Okky Madasari: Lima Novel Untuk Kalian yang Mengaku Kritis!

1

“Seluruh hidupku adalah perangkap. Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orangtuaku, lalu semua orang yang kukenal.”

Novel-novel Okky Madasari memang sarat makna. Sarat akan kritik sosial. Untuk pemerintah, untuk budaya, dan untuk diri sendiri. Okky, melalui novelnya selalu mengajak pembaca untuk merenung, “Apakah benar yang lazim selalu layak dipertahankan?”

Baca saja novel pertamanya, ‘Entrok’. Cerita yang ia suguhkan adalah tentang kehidupan seorang perempuan pada zaman Orde Baru. Ini sangat menarik. Ia mengisahkan seorang perempuan yang tak punya pendidikan yang lalu menjadi kaya raya, dan kemudian jatuh miskin kembali.

Bagaimana ia menabrak budaya patriarki dengan halus – perempuan menjadi tukang angkut barang untuk membeli pakaian dalam. Ia pun mengajak pembaca merenung tentang Tuhan dan agama.

Benarkah orang yang mengaku beragama, baik menghakimi? Apa tujuan hidup sebenarnya? Dan tentu ia utarakan betul bagaimana penindasan dan pengekangan bagi siapa saja yang mencoba vokal di masa keotoriteran pemerintah saat itu. Tergambar jelas.

‘Entrok’ telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, berjudul ‘The Years Of The Voiceless’.

Entrok
The Years of the Voiceless

Beranjak ke ‘Maryam’. Novel yang menggaungkan nama Okky pada tahun 2012. Ia menjadi penulis dengan usia termuda (28 tahun) yang menerima penghargaan Literary Awards.

Kisah di dalam ‘Maryam’ memang mengharukan. Bagaimana kehidupan sosial bisa berubah sampai 180 derajat hanya karena agama. Tetangga menjadi musuh, teman dekat menjadi lawan, hanya karena berbeda. Padahal, siapa juga yang menciptakan perbedaan?

Lewat ‘Maryam’, Okky mengajak para pembacanya agar sungguh-sungguh memahami bagaimana umat Ahmadiyah di Lombok diusir dari tanah nenek moyangnya, oleh tetangga-tetangganya, oleh kepentingan sekelompok orang. Politisasi agama tak terpisahkan dari peristiwa ini.

Rangkaian kisah itu ia urai dengan kisah cinta dari tokoh utama. Tentang jatuh cinta dan birahi. Perceraian dan jatuh cinta lagi. Cerita ini pun tak kalah kaya dibandingkan dengan novel-novel Okky Madasari lainnya.

Pasung Jiwa
Pasung Jiwa

Kembali ke ‘Pasung Jiwa’. Inilah karya Okky Madasari yang paling kaya. Banyak sisi kehidupan yang ia sematkan. Seperti apa kelaziman dalam masyarakat memasung jiwa seorang manusia.

Sasana nama tokohnya. Laki-laki berdandan bak perempuan. Jago bergoyang dangdut dan disukai banyak orang. Tapi apakah laki-laki lazim begitu? Kebiasaan menolaknya.

Tapi ia ingin menjadi manusia seutuhnya. Ia dengan pribadinya.

Apa daya, dunia yang telah hidup dalam kelaziman tak mudah menerima mereka yang berbeda. Salahkah kita, seorang manusia, apabila menikmati hidup tanpa mengganggu kepentingan orang lain? Okky sungguh mengajak para pembaca merenung.

Novel Okky Madasari
86

Lalu ada cerita yang tak kalah menariknya, ‘86′, tentang budaya “siap bos” dan korupsi. Kita, Indonesia, memang jagonya. Bacalah, terpampang jelas bagaimana sandiwara sandiwara sempurna terjadi di tengah birokrasi dan pemerintahan, pengadilan, dan sebagainya. Apik.

Cerita ini pun tak kalah kaya. Dua wanita saling memuaskan birahi di dalam penjara. Satu wanita malah punya suami dan sedang hamil. Lazimkah? Baca saja, tapi dengan pikiran terbuka ya. Kamu juga akan tahu bagaimana narkoba jauh lebih aman dikendalikan dari bilik penjara.

Okky Madasary
Kerumunan Terakhir

Yang terakhir adalah ‘Kerumunan Terakhir’ yang dirilis pada tahun 2016. Bercerita tentang kegagapan manusia di zaman digital. Ia menumpahkan kerisauannya akan perubahan pola interaksi dari tahun 90-an hingga sekarang.

Okky seakan-akan ingin menyampaikan pesan kalau di tengah tsunami teknologi, apakah kita, manusia, akan menjadi penguasa atau babu?

Kawan, sungguh kurang lengkap perjalanan literasimu kalau belum membaca karya-karya dari Okky Madasari. Apalagi kalau kamu mengaku kritis dan cinta tanda tanya. Buah pikir Okky Madasari adalah bahan yang wajib masuk ke alam pikirmu.