Alien Baca Novel: The Catcher in the Rye oleh JD Salinger

2
[flickr.com] Ilustrasi asli oleh M. S. Corley (Will-50watts)

Mari melantur dan mengoceh tentang ‘The Catcher in the Rye’. Novel klasik karangan Tuan Jerome David Salinger yang dipublikasikan di tahun 1951. Salah satu cerita klasik yang sempat dilarang peredarannya oleh sekolah-sekolah di negeri Paman Sam. Karya tulis yang kata-katanya menjadi inspirasi Mark David Chapman sebelum menyudahi denyut jantung John Lennon.

Kenapa kami ingin bicara ‘The Catcher in the Rye’? Well, satu, tentu karena kami sudah membacanya, lalu dua, karena menurut kami ‘The Catcher in the Rye’ bukanlah literasi biasa. Membosankan, plin-plan, tapi super-duper-ultimate menarik.

Bingung? Ya… namanya juga sedang melantur

SPOILER ALERT, mari mengingat dulu kisah ‘The Catcher in the Rye’.

RINGKASAN

Holden Caulfield adalah pemuda 17 tahun dengan mulut tanpa kontrol yang selalu berbicara kasar seperti Ellie di serial permainan The Last of Us. Dia sedang dirawat di sebuah institusi karena mengidap penyakit yang cukup parah. Tuan Salinger tak pernah menjelaskan langsung apakah Holden dirawat karena masalah kejiwaan atau penyakit fisikal. Yang bisa dipastikan adalah banyak pembaca The Catcher In The Rye yang percaya kalau Holden sedang menderita PTSD.

Suatu hari Holden tengah bosan menjalani perawatan, lalu mulailah dia menulis, menceritakan salah satu pengalaman indah sebelum tubuhnya terjebak di gedung perawatan. Ya, benar, The Catcher In The Rye menceritakan seseorang yang sedang bercerita, cerita-ception. Sedehananya, mari anggap saja seperti membaca memoar.

Holden memulai memoarnya pada hari Sabtu sebelum libur natal tahun 1949(?), atau di hari terakhirnya menjadi siswa Pencey Prep School. Di hari itu ia baru saja diberitahu oleh kepala sekolah kalau akan dikeluarkan dari sekolah karena nilai-nilai pelajarannya buruk semua – kecuali subjek Bahasa Inggris.

Holden pun berniat pulang ke New York lebih awal, supaya ia bisa menghilang dan pergi dari orang tuanya di saat surat pemberitahuan sampai di rumahnya. Ia malu dan takut karena ini sudah keempat kalinya ia dikeluarkan dari sekolah. Ia lantas ingat agar berpamitan pada Tuan Spencer lebih dulu, satu-satunya guru yang ia sukai di Pencey Prep School. Namun ketika bertemu Tuan Spencer, ia justru merasa kesal karena Tuan Spencer terus-menerus menegur perilakunya yang selalu enggan mengejar nilai akademis.

Kembali ke asrama, ia semakin kesal karena harus bertemu Stradlater, teman sekamarnya yang sedang bersiap-siap pergi kencan dengan Jane Gallagher, gadis yang pernah ia kencani dan masih ia sukai. Holden dan Stradlater lalu sempat bertukar pukulan di saat Stradlater sudah kembali pulang dari acara kencannya. Kecewa, Holden pun segera pergi ke Manhattan meninggalkan Pencey Prep, tanpa memberi tahu orang tuanya. Ia akan menginap di hotel saja dengan bermodalkan uang pemberian neneknya dan topi berburu warna merah kesayangannya.

Di kereta, Holden membuka topi berburunya dan bertemu dengan seorang ibu dari salah satu murid Pencey Prep. Pada ibu itu ia bercerita kalau anaknya adalah murid yang dihormati, meski sebenarnya Holden justru membenci anak itu. Sampai di Penn Station, Holden tiba-tiba ingin menelepon sejumlah orang, tapi lalu ia batalkan. Ia lantas pergi ke Edmont Hotel, tempatnya menginap. Di dalam taksi, Holden bertanya kepada si supir taksi, kemana perginya angsa-angsa di taman kota di saat air danau membeku. Sayang, pertanyaan itu justru mengganggu ketenangan si supir taksi.

[speculatorny.com] Phony, phony, phony lempar Justin Bieber

Di Edmont Hotel, Holden lantas menelepon Faith Cavendish, seorang perempuan yang ia ingat adalah seorang stripper. Ia yakin kalau Faith bisa dirayu untuk berhubungan seks. Tapi karena hari sudah larut, Faith lalu menawarkan agar bertemu di hari esok saja, yang malahan ditolak mentah-mentah oleh Holden. Maka, birahinya pun gagal dilampiaskan.

