The Old Man and The Sea: Umat Pria dan Ambisi Mereka

2
The Old Man and the Sea novel
[santiagocasares.com]

Mari bicara tentang The Old Man and The Sea, tulisan klasik karya Tuan Ernest Hemingway. Novelis yang selalu diproyeksikan oleh Hollywood sebagai laki-laki dengan tingkat maskulin dan karisma di atas rata-rata, sebab karya-karyanya selalu mengambil tema petualangan, perang, cinta, atau alam liar. Salah satunya, tentu, kisah Santiago, sang nelayan tua dari tepian pantai Cuba. Coba saja baca sendiri.

Malas baca?

Beruntung kami singgah di Bumi. Kalian tak perlu lagi membaca ratusan halaman untuk terlihat kutu buku yang mengenal dan memahami banyak literatur klasik.

Biarkan kami menjadi relawan untuk tipu muslihat kalian di depan pasangan.

[SPOILER ALERT], mari singgah pada narasi singkatnya terlebih dahulu.

Baca juga The Catcher in the Rye: Cinta Anak-Anak

RINGKAS CERITA

Di salah satu pesisir pantai Cuba, dekat Havana, hiduplah Santiago, seorang nelayan tua yang sedang sial berkepanjangan karena sudah 84 hari lamanya gagal mendapatkan ikan satu ekor pun. Hari-harinya semakin bertambah muram ketika Manolin, teman baik sekaligus pemuda yang sedang magang menjadi nelayan, memberi kabar kalau ia tak lagi diijinkan oleh orang tuanya untuk pergi melaut dengan Santiago. Orang tua Manolin menilai kalau Santiago sudah terlalu tua dan pantas untuk pensiun saja dari dunia mancing-memancing. Orang tua Manolin pun menyuruh Manolin agar pergi berlayar dengan nelayan lain yang lebih muda dan sering mendapatkan ikan.

Tapi Manolin sudah jatuh cinta terlalu dalam pada Santiago, ia tetap saja sering singgah ke gubuk Santiago. Membantu si pria tua menyiapkan alat-alatnya, menyiapkan makanan, juga mengobrol tentang Joe DiMaggio, pemain baseball favoritnya.

Suatu hari, Santiago memberi tahu Manolin kalau ia akan pergi jauh menuju arus teluk, di dekat Selat Florida, dan yakin kalau kesialannya akan berakhir di sana. Manolin sendiri hanya bisa memberi doa dan semangat dari tepi pantai, enggan ikut melaut, karena takut melanggar pesan orang tuanya.

Di hari ke-85 melaut, Santiago segera membawa semangatnya menuju arus teluk, lalu menunggu sampai siang hari ketika umpannya berhasil menjebak seekor ikan marlin berukuran besar. Besar, besar sekali, sampai-sampai Santiago dan perahu kecilnya justru tertarik jauh ke tengah laut.

Meski sudah meninggalkan zona aman memancing, Santiago yang sudah begitu muak dengan sial, tak mau sedikit pun mengendurkan tali pancingnya. Malahan, Santiago semakin bersemangat menyambut perlawanan si ikan marlin di laut lepas. Ia bahkan beberapa kali menyebut si ikan marlin sebagai saudara dan ikan yang tak pantas dikonsumsi oleh siapa pun karena martabat besarnya.

Setelah tiga hari dua malam bertarung sengit, melewati luka, melewati perih, serta melewati dahaga, Santiago akhirnya berhasil menangkap ikan marlin itu dengan bantuan seruit.

Santiago kemudian mengikat si ikan marlin di tepi perahu dan berlayar pulang bersama senyum senang. Di perjalanannya kembali ke pantai, luka si ikan marlin karena lemparan seruit ternyata menyisakan aliran darah yang menarik perhatian ikan-ikan hiu. Jadilah di sepanjang perjalanan pulang Santiago harus sigap menjaga hasil tangkapannya dari serbuan ikan-ikan hiu ganas.

Santiago sempat berhasil membunuh salah satu ikan hiu dengan lemparan seruitnya, namun harus merelakan senjata andalannya itu lepas ke lautan. Ia lantas menggunakan pisau yang terikat di ujung dayung sebagai pengganti seruit, tapi jumlah ikan hiu yang menyerang terus bertambah satu demi satu menjadi banyak. Di malam hari, ikan marlin tangkapannya segera berubah menjadi tulang-tulang saja.

Melihat tulang-tulang si ikan marlin, Santiago menerima kesialan dan kekalahannya lagi pada lautan, tapi tidak pada saat ia berhasil menangkap si ikan marlin. Maka ia pun berteriak marah pada ikan-ikan hiu yang telah membunuh mimpinya.

Perahu kecil Santiago kemudian tiba kembali di pesisir pada hari selanjutnya, di saat subuh sebelum hari menjelang. Ia lalu pulang membawa luka serta letih ke dalam gubuknya. Membiarkan perahu serta tulang-tulang si ikan marlin dibasahai deburan ombak tepi pantai. Sampai di atas tempat tidur, Santiago langsung tertidur pulas.

