Menilik Jalan Pikiran Pembunuh Lewat Catcher In The Rye

0

“Orang jenius memang hampir tidak ada bedanya dengan orang gila”

Kira-kira inilah yang seketika tersirat di kepala saya usai menamatkan Novel legendaris Catcher In The Rye karya J.D Salinger.

Catcher In The Rye mengilhami Axl Rose, pelantang nomor Sweet Child O’ Mine ini, dalam menciptakan lagu bertajuk Catcher In The Rye dalam album Chinese Democrachy beberapa tahun lalu. Tidak hanya Axl Rose, tak kurang dari 10 musisi dan band lain juga tercatat memiliki karya musik yang terinspirasi dari novel kelam tersebut, mulai dari band Punk Rock Greenday dengan single “Who Wrote Holden Caulfield” sampai dengan band beraliran Emo The Ataris dengan singlenya yang berjudul “If You Really Want To Hear About It” .

Photo Credit: Koleksi Pribadi

Adalah Holden Caulfield, bocah berumur 17 tahun yang menjadi tokoh utama. Sepanjang halaman demi halaman, kita akan disuguhkan dengan cerita perjalanan remaja tersebut melintasi hidup paska didepak dari sekolah menengah untuk kesekian kalinya.

Selain gaya bertutur dalam novel yang penuh sekali dengan kata dan kalimat kasar, pengulangan kalimat dan narasi dari sang tokoh utama juga sukses memperkuat karakter dalam batin pembaca tentang sosok Holden yang kelam dan getir.

Novel-novel Holden adalah perpaduan arogansi dan kelembutan hati. Ia kerap mengkritik gaya hidup kelas atas Amerika yang penuh kepalsuan dan kemunafikan demi mempertahankan kekuasaan dan uang.

Mengenai tema, novel ini benar-benar penuh kegelapan, kegamangan dan kemuraman, dan barangkali itu juga yang menyebabkan novel ini menjadi karya favorit para pembunuh. Mark Chapman, pelaku penembakan musisi John Lennon membawa ikut serta buku novel ini saat melakukan pembunuhan pada tahun 1980. Begitu pula Robert John Bardo, yang membawa novel ini kala membunuh aktris Rebbeca Schaeffer di tahun 1989.

Meski di dalam novel sama sekali tidak ada rujuan untuk melakukan pembunuhan, apalagi memberikan tutor atau ilham kepada pembaca untuk melakukan tindakan kriminal, tapi toh tetap saja buku ini yang disalahkan oleh banyak kalangan, bahkan sampai sempat dilarang peredarannya di Amerika. Namun bukankah semestinya, benda mati tidak pernah salah?