Holden lalu turun ke Lavender Room untuk mabuk-mabukkan, tapi gagal, karena para pelayan tahu kalau ia masih di bawah umur. Ia kemudian pindah meja dan merayu sekelompok wanita usia 30 tahunan. Kali ini ia berhasil, bahkan sampai merasa suka pada salah satu wanita yang berambut pirang. Tapi setelah ia memberi tahu usianya, wanita-wanita itu justru pergi meninggalkan Holden, dan memintanya melunasi semua tagihan di atas meja makan.

Kembali lagi menyendiri, Holden pergi meninggalkan hotel, menuju salah satu klub jazz di Greenwich Village. Di dalam taksi, lagi-lagi ia bertanya perihal angsa di taman kota kepada si supir taksi. Sudah sampai di klub jazz, Holden duduk sendirian sambil mengamati para penjaga dengan rasa benci. Di sana ia sempat tanpa sengaja bertemu Lillian Simmons, wanita cantik dan seksi yang pernah dikencani D.B., saudara laki-lakinya.

Pulang ke hotel, Maurice, seorang elevator operator, menawarkan Holden wanita prostitusi seharga lima dollar. Holden segera setuju karena sebenarnya ia belum pernah berhubungan seks satu kali pun. Wanita muda bernama Sunny lantas tiba di kamarnya. Tapi di saat Sunny membuka pakaian, Holden justru merasa canggung. Ia pun enggan dan memaksa Sunny agar terus mengobrol saja. Ia juga beralasan baru menjalani operasi tulang punggung, sehingga tidak bisa berhubungan seks – semacam Gordon Levitt saja. Setelah bersedia membayar 5 dollar, Holden mengantarkan Sunny keluar dari kamarnya. Beberapa menit berlalu, tiba-tiba Sunny datang lagi bersama Maurice yang lantas meninju wajahnya dan memaksa agar membayar 5 dollar lagi.

Di hari minggu, Holden bangun pada pukul 10 pagi, dan lalu menelepon Sally Hayes, gadis cantik yang juga pernah ia kencani. Ia dan Sally pun menyusun janji menonton pertunjukkan Broadway. Holden kemudian sarapan di sebuah bar sandwidch sambil mengobrol dengan dua orang biarawati. Selesai mengobrol, ia memberi 10 dollar pada kedua biarawati itu. – Mungkin dia masih trauma pada Maurice.

Sambil menunggu janji bertemu Sally, Holden mencoba menelepon Jane Gallagher lagi, tapi hanya dijawab oleh ibunya. Ia lantas pergi ke taman kota agar bisa bertemu dengan Phoebe, adik perempuannya yang masih berusia 10 tahun dan memang biasa bermain di sana. Tiba di taman kota, ia tidak menemukan Phoebe. Ia justru bertemu teman adiknya yang memberi tahu kalau Phoebe sedang ada di museum. Ia pun bergegas ke sana, namun ketika sudah sampai muka museum, Holden justru berbalik ke Baltimore untuk menemui Sally.

Holden lanjut menemui Sally, dan mereka bermain ice-skating lebih dulu sebelum menonton Broadway. Karena tidak begitu terampil, mereka berdua lebih banyak duduk-duduk saja. Holden kemudian mencuri celah bercerita mengapa ia tidak bahagia di sekolah, serta mengajak Sally agar ikut pergi ke Massachusetts atau Vermont untuk mengasingkan diri dan tinggal di kabin. Sally menolak keras ajakan itu, dan dibalas oleh Holden dengan menyebut Sally “pain in the ass”. Sally pun pergi meninggalkan Holden dan tidak jadi menonton pertunjukkan Broadway.

Holden lagi-lagi mencoba menelepon Jane, tetapi tetap tidak ada jawaban. Ia lantas kembali pergi mabuk-mabukan dengan Carl Luce, salah satu temannya di sekolah lama sebelum Pencey Prep. Seperti Sally, Carl Luce pada ujungnya juga pergi meninggalkan Holden sendirian. Namun kali ini karena Holden tidak henti-hentinya menyinggung homoseksual dan kekasih Carl yang seorang etnis China.

Mabuk sendiri, Holden pergi ke taman kota untuk melihat danau tempatnya biasa menonton angsa di saat masih anak-anak. Cukup lama ia bisa menemukan danau itu, tapi di saat sudah menemukannya, ia justru sudah merasa kedinginan. Holden lalu memutuskan pulang ke rumah orang tuanya agar dapat bertemu Phoebe. Sebelumnya, ia memakai kembali topi-berburu-warna-merah-kesayangannya, tapi bukan karena ancaman udara dingin, melainkan karena ia yakin sudah tak ada orang lain lagi yang akan melihat penampilan bodohnya ketika memakai topi kesayangannya itu.

