moby Dick.

Moby Dick kembali bereaksi cepat. Dia lalu menarik Kapten Ahab yang terikat dengan tubuhnya ke dalam lautan. Sedalam-dalamnya, hingga nafas oksigen pergi tanpa sisa dari paru-paru sang kapten.

[Bibliokept]

Pada penutup, Ishmael bercerita kalau ia teringat kata-kata Elijah, si laki-laki tua di pelabuhan yang meramalkan nasib kapal Pequod dan seluruh awaknya ketika berlayar memburu Moby Dick. Ishmael juga lantas menyadari kalau ternyata dia adalah satu-satunya awak kapal Pequod yang dimaksudkan oleh Elijah akan selamat.

Ia berhasil selamat berkat bantuan sampan berbentuk peti mati milik Queequeg dan kapal laut The Rachel yang datang ke lokasinya setelah kejadian.

ALEGORI TUHAN, IBLIS, DAN EKSISTENSI

Membaca ‘Moby Dick’ adalah mendengarkan Tuan Melville yang sedang bercerita tentang persepsinya terhadap agama dan eksistensi manusia di alam semesta.

Lihat saja nama-nama karakter yang ia gunakan. Ada sejumlah nama yang dicatut dari kisah-kisah Abraham, seperti Ishmael, tokoh yang terlihat “asing” sebab belum memiliki pengalaman berburu ikan paus; Kapten Ahab, si pemimpin; lalu Elijah si laki-laki tua dan peramal yang mengingatkan Ishmael akan nasib buruk kapal Pequod beserta seluruh awak kapalnya; dan ikan paus putih yang digambarkan sebagai ikan paus suci.

‘Moby Dick’ memang bukan kitab agama seperti Al-quran atau Injil, tapi ‘Moby Dick’ punya kemampuan yang sama baiknya ketika melukisakan betapa bahayanya kalau manusia mulai menyangsikan supremasi Tuhan.

“Talk not to me not of blasphemy, Man. I’d strike the sun if it in insulted me.”

Kapten Ahab bukanlah manusia religius seperti kebanyakan anggota kapal Pequod. Kapten Ahab justru digambarkan sebagai karakter yang setara seperti Tuhan oleh Tuan Melville. Dipandang tinggi oleh awak kapalnya, berkarisma, punya pengaruh kuat, dan tak mau menerima fakta kalau semua hal yang terjadi di dunia adalah rencana Tuhan.

Kapten Ahab terobsesi membalaskan dendam. Dia menganggap Tuhan tidak sempurna, karena sudah membiarkan makhluk lain mengambil salah satu bagian tubuhnya. Dia enggan membiarkan dirinya merasa menjadi budak, karena berpikir Tuhan sudah seenaknya tak bertanggung jawab atas makhluk yang diciptakan.

Kapten Ahab enggan bersedia manut-manut dan menerima apa saja yang diberikan kepadanya. Ia ingin lebih. Ia ingin melawan supremasi dan menentukan sendiri nasibnya. Entah supremasi berupa Tuhan, agama, matahari, bintang, atau keabadian.

Bagi Kapten Ahab, Tuhan adalah sosok tiran yang tak seharusnya dihandalkan oleh manusia. Dia berpikir kalau Tuhan bukan figur Maha Kuat, Maha Kuasa, Maha Pengasih, atau Maha Penyayang seperti yang sering dibicarakan oleh manusia-manusia religius. Kapten Ahab justru berpendapat kalau Tuhan adalah asal muasal ketidakadilan.

Pantas kalau ketika awak kapal Pequod mengumpamakan Moby Dick sebagai makhluk suci, semangat Kapten Ahab untuk menuntaskan dendam pun semakin membara. Ia lalu menyiapkan seruit, membaptisnya dengan darah tiga orang kaum pagan sambil berseru,

“I do not baptize you in the name of Father, but in the name of the Devil.”

Lantas menyerang Moby Dick dengan penuh tenaga dan sumpah serapah.

Kemudian mati.

Sementara di sisi berlawanan, Tuan Melville menuliskan Ishmael sebagai alegori manusia-manusia apatis. Si pemuda Manhattan digambarkan layaknya stereotype manusia-manusia yang sudah antipati pada perdebatan eksistensi Tuhan. Ishmael tidak terlalu ambil pusing pada asal-usul alam semesta, menerima semua kejadian sebagai rencana Tuhan, bahkan menerima dengan senang hati kalau semua manusia pada hakikatnya adalah seorang budak.

“Who ain’t a slave?… However they may thump and punch me about…everybody else is one way or other served mucH the same way.”

Ishmael merupakan alegori yang tepat untuk melawan karakter Kapten Ahab. Ishmael cuek saja ketika Kapten Ahab menyatakan dunia adalah tempat yang kejam. Dia malahan santai saja dan menerima semua baik-buruk alam semesta layaknya sedang berjemur di tepi pantai. Dia cuma murni ingin mendapatkan pengalaman berburu ikan paus.

“To Ishmael, the whale’s indefinite whiteness, shadows forth the heartless voids and immensities of the universe, and thus stabs us from behind with the thought of annihilation. [It’s] a color-less, all color of atheism from which we shrink.”

Sebaliknya dari awak-awak kapal Pequod dan Kapten Ahab, ketika melihat ikan paus putih bernama Moby Dick, Ishmael justru mendeskripsikannya sebagai hampa. Ia melihat warna putih bukan hanya sebagai nihilnya warna, tapi juga hasil kombinasi dari semua warna.

Ishmael menganalogikan warna putih sebagai semua informasi atas perdebatan batinnya dengan Kapten Ahab tentang Tuhan. Dikombinasikan menjadi satu, lalu hampa, kosong. Tanpa arti.

Ishmael pun pada akhirnya menutup cerita dengan mengingatkan kalau manusia bersikeras menentang supremasi Tuhan, yang akan mereka dapatkan hanyalah bahaya, serta kematian. Lebih baik santai dan terima saja hukum alam.