Sementara itu, pada saat matahari sudah muncul, sekelompok nelayan menemukan perahu Santiago dan tulang-tulang ikan marlin berukuran besar yang masih terikat pada pinggirannya. Saking besarnya, sampai ada yang mengira kalau Santiago berhasil menangkap ikan hiu. Salah satu dari mereka ada yang sempat mengukur kalau panjang tulang-tulang itu mencapai 5.5 meter dari ujung kepala sampai ekor. Salah satu dari mereka ada juga yang segera memberitakan penemuan itu pada Manolin.

Manolin lantas menyambangi gubuk Santiago dan menangis sejadi-jadinya ketika menemukan Santiago tertidur pulas dengan tangan penuh luka. Manolin segera membawakan kopi, makanan, dan koran untuk Santiago, dan di saat nelayan tua itu terbangun, Manolin berjanji untuk pergi melaut bersama-sama lagi. Sesudah itu, Santiago kembali tidur istirahat, namun kali ini dia memimpikan sekumpulan singa di pesisir pantai Afrika.

PRIA dan AMBISI

Nyata dan kentara sekali.

The Old Man and The Sea adalah fiksi terbaik untuk melukiskan pria dan ambisi. Lebih tepatnya, pria memang suka sekali tak peduli pada luka, sakit, bodoh, konyol, atau berbahaya kalau sudah memasangkan mata pada ambisi.

Yang menarik, pada kisah Santiago, ambisi si nelayan tua bukan cuma untuk mendapat rezeki menukar ikan dengan lembaran uang, tapi lebih untuk menyombongkan diri. Menunjukkan kalau dirinya masih punya daya saing, biar usianya sudah senja.

Tuan Hemingway memang sudah biasa menuliskan tema-tema yang menyerempet kepriaan atau kejantanan. Jika membaca tulisan-tulisannya, akan sering sekali ada dua karakter utama yang sejenis. Pertama, ada pemuda biasa yang suka hari-harinya berjalan biasa saja, tepat sesuai batasan umum, seperti Manolin. Kedua, ada pria dewasa yang sering menantang aturan umum, menantang batas di luar normalitas, seperti Santiago.

Santiago mencoba menantang standar aturan umum di pantai Cuba dengan pergi ke arus teluk, zona yang berbahaya untuk memancing. Dia pergi memancing jauh melewati batas, jauh daripada jarak yang pernah dicoba oleh nelayan-nelayan lainnya di pantai Cuba. Tak cuma itu, Santiago pun semacam mengacungkan jari tengah pada aturan umum di saat ia semakin mendekatkan dirinya pada lautan.

“Most people were heartless about turtles because a turtle’s heart will beat for hours after it has been cut up and butchered. But the old man thought, I have such a heart too and my feet and hands are like theirs.”

Santiago berinteraksi dengan binatang layaknya manusia dengan manusia. Malahan, Santiago sampai menyebut si ikan marlin sebagai saudara laki-lakinya, juga menyebut si ikan marlin punya martabat tinggi setelah perlawanan sengitnya di lautan.

Meski begitu, tetap saja, Santiago adalah nelayan.

“Come on and kill me. I do not care who kills who. Now you are getting confused in the head,” he thought. “You must keep your head clear. Keep your head clear and know how to suffer like a man. Or a fish.”

Ikan marlin pada The Old Man and The Sea pun dapat dinilai sebagai proyeksi Tuan Hemmingway terhadap Yesus. Menurut beberapa umat Kristen, hidup di planet Bumi bisa punya arti karena pengorbanan dan rasa sakit Yesus untuk umat manusia.

Sementara menurut Santiago?

Tak ada bedanya. Hidup si nelayan tua bisa punya arti karena daya juang si ikan marlin yang melawan sakit, lalu mengorbankan nyawa untuk kehidupan Santiago selanjutnya. Lalu Santiago juga ikut-ikut merepresantasikan Yesus sebab ikut merasakan sakit dan mempertaruhkan nyawa di saat melawan serbuan ikan-ikan hiu.

“He slept face down on the newspapers with his arms straighT out and the palms of his hands up.”

Kembali pada pria dan ambisi. Meski tulisan fiksi, Tuan Hemigway bukanlah manusia klise. Santiago boleh saja melewati segala macam jenis rintangan ini-itu untuk mencapai ambisinya mendapatkan ikan, tapi pada akhirnya tetaplah ia gagal juga. Pulang ke pantai dengan tulang-belulang saja. Sebab pada realitanya, memanglah begitu, biarpun manusia sudah berhasil menghadapi tantangan berat, tak selamanya akan berarti dapat akhir yang bahagia.

Sebab menurut Hemmingway, yang terpenting adalah perjuangan sampai nafas terakhir. “A man can be destroyed, but not defeated,” begitulah pesna Santiago.