Karena orang tuanya sedang pergi pacaran, Holden bebas masuk ke dalam rumah dengan santai. Ia lantas membuka pintu kamar adiknya dan segera membangunkannya. Setelah terkaget-kaget lebih dulu, Phoebe kemudian memaksa Holden supaya mengaku kalau lagi-lagi ia dikeluarkan dari sekolah.

Setelah mengaku, Phoebe justru marah besar. Ia juga menuduh Holden sebagai orang yang anti-segalanya. Lalu ketika ditanya bagaimana rencana masa depannya, Holden lantas bercerita pada Phoebe tentang fantasinya sebagai “the catcher in the rye,” seseorang yang menjaga anak-anak agar tidak jatuh ke dalam jurang ketika bermain di ladang gandum – roll credit.

[stl-ilustrator.com oleh “William Marchant“] Ilustrasi si penangkap anak. Ah, malah jadi semacam pedofil.

Ketika orang tuanya pulang, Holden segera mengendap-endap kabur, dan memberi Phoebe topi merah kesayangannya sebagai hadiah. Ia lalu pergi ke rumah Tuan Antolini, guru Bahasa Inggrisnya di Pencey Prep. Tuan Antolini kemudian memberi Holden tempat menginap di sofa ruang tamunya. Beberapa jam tertidur, Holden tiba-tiba terbangun, dan menyadari Tuan Antolini sedang membelai-belai rambutnya. Takut dan mengira Tuan Antolini sedang memberi gestur homoseksual, Holden mempersilakan dirinya segera pergi dari rumah Tuan Antolini.

Keesokannya, pada hari Senin, Holden pergi ke sekolah Phoebe. Ia mengirimkan pesan kalau ia akan pergi dari rumah selamanya. Ia juga meminta untuk bertemu di museum pada saat jam makan siang, supaya ia dapat mengucapkan pisah lebih dulu. Saat Phoebe tiba, Holden terkaget-kaget, karena adiknya itu datang sambil membawa koper yang penuh oleh pakaian. Phoebe ternyata memaksa untuk ikut pergi dari rumah. Holden menolak mentah-mentah permintaan adiknya, dan juga memarahinya. Phoebe lantas jadi kecewa dan menangis keras. Holden pun terpaksa minta maaf.

Tahu kalau Phoebe pasti akan terus mengikutinya, Holden kemudian mengajak Phoebe pergi ke kebun binatang dan bermain komedi putar. Ia membeli satu tiket, memberikannya pada Phoebe, lalu menonton adik kecilnya itu berputar-putar di komedi putar.

Melihat Phoebe sudah senang lagi, Holden lantas ikut senang juga. Saking senangnya sampai hujan turun menyembunyikan tangis yang menetes dari matanya. Merasa pusing di kepala, Phoebe pun turun dari komedi putar dan mengembalikan topi-berburu-warna-merah-kesayangan-Holden pada Holden, dengan alasan supaya kepala sang kakak tidak basah.

[deviantart.com oleh ‘ghostyheart] Holden dan Phoebe. Bukan, bukan Phoebe Buffay.

Holden lalu menghentikan memoarnya pada titik ini. Dia tidak menjelaskan bagaimana dia bisa kembali pulang dan menjadi pasien di sebuah institusi perawatan. Holden cuma mengatakan kalau ia akan segera kembali sekolah pada musim gugur nanti.

Cerita yang super-duper-menarik ‘kan?

Sekarang biarkan kami menggali harta karun di balik The Catcher In The Rye.

ALIENASI

Alienasi adalah emas di balik memoar si Holden Caulfield, kepingan berharga di balik keluh kesah si remaja bertopi-pemburu-berwarna-merah. Maksud kami bukan berubah menjadi alien, tetapi menjadi makhluk yang asing.

[Universal Pictures] Alien favorit kita semua.

Plin-plan? Sudah kami ingatkan dari awal, humani.

Anyway, meski nilai-nilai akademisnya hancur lebur semua, meski sering dikeluarkan dari sekolah, Holden bukanlah manusia dengan daya pikir yang rendah. Tuan Salinger justru menggambarkan Holden sebagai remaja dengan daya pikir yang mendaki bintang-bintang di angkasa. “Tinggi… tinggi… sekali. Naik… naik,” sampai jadi imajinatif, sampai jadi di luar kultur biasa umat manusia.

Kenapa kami sebut ‘di luar kultur biasa umat manusia’?

Karena Holden cinta anak-anak.

Wait, semua manusia juga cinta anak-anak.

Maksud kami bukan sekadar cinta. Tapi cinta mati, terobsesi, kecanduan, maniak.

Pedofil?

F**k NO!

Holden Caulfield adalah manusia yang sangat menghormati anak-anak. Dia mencintai bagaimana tingkah laku anak-anak menjalani hari-harinya. Dia begitu terpesona melihat anak-anak yang selalu tampak lebih autentik daripada manusia-manusia dewasa. Begitu dalam ia terpesona, sampai enggan menjadi manusia dewasa.

