Eka Kurniawan: Novel-Novel Indonesia Kelas Dunia

0
[Ilustrasi oleh Khusna Thutut]

“Menyenangkan bahwa setelah setengah abad berlalu, Pramoedya Ananta Toer telah menemukan penggantinya,” begitulah pujian Benedict Anderson kepada Eka Kurniawan.

Sungguh, julukan yang tepat sasaran. Eka Kurniawan, dia adalah penulis kelas dunia.

Novel pertamanya, ‘Cantik Itu Luka’ mendapatkan penghargaan World Readers Awards pada tahun 2016 yang lalu. Telah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa, termasuk bahasa Ibrani, Jerman, Taiwan, dan Polandia.

Baca juga: Rayssa Dynta – Mencari Jati Diri Lewat ‘Prolog’

Pada tahun yang sama juga, novel keduanya, ‘Lelaki Harimau‘, berhasil membawanya berdiri sejajar dengan penulis-penulis kelas dunia lainnya, seperti Orhan Pamuk dari Turki dan Han Kang dari Korea Selatan.

Pun ‘Man Tiger’, terjemahan dari ‘Lelaki Harimau’, turut serta masuk ke dalam nominasi Man Booker Prize Tahun 2016. Satu ajang penghargaan dunia prosa yang didaulat satu tingkat di bawah penghargaan Nobel.

Wajar kalau kemudian banyak manusia yang mengulas buah pikiran Eka Kurniawan, baik dari negerinya sendiri, Indonesia, atau dari negeri-negeri lainnya di dunia.

Susah memilih diksi yang tepat untuk menggambarkan keindahan karya-karya Eka Kurniawan. Penuh makna, sarat pesan, mengundang renung, meski punya kesan cabul. Eka memang juga suka mengeksploitasi seksualitas, tapi caranya elegan. Pilihan katanya kontekstual dan sesuai porsi.

Nanti, coba saja sendiri, kalian baca novel-novel kelas dunia dari Eka Kurniawan.

CANTIK ITU LUKA

Paragraf pembuka ‘Cantik Itu Luka’ saja sudah memaksa jantung berdegup kencang, “Sore hari di akhir bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian.”

Cerita utamanya adalah tentang perempuan yang menjadi pelacur pada zaman kolonial, bernama Dewi Ayu, berparas cantik. Ia kemudian melahirkan tiga anak perempuan yang juga tak kalah cantik darinya. Ketiganya pun menempuh jalan hidup yang sama, objek pemuas birahi.

Pada kehamilan yang keempat, Dewi Ayu kehilangan akal sehat dan kesabaran. Ia mencoba bunuh diri. Ia berusaha menghabisi nyawa si jabang bayi. Tapi bayi itu rupanya pejuang. Yang bisa dilakukan Dewi Ayu lantas hanya berdoa agar bayi itu laki-laki atau berparas buruk rupa.

[Althesia]

Begiulah cara Eka Kurniawan mengkritik perlakuan yang dialami oleh umat perempuan di masa kolonial. Mempertanyakan peran perempuan yang sesungguhnya, yang tentu masih cukup relevan di masa sekarang.

Rangkai cerita kehidupan Dewu Ayu ia balut dengan kisah tragis kejamnya dunia politik, mistis khas Indonesia, amarah bercampur romantisme cinta, dan perihnya tragedi berdarah 1965.

LELAKI HARIMAU

Meski namanya sudah mendunia lewat ‘Cantik Itu Luka’, debut Eka Kurniawan bertambah nyata dengan kehadiran novel kedua, ‘Lelaki Harimau’, yang juga masuk ke dalam 13 nominasi Man Booker Prize, pada dua tahun lalu.

Membaca ‘Lelaki Harimau’ ibarat menggambar sebuah lingkaran. Bermula dari satu titik awal, lalu berjalan menarik garis menuju titik akhir yang berhingga pada titik awal kembali. Membentuk lingkaran.

Eka memulai ‘Lelaki Harimau’ dengan, “Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, […]” Lalu dia tutup dengan, “Itulah kala harimau di dalam tubuhnya keluar. Putih serupa angsa.”

[Eka Kurniawan]

Margio membunuh Anwar Sadat. Margio mengaku bukan dia pembunuhnya, tapi harimau dalam dirinya. Yang benar saja!

Tapi lagi-lagi, begitulah Eka, menyajikan cerita tentag sifat-sifat buas bagai binatang di dalam jiwa seorang manusia.

SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS

Dari seluruh novel yang pernah dirilis oleh Eka Kurniawan, ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ adalah yang paling berbeda cara penuturannya. Punya paragraf pendek-pendek dan ada bab-bab kecil. Ibarat tupai, lompat ke sana, lompat kemari, tapi semua terhubung dengan kuat.

Eka memang memiliki bakat spesial ketika membuka cerita. Gumpalan kisah dalam novel ini ia buka dengan “Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati,” kata Iwan Angsa sekali waktu perihal Ajo Kawir.

Tidak begitu panjang. Hanya 252 halaman. Seorang pria yang memiliki kelainan pada alat kelaminnya setelah kepergok mengintip dua orang polisi sedang memperkosa seorang perempuan gila, pada suatu malam di sebuah rumah.

Begitu cerita utamanya.

[Eka Kurniawan]

Banyak orang, yang sudah membaca, mengatakan ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ adalah novel brutal. Eka, lebih memilih kata-kata kasar, seperti kuntul, memek, lonte, dan lainnya. Tapi tentu dalam porsi yang pas dan kontekstual, bukan sekadar belagak nakal atau jagoan.

Eka pernah menjawab ketika ditanya soal diksi-diksinya tersebut, “Saya tak mau membunuh kata-kata,” ujarnya. Jelas, ia punya alasan kuat untuk setiap kata nyeleneh yang ia pakai.

O

Sementara ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ berbeda dari segi bahasa, ‘O’ memiliki warna yang berbeda pada karakter yang dipilih Eka Kurniawan pada biasanya. Ceritanya fabel, meski bukan sepenuhnya – Eka seperti menunjukkan kalau dia juga punya kemampuan menulis dari berbagai sudut pandang.

‘O’ menghadirkan banyak interpretasi dari para pembacanya. Ada yang percaya kalau tokoh dalam novel sedang jatuh cinta pada Rhoma Irama. Ada juga yang menyebutkan si tokoh ingin menjelma serupa Rhoma Irama. Ada pula yang bilang si tokoh ingin menikahi Rhoma Irama.

Yang menarik, si tokoh adalah seekor monyet.

Eka lagi-lagi bermain dengan puzzle sarat makna. Bercanda dengan metafora demi menelanjangi sifat manusia dari sudut pandang monyet, anjing, dan burung kakak tua.

Si anjing hadir dengan kerisauan hidup, namun ada manusia yang begitu mencintainya. Tapi ada juga yang memeliharanya untuk dimakan, dan ada pula yang membencinya. Tergantung di tangan manusia lah seperti apa mereka akan hidup.

Bisa jadi ‘O’ adalah upaya kritis Eka pada manusia yang mesti sadar bahwa anjing juga punya motivasi hidup lainnya. Bukan ingin dibantai saja.

[Eka Kurniawan]

Begitulah Eka Kurniawan, si pencerita dari negeri Indonesia. Gemar melafalkan rasa yang muncul ketika berjuang sungguh-sungguh menemukan cinta, menahan amarah pada soal-soal politik, hingga berdecak kagum pada sifat-sifat binatang.