Ini kenapa kalau kalian membaca ‘The Catcher in the Rye’, kalian akan terus menyaksikan bagaimana Holden membenci semua hal tentang manusia dewasa. Ia geram ketika bercerita tentang kakak laki-lakinya, D.B., yang ia sebut sebagai pelacur karena bekerja sebagai penulis di Hollywood; ia juga malas bercerita tentang orang tuanya, karena menurutnya ayah dan ibunya mudah sekali tersinggung; ia pun terlihat gusar di saat bercerita tentang Carl Luce, teman sekolahnya sebelum di Pencey Prep, yang sudah menjadi mahasiswa; dan ia begitu semangat ketika menyindir penjaga-penjaga klub jazz di Greenwich Village.

Holden Caulfield menilai kalau hari-hari manusia dewasa selalu dihiasi dengan pura-pura-sandiwara. Bagi Holden, tumbuh menjadi manusia dewasa serupa saja dengan menjadi artifisial. – Ah, maaf, maksud kami menjadi palsu, tidak autentik. Seperti berpura-pura tidak tersinggung pada sebaris canda yang sebenarnya dirasa ofensif, berpura-pura tertawa pada lelucon atasan yang sebenarnya sama sekali tak mengundang lucu, berpura-pura tertawa biarpun dalam hati sedang menggerutu kesal tingkat tinggi, atau berpura-pura kasar padahal berjiwa selembut kain sutra.

Tapi sayang, Holden bukanlah Dewa Brahma, Holden cuma manusia yang jauh dari kata ideal. Biar benci pada pura-pura-sandiwara si manusia dewasa, Holden nyatanya tetap saja ikutan-ikutan bertingkah sama. Ia berlagak garang dengan terus mengucap kata kasar, padahal hatinya lembut seperti salju. Holden tanpa henti bertanya bagaimana nasib angsa-angsa di taman kota di saat air danau tempat mereka biasa berenang jadi beku. Holden juga berpura-pura legowo di saat temannya, Stradlater, pergi kencan dengan Jane Gallagher, yang pada akhirnya berujung pada baku hantam ketika Stradlater sudah pulang kembali dari acara kencan. Holden pun selalu memakai topi-berburu-favoritnya hanya di saat tidak ada orang lain melihatnya, karena enggan dikatakan berpenampilan seperti anak-anak.

Benar, Holden ikut berpura-pura, yang membedakan hanyalah Holden bukan aktor kelas atas.

“I’m the most terrific liar you ever saw in your life. It’s awful.”

Masalah yang kemudian menjadikan Holden sebagai karakter plin-plan tapi menarik.

He tried to find the stability and acceptance in a broken society full of people that always be fakin’… but he failed. He tried to build a connection with people, by his authenticity… but he failed.

Miserably.

Dia gagal berkepanjangan dengan Tuan Spencer, Stradlater, Maurice, Sunny, Sally, dan Tuan Antolini.

Kegagalan yang kemudian mempertegas kecintaan Holden pada anak-anak. Dia pun menerima fantasinya sebagai “The Catcher in the Rye,” orang yang menjaga anak-anak agar tidak jatuh ke dalam jurang ketika sedang asyik bermain. Yang maksud sebenarnya bukan jurang secara harfiah, tapi mengibaratkan si jurang sebagai lubang gelap bernama “Adulthood.”

Obsesi berlebihan inilah yang juga lantas menjadi alasannya di saat berbicara panjang lebar, memuji kubus-kubus kaca di dalam museum. Dia tidak sedang mengagumi keindahan benda yang dipajang, ia sedang terpincut oleh kemampuan kubus-kubus kaca itu membekukan waktu. Menjaga benda-benda yang dipajang di dalamnya tetap sama, meski waktu terus berjalan tanpa henti.

“Certain things, they should stay the way they are. You ought to be able to stick them in one of those big glass cases and just leave them alone.”

Imajinatif yang berujung alienasi.

Dan Phoebe adalah satu-satunya manusia yang mampu menjaga Holden agar kembali pada realitas, sebab Phoebe adalah anak-anak. Satu-satunya jenis manusia yang dapat mempengaruhi Holden supaya tak menjauh dari tuntutan menjadi manusia dewasa, supaya tak jadi pergi mengasingkan diri, supaya tak jadi pergi ke Vermont atau Massachusetts, supaya tak jadi pergi dan tinggal di dalam kabin.

Tapi pergi dan tinggal di institusi mental saja.

Damn…

Well, people, itulah ‘The Catcher in the Rye’ karangan Tuan J.D. Salinger.

Kenapa bisa jadi inspirasi pembunuh?

Tanya pembunuhnya saja, jangan tanya kami. Kami cuma mau jadi pembunuh kalau ada yang memaksa kami membicarakan ‘Twilight Saga’.